aaaaaaa

Transcription

BENTUK PARTISIPASI MASYARAKAT TERHADAPATRAKSI WISATA PENDAKIAN GUNUNG SLAMETKAWASAN WISATA GUCITUGAS AKHIROleh :MUKHAMAD LEOL2D 004 336JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTAFAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2008i

BENTUK PARTISIPASI MASYARAKAT TERHADAP ATRAKSI WISATAPENDAKIAN GUNUNG SLAMET KAWASAN WISATA GUCIABSTRAKDi berbagai daerah di Indonesia, sektor pariwisata saat ini telah berkembang dengan pesat. Hal iniditunjukkan dengan minat masyarakat yang besar untuk mengunjungi tempat-tempat wisata alam yang ada.Salah satu prinsip pengembangan pariwisata alam yaitu menekankan keterlibatan masyarakat secaralangsung terhadap seluruh kegiatan pembangunan pariwisata dari mulai perencanaan, pelaksanaan hinggapengawasan. Masyarakat diletakkan sebagai faktor utama yang memiliki kepentingan berpartisipasi secaralangsung dalam pengambilan keputusan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui upaya konservasiserta pemanfaatan sumber daya alam. Ekowisata merupakan suatu kegiatan wisata berbasis alam yangbertujuan untuk berinteraksi langsung dengan alam, mengetahui habitat dan ekosistem yang ada dalamsuatu lingkungan hidup, memberikan manfaat ekonomi kepada lingkungan untuk pelestarian lingkunganhidupnya, menyediakan lapangan kerja dan memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat lokal gunameningkatkan taraf hidupnya, dan menghormati serta melestarikan kebudayaan masyarakat lokal (Subadra,2007). Kegiatan ekowisata sendiri dapat terwadahi salah satunya melalui wisata pendakian gunung.Guci merupakan salah satu obyek wisata alam unggulan yang ada di Kabupaten Tegal. Wisatapendakian Gunung Slamet sebagai salah satu atraksi wisata yang ditawarkan merupakan perwujudan darikonsep ekowisata. Secara administratif, masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan Obyek Wisata Guciberada di dua desa yaitu Desa Rembul (Kecamatan Bojong) dan Desa Guci (Kecamatan Bumijawa).Permasalahan utama yaitu semakin kurangnya kesadaran masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalamkegiatan atraksi wisata pendakian Gunung Slamet yang disebabkan pengembangan pariwisata ini kurangmemberikan dampak positif terhadap kehidupan perekonomian masyarakat. Masyarakat lebih memilih untukmembuka hutan dan menjadikannya sebagai lahan pertanian untuk bercocok tanam sayuran seperti kubisdan wortel. Padahal partisipasi masyarakat merupakan potensi yang dapat memberikan nilai tambahterhadap keberadaan atraksi wisata pendakian Gunung Slamet.Dari permasalahan utama tersebut, maka tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasibentuk partisipasi masyarakat terhadap atraksi wisata pendakian Gunung Slamet kawasan wisata Gucisehingga akan berdampak positif bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Desa Rembul dan Desa Guci.Dalam mencapai tujuan tersebut, metode penelitian yang digunakan yaitu metode kualitatif. Teknikpengumpulan data yang dilakukan yaitu teknik pengumpulan data primer melalui observasi lapangan,wawancara serta penyebaran kuesioner. Teknik pengumpulan data sekunder dilakukan melalui mencari datadi instansi, artikel-artikel media massa, internet serta dari penelitian-penelitian yang sudah pernahdilakukan sebelumnya. Dalam mencapai tujuan adapun analisis yang dilakukan yaitu analisis karakteristikmasyarakat Desa Rembul dan Guci, kesejahteraan masyarakat Desa Rembul dan Guci, analisis bentukpartisipasi masyarakat terhadap atraksi wisata pendakian Gunung Slamet serta analisis bentuk partisipasimasyarakat yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Rembul dan Guci.Hasil dari analisis yang dilakukan adalah diketahuinya