aaaaaaa

Transcription

BAB IPENDAHULUAN1.1 Latar BelakangPendakian merupakan hal yang sudah biasa saya dengar sebagai peneliti.Tinggal di lereng sebelah barat Gunung Semeru, tepatnya Desa Pasrujambe,Kabupaten Lumajang, saya sebagaiPeneliti ingin menelaah lebih lanjut fenomena pendakian di Gunung Semeru.Terlebih lagi trend pendakian membawa saya tertarik untuk mendaki pada tahun2015. Pendakian merupakan fenomena sosial karena hal itu merupakan hal yangbiasa ada dalam kehidupan dunia sehari-hari. Saat saya mendaki Gunung Semeru,barulah saya menyadari ada suatu hal yang menarik untuk diteliti dan ditelaah lebihlanjut. Khususnya keberagaman dan keunikan karakteristik para pendaki GunungSemeru yang saya temui disana.Para pendaki Gunung Semeru sudah tidak asing lagi bagi saya, bahkan sudahseperti kawan. Saya tidak hanya bahu-membahu dan saling menjaga satu sama lain.Namun juga saling berkomunikasi bertukar cerita, sudut pandang, dan jugapengalaman para pendaki yang sudah mendaki beberapa gunung sebelumnya.Senang sekali rasanya mengetahui pengalaman pendaki, karakteristik pendakidengan segala wataknya, dan juga bagaimana mereka memaknai suatu pendakian.Bermula dari ketertarikan saya dengan Gunung Semeru, saya memberanikan diriuntuk meneliti lebih lanjut bagaimana fenomena aktor pendaki dan pendakiangunung disana dengan berbekal dari pengalaman peneliti dalam mendaki Gunung1

Semeru tahun 2015 sebelumnya, peneliti ingin melanjutkan dan meneliti lebihlanjut fenomena sosial itu.Beberapa informasi umum yang peneliti dapatkan tentang Gunung Semeruitu sendiri, gunung ini adalah gunung api yang mempunyai ketinggian 3.676 meterdi atas permukaan laut (mdpl), gunung yang terletak di Pulau Jawa ini berlokasidiantara dua wilayah yaitu Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang, JawaTimur merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa. Saat peneliti mendaki gunungkesana terdapat informasi Gunung Semeru memiliki puncak yang dibiasa disebutPuncak Mahameru.Di puncak Gunung Semeru terdapat kawah yang bernama Jonggring Saloko.Di kawasan Kawah Jonggring Saloko para pendaki tidak boleh berlama-lama karnaGunung Semeru biasa mengeluarkan wedhus gembel yang beracun. Gunung Semeruini termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBS).Gunung Semeru memiliki daya tarik bagi para pendaki tak hanya keindahan alamdan keunikan medannya namun juga adanya sebuah danau atau ranu di areagunungnya yaitu Ranu Kumbolo yang di jadikan tempat pemberhentian sementarasebelum menuju puncak Gunung Semeru.Keindahan dan megahnya Gunung Semeru semakin lengkap dengan adanyagugusan ranu (danau) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.Gugusan ranu di kawasan tersebut menambah keindahan alam sepanjang trekkingmenuju Gunung Semeru maupun Gunung lainnya. Seperti informasi yang penelitiketahui bahwa ada 3 ranu yang ada di kawasan tersebut diantaranya adalah RanuPane, Ranu Regulo, dan Ranu Kumbolo.2

