aaaaaaa

Transcription

Mitigasi Bencana Gunung Meletus1. Aktifitas Gunung Api di IndonesiaGunung api sejak dulu dipertimbangkan sebagai titik keluarya magma ke permukaanbumi. Produknya secara umum adalah gas, magma dan piroklastik. Sebuah gunung apidianggap aktif jika periode yang memisahkan kita dari letusan terakhir yang diketahui kurangdari rata-rata periode antara erupsi masa lalu yang berbeda.Letusan gunung berapi dapat diklasifikasi menurut parameter yang berbeda yangmendefinisikan bahaya, Yaitu magnitude, frekuensi, durasi dan ekstensi spasial. Magninutodicirikan oleh indek letusan vulkanis (Vulcanic Explosivity Index, VEI). Skala VEI berkisarantara 0 hingga 8. VEI diukur berdasarkan 2 parameter utama : Volume material yangdikeluarkan dan ketinggian letusan. Berdasarkan studi 8.000 letusan, 20 an letusan historismengeluarkan volume lebih dari 1 km3 (VEI 5). Letusan bersejaran di Indonesia sepertiKrakatau 1883 adalah letusan dengan magnitude 6. Sedangkan rekor dipegang oleh letusanTambora 1815 yang merupakan letusan dengan magnitude 7 yang menghasilkan 175 km3tephra (batuan vulkanik atau magma). Untuk letusan prasejarah, letusan dengan magnitude8 di Indonesia adalah letusan Danau Toba sekitar 74.000 tahun lalu.Durasi letusan berdasarkan studi dari sekitar 3.300 letusan yang VEI 3, 25%berlangsung kurang dari 1 minggu. 45% berlangsung kurang dari 1 bulan, 40% letusan terjadiberkepanjangan dalam 1 tahun. Sisanya hanya 15%. Faktor penting dalam manajemen krisisgunung meletus menekankan pada berlangsungnya letusan dan waktu yang memisahkanfase awal dari fase peroksismal. Dari 252 letusan, waktu letusan diduga kurang dari 1 minggu(64% kasus).2. Bahaya yang bisa dipicu dari Letusan gunung apiTerdapat 7 bahaya vulkanis utama yang dipertimbangkan dapat terjadi sebagai akibatdari letusan gunung api :a. Keluar dan mengalirnya lavab. Jatuhnya batu dan abuBahaya langsungc. Guguran awan panas (pyroclastic)d. Asap gase. Laharf. Pergerakan tanahBahaya tidak langsungg. tsunamiKorban dari aktivitas vulkanis dunia tercatat bahwa sekitar 40% korban adalah akibatdari lahar. Guguran awan panas (pyroclastic) bertanggung jawab terhaap 46% korban. Untuktujuan pencegahan, perlu untuk mengantisipasimanifestasi potensial melalui scenariospasial. Setiap tipe bahaya membuktikan mekanisme dan proses kerusakan spesifik dankomplek untuk dipelajari.Magma keluar dari permukaan kawah menjadi lava pijar. Lava ini akan menjadiberbahaya jika gunung memiliki kemiringan cukup terjal. Lava akan turun/jatuh dengancepat menju kakigunung.