bentuk partisipasi dari masyarakat DesaRembul dan Guci terhadap atraksi wisata pendakian Gunung Slamet kawasan wisata Guci. Bentukpartisipasi masyarakat tersebut yaitu usaha/kegiatan yang terkait dengan kegiatan atraksi wisata pendakianGunung Slamet, usaha untuk menjaga kelestarian hutan Gunung Slamet, usaha untuk menjaga kelangsungankondisi atraksi wisata pendakian Gunung Slamet, ikut serta dalam usaha promosi maupun publikasi yangdiadakan, sebagai sumber informasi, menghadiri pertemuan dan memberikan sumbangan. Selain itudiketahui pula bentuk partisipasi masyarakat yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat DesaRembul dan Guci yaitu dengan menerapkan bentuk partisipasi alternatif. Penerapan bentuk partisipasialternatif yang dimaksud yaitu dengan melakukan pergelaran seni masyarakat, persewaan kuda sebagaisarana transportasi lokal dan berjualan souvenir atau cinderamata yang berhubungan dengan wisatapendakian Gunung Slamet. Dengan demikian pada akhirnya masyarakat Desa Rembul dan Guci dapatmemperoleh penghasilan yang besar dengan adanya kegiatan dari atraksi wisata pendakian Gunung Slamet.Dengan diketahuinya bentuk partisipasi masyarakat terhadap atraksi wisata pendakian Gunung Slamet,maka masyarakat secara sadar akan terus meningkatkan partisipasinya terhadap atraksi wisata pendakianGunung Slamet. Pemerintah juga perlu memberikan kemudahan-kemudahan bagi masyarakat untuk ikutberpartisipasi dalam pengembangan pariwisata yang ada sehingga bentuk partisipasi yang dilakukanmasyarakat akan berdampak positif bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Desa Rembul dan Guci.Keywords : ekowisata, bentuk partisipasi masyarakat, atraksi wisata pendakian Gunung Slamet

1BAB IPENDAHULUAN1.1Latar BelakangDewasa ini, sektor pariwisata dianggap sebagai sektor yang sangat potensial untukmenambah sumber devisa negara dari pendapatan nonmigas. Terutama di negara-negaraberkembang, sektor pariwisata telah menjadi perhatian khusus untuk terus dikembangkan. Hal inidapat terlihat dari banyaknya program pengembangan pariwisata yang ada di negara tersebut(Spillane, 1993: 46). Perkembangan pariwisata secara tidak langsung akan diikuti olehberkembangnya sektor-sektor lain yang terkait seperti perhotelan, restoran, perdagangan dankerajinan rakyat. Selain itu, lapangan pekerjaaan baru akan semakin terbuka sehingga dapatmengurangi angka pengangguran. Pada tahun 2001, pariwisata telah menciptakan kesempatan kerjabagi 207 juta orang atau lebih dari 8% kesempatan kerja di dunia dan tahun 2005 meningkat yaitumenciptakan lapangan kerja bagi 305 juta orang (Pitana dan Gayatri, 2005: 5). Dengan kata lain,multiplier effect yang timbul dari kegiatan pariwisata memberikan kontribusi yang besar terhadappembangunan di negara tersebut.Bagi Indonesia, peranan pariwisata semakin terasa terutama setelah melemahnya perananminyak dan gas. Meskipun demikian, nilai nominalnya dalam dollar sedikit mengalami fluktuasi.Dalam beberapa dasawarsa jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang datang keIndonesia menunjukkan trend yang naik. Tahun 1969, Indonesia hanya dikunjungi oleh 86.067wisman, kemudian meningkat menjadi 2.051.686 tahun 1990 dan 5.064.217 pada tahun 2000.Jumlah kunjungan wisman mengalami pertumbuhan negatif sebanyak empat kali yaitu tahun 1982,1998, 1999 dan 2001. Hal ini berkaitan erat dengan gejolak yang terjadi dan faktor jaminankeamanan yang kurang di Indonesia. Kedatangan wisman tersebut telah memberikan penerimaandevisa yang sangat besar kepada Indonesia. Pada tahun 2000, jumlah devisa yang diterimaIndonesia sebesar 5,748.80 juta dollar AS (Santosa, 2001 dalam Pitana dan Gayatri, 2005: 6).Tidak