Ranu Pane menyuguhkan keindahan alam perbukitan dan danau ditengahaktivitas masyarakat Tengger. Saat melewati desa itu, kita dapat menyaksikanmasyarakat desa yang mayoritas berladang ini aktif pada pagi hingga siangmenjelang sore. Pengunjung dapat merasakan keramahan masyarakat setempah dankeindahan yang disuguhkan di pedesaan yang berada di kawasan Gunung Semerutersebut.Ranu Regulo juga tidak berada jauh dari Ranu Pane, ranu ini dapat ditempuhkurang lebih 20 menit dengan berjalan kaki. Jalan meuju ranu ini hanya bisaditempuh dengan berjalan kaki karna trekkingnya dikelilingi lahan pertanianterasering milik masyarakat desa setempat. Selain menikmati keindahan bentanganalam sekitarnya, pengunjung juga dapat melihat indahnya matahari terbit yangmenyuguhkan aura warna lilac dilangit. Di Ranu Regulo pengunjung diperbolehkanuntuk berkemah dan memancing ikan. Suasana yang sunyi cocok untuk merasakansunyinya berada di perbukitan dan merasakan ketenangan jauh dari hiruk pikukperkotaan. Tak jauh dari kawasan ranu, terdapat bangunan milik Balai TamanNasional Bromo Tengger Semeru yang digunakan untuk meniliti flora fauna dikawasan tersebut.Salah satu yang menjadi favorit penulis adalah Ranu Kumbolo. Mungkin takhanya penulis tapi juga para pendaki lainnya sangat mengagumi keindahan ranuyang ada ditengah bukit ini. Ranu Kumbolo berada di Gunung Semeru yangmerupakan shelter pemberhentian pendaki sebelum menuju Puncak Mahameru,Ranu Kumbolo merupakan kawasan perkemahan para pendaki. Ranu Kumboloadalah ranu yang terkenal dengan keindahan Gunung Semeru yang dapat dinikmati3

pada fajar, pagi, siang, sore maupun saat terbenamnya matahari. Ranu Kumbolotetap bersinar di bawah matahari maupun rembulan dengan beralas bumi berataplangit, pengunjung dapat menghilangkan penat dan lelahnya pendakian. Danau iniseperti sebuah sumber air utama para pendaki untuk minum maupun untuk mencucikaki. Namun ada peraturan bahwasannya jika ingin melakukan bersih-bersih denganmeggunakan air Ranu Kumbolo maka pendaki dilarang mencemari air ranu.Gunung Semeru ternyata menyimpan sebuah area kematian yang perludiwaspadai oleh pendaki. Gunung Semeru yang megah berdiri diantara duakabupaten ini terdapat area terlarang yang perlu diwaspadai oleh para pendaki yanghendak turun dari Puncak Mahameru. Area ini disebut area kematian GunungSemeru karna banyaknya ditemukan pendaki yang merenggang nyawa bahkantenang dalam dekapan Semeru. Area ini biasa disebut blank 75 atau zona tengkorak,area point of no return yang sama seperti di Gunung Slamet. Blank 75 berasal darigambaran fisik area arah kanan jalur turun pendakian dari puncak berupa jalur yangterputus oleh jurang-jurang dengan kedalaman 75 meter.Pendaki yang ingin turun dari puncak dihimbau untuk fokus dan tidakmengambil arah kanan karna jalan berpasir ini menuju jurang yang dapatmembahayakan para pendaki. Dari puncak, jalur turun menuju Kalimati sebenarnyadapat dilihat jelas namun jika pendaki terlena ditambah lagi cuaca mendungberkabut dapat menyebabkan pendaki disorientasi arah. Pendaki bisa saja terperosokatau tergelincir, jika sudah tergelincir para pendaki dapat cedera bahkanmerenggang nyawa. Namun peneliti mendapat informasi bahwa di area blank 75terdapat sinyal jaringan yang kuat karna area ini berada tidak jauh dari wilayah4