Jatuhnya abu, batu, bloc dimulai dari pusat erupsi. Distribusinya tidak dipengaruhioleh arah angin. Namun jatuhnya abu yang lebih halus menyebar menurut arah angin danketinggian kolom letusan. Kejatuhan abu dari udara seringkali menjerumusknansuatuwilayah pada kegelapan total. Abu yang berjatuhan kemudian menumpuk pada atap rumahmencapai 15 cm (setara tekanan 200 kg/m2). Emisi abu ini selanjutnya mengganggu lalulintas udara. Masuknya abu ke suatu pesawat menyebabkan masalah yang besarsehubungan dengan keamanan penerbangan.Gas yang dikeluarkan dari aktivitas vulkanis diantaranya adalah : H2O, CO2, SO2, H2,H2S, HCL,H2SO4. Emisi gas dapat terjadi bersamaan dengan erupsi. Dapat juga terjadiberkelanjutan setelah letusan dengan skala yang lebih kecil. Beberapa gas bertanggungjawab terhadap peradangan, iritasi mata dan system pernafasan, kerusakan kulit dan selaputlender, sesak nafas. Banyaknya gas vulkanis ini di atmosfir berpartisipasi pada siklusekosistem, khususnya pembentukan aerosol dan hujan asam.Jatuhnya guguran pyroclastic terdiri dari awan api, awan abu dan bebatuan. Aliranpyroclastic umumnya padat. Gugurannya mengikuti hokum gravitasi dan dikondisikan olehtopografi. Kecepatannya sangat tinggi, bisa mencapai 700 km/jam dengan temperaturmencapai 99-660 C. Inilah bahaya vulkanis yang paling mematikan.Lahar merupakan aliran lupur bercapur dengan puing-puing pohon dan lainnya yangberasal dari gunung. Mobilisasinya disebabkan oleh efek presipitasi, efek letusan itu sendiriyang berasal dari runtuhnya danah kawah, kantong air di bawah gletser, atau salju yangmencair. Volumenya meningkat semakin ke arah hilir. Dampaknya berupa kerusakan wilayahyang tersapu dan memodifikasi dasar sungai. Lahar bias panas atau dingin tergantung daritemperature deposit yang dibawa.Bahaya lainnya dari letusan gunung api adalah tejadinya tsunami. Khususnya padaletusan gunung api di laut. Tsunami dipicu oleh masuknya sejumlah besar volume materialvulkanis ke laut. Hancurnya badan gunung menyebabkan terbentuknya ombak yang biasmenyentuh lokasi yang jauh. Contohnya tsunami gunung Krakatau pada tahun 1883 yangmenyebabkan sekitar 36.000 orang meninggal.Terakhir adalah bahaya gempa-gepa vulkanis. Terjad karena pecahnya batuan yangdipicu oleh pendakian magma ke permukaan (gempa tremor). Luasan wilayah terdampakdari gempa ini cenderung sangat terbatas. Ancaman dari bahaya ini lebih moderat namunnyata seperti kerusakan bangunan dan pergerakan tanah.3. Gunung Api yang dipantau peningkatan aktivitasnyaa. IndonesiaMenurut data PVMBG pada akhir Desember 2019, Indonesia memiliki 127 gunungberapi aktif. Kemudian, dari situ (dari jumlah tersebut) ada 69 gunung yang dipantauterus menerus dengan menempatkan pos pemantauan. Dari situ (yang dipantau)ada sekitar 21 gunung yang levelnya di atas normalGunung Sinabung dan Gunung Agung, masuk dalam kategori level 3 (siaga). Tidakada yang masuk siaga level 4.Sementara itu, Gunung Kerinci, Gunung Merapi, Gunung Krakatau, Gunung Bromo,Gunung Slamet, Gunung Rinjani, Gunung Gamalama masuk kategori level 2(waspada).

b. LampungGunung api yang selalu dipantau aktivitas vulkanisnya adalah Gunung Anak Krakataudi Selat Sunda. Berikut catatan kegempaan Gunung Anak Krakatau sejek 1 Januari2020 hingga 29 Maret 20204. Jenis letusan gunung berapiTerdapat tiga jenis erupsi berdasarkan pergerakan magma dari dalam ke permukaan bumi.Tiga jenis erupsi itu adalah freatik, freatomagmatik dan magmatik.a. Erupsi Freatik Terjadi ketika magma segar mulai naik dari dapur magma ke tubuh gunung. Padafase ini magma berinteraksi dengan air bawah tanah dan menyebabkanpenguapan. Ketika intensitas uap makin tinggi dan memiliki tekanan yang cukuptinggi, uap mampu membobol bebatuan pembekuan magma tua yangmenyumbat kawah. Oleh karena itu, material vulkanik yang disemburkan oleh erupsi freatik lebihdidominasi uap air bercampur gas-gas vulkanik lainnya. Material vulkaniknyamemiliki suhu kurang dari 200ยบ C dan saat tiba di kaki gunung sudah setara suhulingkungan. Erupsi freatik sama sekali tidak memuntahkan magma segar.Intensitas erupsinya juga umumnya kecil.