hanya negara, sektor pariwisata yang berkembang demikian pesat mendorong daerahuntuk berupaya mengembangkan potensi pariwisata yang dimiliki wilayahnya. Adanya otonomidaerah menyebabkandaerah dapatmenetapkankebijakan sehubungandengan sektorkepariwisataan yang ada. Berbagai usaha juga dilakukan guna mendukung kemajuan sektorpariwisata yang ada di daerah tersebut. Potensi pariwisata berupa alam, budaya, sejarah ataupunbuatan dijadikan magnet untuk mendatangkan wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Halini dimaksudkan agar perkembangan sektor pariwisata dapat memberikan banyak keuntungansehingga pembangunan daerah dapat berjalan dengan baik.1

2Perkembangan wisata yang begitu pesat menyebabkan munculnya berbagai dampak negatifterhadap lingkungan alam seperti pencemaran, kerusakan lingkungan dan ekosistem didalamnya.Oleh karena itu, untuk mencegah kerusakan lingkungan yang semakin parah maka dikembangkanjenis pariwisata alternatif yang disebut ekowisata. Bentuk dari pariwisata alternatif ini berbeda daripariwisata konvensional, dimana pariwisata ini dapat digunakan sebagai alat untuk menunjangkelestarian lingkungan. Konsep dari ekowisata ini sejalan dengan konsep pembangunanberkelanjutan dan pariwisata berkelanjutan. Dengan adanya ekowisata, wisatawan tidak hanyaberekreasi namun juga dapat berinteraksi secara langsung dengan alam. Wisatawan juga dapatmenyatu dengan lingkungan yang masih sangat alami seperti hutan, gunung, laut, sungai, gua.Kecenderungan untuk menikmati jenis wisata tersebut terjadi karena semakin besarnya keinginanmasyarakat khususnya di perkotaan untuk memperoleh pengalaman petualangan yang menarik darilingkungan yang masih alami.Kegiatan ekowisata adalah salah satu kegiatan wisata yang pertumbuhannya cukup besaryaitu sekitar 20% dari total perjalanan internasional (Damanik dan Weber, 2006: 43). Oleh karenaitu, Pemerintah Indonesia melaksanakan kegiatan ekowisata yang berlokasi di kawasan pelestarianalam dengan harapan memberikan dampak positif dalam menciptakan lapangan kerja, peningkatankesejahteraan masyarakat, peningkatan devisa negara dan untuk melaksanakan upaya konservasi.Pada mulanya ekowisata masih diidentikkan dengan nature tourism atau wisata alam biasa. Dalampengembangan ekowisata mutlak diperlukan dukungan dari masyarakat setempat mulai dari tahapperencanaan, pembangunan dan pengoperasiannya. Dimana masyarakat tersebut mengetahui semuakondisi dari lingkungan yang ada disekitarnya. Oleh karena itu, partisipasi dari masyarakatsetempat harus terus ditingkatkan dan dilibatkan secara aktif sehingga prinsip dari ekowisata dapattercapai. Masyarakat berhak memberi saran dan kritik terhadap pembangunan ekowisata yangsedang berjalan sehingga tercipta rasa memiliki serta masyarakat akan memelihara sumber dayaalam dan lingkungan yang menjadi obyek kegiatan ekowisata sebagai lahan pencahariannya.Prinsip-prinsip dari pariwisata berkelanjutan yang terdapat dalam Pacific MinistersConference on Tourism and Environment di Maldivest tahun 1997 meliputi kesejahteraan lokal,penciptaan lapangan kerja, konservasi sumber daya alam, pemeliharaan dan peningkatan kualitashidup serta equity inter dan antar generasi dalam distribusi kesejahteraan. Berdasarkan padaprinsip-prinsip tersebut dapat terlihat partisipasi dari masyarakat setempat tidak dapat dipisahkandalam mengembangkan pariwisata. Untuk dapat menumbuhkan dan meningkatkan peran aktif darimasyarakat maka diperlukan suatu lingkungan yang kondusif. Hal ini agar fungsi dari masyarakattidak hanya sebagai objek pembangunan namun dapat sebagai subjek sehingga kesejahteraanmasyarakat dapat meningkat dengan adanya kegiatan pariwisata.