pemukiman desa. ya benar saja karena Blank 75 berada di daerah Tawon SongoDusun Pasrujambe, Kabupaten Lumajang, sebuah desa yang dekat dengan desatempat tinggal peneliti.Sensasi mendaki Gunung Semeru nampaknya tidak hanya dirasakan olehpeneliti saja namun pendaki lain pun juga merasakan sensasi yang berbeda sesuaidengan perasaan masing-masing. Seperti penuturan oleh salah satu pendaki GunungSemeru yang sudah dua kali mendaki gunung ini, menurut subjek penelitian yangmerupakan mantan presiden mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang tahun2014, mendaki gunung merupakan candu. Biasanya orang tidak akan mendakigunung yang sama untuk kedua kalinya, namun bagi subjek penelitian ada sensasitersendiri saat mendaki Gunung Semeru untuk kedua kalinya.Banyak perubahan suasana yang dirasakan, banyak perubahan fasilitas dansarana juga. Mendaki Gunung Semeru rasanya membuat subjek penelitian merasabersyukur bisa diberi kesempatan dan kekuatan hingga berhasil summit attack.Ternyata bagi subjek penelitian kesehatan dan kekuatan fisik merupakan anugrahdari Kuasa untuk bisa mengeksplor alam di tanah air tercinta serta menikmatiindahnya ciptaan Tuhan. Tak hanya rasa syukur namun juga adanya perasaan mawasdiri ketika sudah di puncak, baginya dirinya tidak ada apa-apanya dibandingkanalam semesta. Subjek penelitian merasa begitu kecil sehingga subjek penelitianmerasa tidak ada yang perlu disombongkan.Pendakian ke Gunung Semeru sudah populer sejak jaman dulu, sudah sangatpopuler kemegahan Gunung Semeru ini. Kepopuleran ini ditambah dengan adanya5

berita kematian seorang aktivis Indonesia. Berita itu tentang kematian Soe Hok Giedan Idan Lubis yang meninggal karna menghirup gas beracun di Puncak Mahamerutahun 1969. Tak hanya berita kematian aktivitis, ketenaran Gunung Semeru punsudah dikenal sejak jaman dulu bahkan saat Indonesia masih dijajah oleh Belanda.Ketinggian yang dimiliki oleh Gunung Semeru sebagai gunung tertinggi dantermasuk dalam Seven Summits of Indonesia membuat banyak para pendaki danpenggiat alam berbondong-bodong menguji skill mereka.Kegiatan mendaki bagi masyarakat sudah menjadi hal umum dilakukanbukan hanya dikalangan para penggiat alam dan pendaki profesional saja. Impactdari berbagai film yang ada seperti Vertical Limmit, Everest, dan 5 cm yangberlatarlkan tempat di Gunung Semeru menambah kepopuleran gunung ini sertadorongan untuk mendaki. Kemajuan teknologi di bidang komunikasi seperti adanyamedia sosial pun menambah daya tarik masyarakat umum untuk mendaki entahbagaimana surviving abbility yang dimiliki.Akun-akun pendaki dan petualang banyak bermunculan di media sosialterkenal yaitu instagram yang sering sekali memposting tentang gunung menambahdaya tarik dan dorongan masyarakat untuk mendaki gunung juga. Begitu pun jugapostingan-postingan yang berbau Gunung Semeru kerap kali bermunculan di feedinstagram akun pendaki. Salah satu akun bernama lingkarmalang yang mempostingkeindahan Gunung Semeru dan foto-foto kegiatan pendakian Gunung Semeru dapatmenambah daya pikat publik yang melihatnya, sehingga menimbulkan trend danminat para pendaki ke Gunung Semeru.6

Banyak para pendaki yang menguji kemampuan dan adrenalinnya denganmendaki Gunung Semeru. Hal ini terbukti dengan meningkatnya jumlah pendaki keGunung Semeru seperti yang dikutip di portal berita okezone.com tercatat hingga 17Desember 2018 Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS)mencatat peningkatan jumlah pendaki hinggapembatasan kuota pendaki pada angkake 600.Perkembang teknologi yang sangat pesat membuat media sosisal menjadialat untuk mempromosikan, dengan demikian Untuk pendakian ke Gunung Semeruhanya dapat ditempuh dengan satu jalur dari Ranu Pane lalu menuju Watu Rejeng.Setelah dari Watu Rejeng barulah para pendaki akan tiba di Ranu Kumbolo yangterkenal keindahannya. Dari Ranu Kumbolo pendaki dapat meneruskan ke Oro-oroOmbo dan setelah itu menuju Cemara Kandang yang vegetasinya didominasi olehpohon cemara, disinilah medan mulai terjal, curam, dan licin. Setelah dari CemoroKandang maka pendaki dapat menuju ke Jambangan lalu ke Kalimati. Disinilahpendaki dihimbau untuk berhenti mendaki sesuai dengan aturan tertulis dari BalaiBesar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.Proses mendaki gunung yang dialami oleh peneliti semasa melakukanobservasi, peneliti menemukan berbagai karakter pendaki, terdapat pendaki denganskill dan wawasan yang tinggi serta terdapat juga pendaki yang minim pengetahuantentang mendaki. Seperti peneliti yang memiliki pengetahuan kecukupan saatmelakukan pendakian, peneliti menyadari bahwa pendaki dituntut peka, mandiri dancekatan terhadap lingkungan sekitar. Menurut Sastha dalam bukunya, kegiatanmendaki melibatkan aktivitas fisik, mental, dan emosi tentu hal ini bukanlah hal7