b. Erupsi Freatomagmatik Erupsi ini biasanya terjadi setelah erupsi freatik berlalu. Letusan ini terjadi ketikamagma segar naik ke tubuh gunung namun belum mencapai lubang letusan.Magma mulai bersentuhan langsung dengan air bawah tanah. Persentuhan dengan air yang lebih dingin membuat permukaan magma segarsontak mendingin cepat, membentuk butiran-butiran pasir hingga kerikil dengankomposisi khas. Sebaliknya air bawah tanah langsung menguap denganfrekuensi dan intensitas yang lebih tinggi. Selain menyemburkan uap air dan gas-gas vulkanik lainnya, erupsifreatomagmatik pun menyemburkan debu, pasir hingga kerikil. Namun kali inimayoritas berasal dari magma segar yang membeku cepat. Intensitas erupsinyaakan lebih besar dari erupsi freatik dan material vulkanik yang dimuntahkannyapun lebih panas.c. Erupsi Magmatik Ini adalah puncak erupsi, sebab magma segar sudah keluar dari lubang letusan.Erupsi magmatik secara umum terbagi menjadi dua: eksplosif (ledakan) danefusif (leleran). Erupsi magmatik eksplosif umumnya melibatkan magma segaryang bersifat asam karena banyak mengandung silikat (SiO2). Sementara pada erupsi magmatik yang efusif, magma segar yang keluar lebihbersifat basa (basaltik). Magmanya lebih encer dan kurang mengandung gas.5. Mitigasi bencana Gunung Meletusa. Mitigasi bencana gunung meletus adalah : Memperhatikan arahan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi BencanaGeologis (PVMBG) Memperhatikan perkembangan aktivitas gunung api Mempersiapkan masker dan kacamata Pahami jalur evakuasi yang telah disiapkan dan disepakati bersama Siapkan penunjang logistik, seperti makanan siap saji, senter, uang tunai,dan obat secukupnyab. Mitigasi bencana gunung meletus secara umum adalah : Menjauhi gunung dengan radius yang telah ditentukan Menjauhi lembah atau daerah aliran sungai Menghindari tempat terbuka Menggunakan masker atau kain basah Melindungi tubuh dari abu vulkanik6. Mitigasi Bencana Gunung Anak Krakataua. Wilayah berisiko letusan gunung Anak KrakatauPotensi bahaya yang besar sebagai akibat letusan gunung anak Krakatau adalahterjadinya tsunami. Wilayah yang berisiko adalah kawasan pesisir di sekitar selatsunda. Tingkat risiko bencana semakin tinggi mengingat wilayah tesebut merupakankawasan ekonomis penting. Berbagai industry dan jasa tersebar di kawasantersebut.

Risiko lainnya bagi manusia seperti gas, guguran awan panas, lahar dll cenderungkecil mengingat lokasi gunung tsb yang jauh dari aktivitas masyarakat.b. Mitigasi bencana letusan Gunung Anak KrakatauTsunami yang terjadi akibat letusan Gunung Anak Krakatau pada akhir desember2018 dianggap oleh para ahli sebagai tsunami senyap. Tidak ada tanda-tanda yangcukup signifikan bias menyebabkan tsunami. Para ahli awalnya menganggap bahwatsunami yang terjadi tengah malam tersebut adalah air pasang akibat bulanpurnama.Pada malam itu tidak ada warning sama sekali yang dikirimkan kepada masyarakatpesisir. BMKG sebagai institusi yang berwenang melakukan pemantauan tsunamijuga tidak menyampaikan warning. Analisis data kegempaan di BMKG tidakmenunjukkan potensi tsunami.Namun Kewenangan pemantauan gunung Anak Krakatau berada pada PusatVulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Institusi ini tidakmenyampaikan adanya warning tsunami sebagai dampak tak langsung dari letusanGunung Anak Krakatau.Selama ini tidak ada pemantauan khusus terhadap potensi tsunami dari gununganak Krakatau. Oleh sebab itu, Dalam rangka meningkatkan upaya mitigasi bencana,Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melakukan pemasangan alatpendeteksi tsunami buoy Merah Putih di kawasan Gunung Anak Krakatau.Pemasangan buoy generasi ketiga itu pun dilakukan oleh Tim Teknis BPPT di areagunung tersebut pada April 2019. jika kondisi lautan dalam keadaan normal, buoyitu akan mengirimkan data secara real time tiap satu jam. Sebaliknya, jika bencanaseperti tsunami terjadi, maka alat itu tentunya secara otomatis akan mengirimkandata lebih cepat, yakni tiap 15 detik.Alat pendeteksi ini memungkinkan penyampaian peringatan lebih dini (earlywarning system) bagi masyarakat sekitar. Masyarakat sebaiknya harus mendapatkansosialisasi terhadap keberadaan early warning system dan langkah yang dapatmereka tempuh segera setelah warning diterima. Tentunya warning harus dapatdiakses oleh seluruh masyarakat pesisir di sekitar selat sunda.