3Salah satu konsep dasar yang lebih operasional tentang ekowisata yaitu perjalanan outdoordan di kawasan alam yang tidak menimbulkan kerusakan lingkungan (Form, 2004 dalam Damanik,2006: 38). Berdasarkan konsep tersebut, maka salah satu atraksi yang ditawarkan dari ekowisatayaitu wisata pendakian gunung. Indonesia sendiri memiliki beberapa gugusan gunung yangmempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi sebuah kegiatan wisata alternatif yangmenyenangkan. Wisata pendakian gunung atau yang sering disebut juga mountaineeringmerupakan kegiatan wisata yang dapat menimbulkan rasa cinta akan alam dan tanah air, melatihmeningkatkan kepercayaan diri, meningkatkan ketahanan tubuh dan memupuk persahabatan(Fandeli, 2001: 144). Selain itu dengan berwisata mendaki gunung secara tidak langsung akanmenciptakan generasi dengan semangat kerja yang tinggi dan meningkatkan pengenalan lebih baikterhadap semua unsur alam lingkungan. Wisata pendakian gunung dapat dikembangkan menjadiwisata yang menarik dan menyenangkan. Tantangan dan resiko yang tinggi dapat dihindari apabilawisatawan mempunyai pengetahuan dan terlatih dalam berwisata mendaki gunung.Berkaitan dengan potensi alam yang dimiliki dan kecenderungan pasar yang ada, KabupatenTegal berusaha mengembangkan salah satu obyek wisata alamnya yaitu Guci. Atraksi wisata yangditawarkan sebagian besar merupakan penerapan dari konsep ekowisata. Salah satunya yaitu wisatapendakian Gunung Slamet. Obyek Wisata Guci mempunyai kemudahan akses yang dapatdijangkau dengan mudah dari kota disekitarnya. Kondisi jalan aspal yang bagus dan banyaknyapapan penunjuk arah semakin mempermudah wisatawan berkunjung ke Obyek Wisata Guci.Sarana angkutan umum berupa bus dan angkutan desa juga tersedia untuk mengantarkanwisatawan. Secara administratif, Obyek wisata Guci terletak pada dua desa yang berbedakecamatan yaitu Desa Rembul (Kecamatan Bojong) dan Desa Guci (Kecamatan Bumijawa).Gunung Slamet sendiri merupakan gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa setelah GunungSemeru dengan ketinggian 3.428 mdpl. Kondisi alamnya yang masih alami dan banyak menyimpanpotensi yang belum diketahui, menyebabkan banyak orang tertarik untuk mendaki Gunung Slamet.Keinginan untuk mendaki Gunung Slamet dapat tercapai karena di masing-masing kabupatenterdapat jalur pendakian. Khusus di Kabupaten Tegal, jalur pendakian Gunung Slamet berada didalam Obyek Wisata Guci dan menjadi salah satu atraksi yang ditawarkan kepada wisatawan. Jalurpendakian ini merupakan jalur terpendek dan termudah untuk mencapai puncak Gunung Slametdibanding dengan jalur pendakian di kabupaten lain. Dengan demikian wisatawan terutama darikalangan remaja dapat menikmati keindahan Gunung Slamet ketika berkunjung ke Obyek WisataGuci. Kondisi hutan Gunung Slamet yang masih alami dan banyak terdapat flora dan fauna khasmenyebabkan kegiatan wisata pendakian gunung dapat dikembangkan lebih lanjut.Terdapatnya atraksi wisata pendakian Gunung Slamet di Obyek Wisata Guci menjadi dayatarik tersendiri bagi para pengunjung. Terlebih di hari libur, banyak dari kelompok pecinta alam