yang mudah terlebih untuk pendaki pemula. Sehingga pendaki pemula (sepertipeneliti) harus benar-benar mempersiapkan dengan baik dari ketiga aspek tersebutyaitu fisik, mental, dan emosi. Karna berkegiatan di alam terbuka pendaki akanbelajar bagaimana mengambil keputusan yang cepat tetapi tepat. Sastha jugamengatakan bahwa gunung dapat menjadi tempat yang menyenangkan maupunmenyeramkan bagi pendaki. Tinggal bagaimana pendaki menyikapi danmenghadapi segala situasi yang ada di gunung. Dari proses itulah pendaki akanmendapatkan pengalamannya berkegiatan di alam terbuka.Hadayani (2010) mengatakan, berkegiatan di alam terbuka sebenarnyamengembangkan karakter bagi pelakunya, paling tidak rasa kecintaanya terhadaptanah air akan bertambah seperti melakukan perjalanan ke pelosok-pelosok negeridan mengenal bagian-bagian terdalam dari negeri ini akan menjadikan kecintaanorang terhadap tanah airnya meningkat. Hubungan persaudaraan yang terjalin, tanpamembedakan ras, agama dan antar golongan adalah bagian terpenting dalamberkegiatan di alam terbuka. Lalu para pendaki. Para pendaki biasanya mempunyaimotivasi tertentu, bisa karena hobi, tertarik akan pesona gunung, atau hanya inginberpetualang (Yitno, 1997). Lebih lanjut lagi menurut Sofyan S. Willlis (2013:71)bahwasannya motivasi ada karena motif dan motif ini disebut sebagai doronganorang untuk bertindak. Sehingga pendaki ini memiliki alasan dan penggerak yangmendorong pendaki untuk melakukan kegiatan tersebut.Motivasi pendaki pun beragam mulai dari kecintaannya terhadap alamhingga ingin mendekatkan diri kepada sang Ilahi pencipta alam semesta.T erlepasdari beragamnya motif pendakian, seorang pendaki sejati harus dapat membawa diri8

dengan baik saat mendaki gunung terlebih bahwa pendaki sedang dalam alam bebas.Pendaki yang baik adalah pendaki yang mempersiapkan segala sesuatunya denganmatang, mengikuti arahan dan prosedur dengan seksama, serta tidak merusaklingkungan seperti meninggalkan sampah dan perusakan lainnya. Pendaki yang baikpasti akan mempersiapakan fisik karena fisik merupakan hal awal dan utama dalamkegiatan pendakian gunung contohnya seperti olahraga joging, angkat bebansehingga stamina tetap terjaga serta tubuh siap dihadapkan dengan cuaca yang adadi gunung.Mempelajari teknik dalam packing barang bawaan dan teknik berjalan dalamdunia pendakian adalah salah satu kewajiban yang harus diketahui pendaki agarproses mendaki tidak menyusahkan diri dan rombongan. Pola trekking bukit pendakimembutuhkan keseimbangan tubuh ditambah dengan beban carrier maka pendakiharus menyeusaikanritme berjalan agar tidak mudah lelah dan tidakmembahayakan terlebih melewati jalanan curam, terjal, dan licin. Kelengkapanpakaian dan sepatu yang dipilih harus sesuai dengan prosedur dan bersifat safety.Pendaki yang baik juga dituntut tidak hanya mengenali lingkungan sekitarmelainkan juga mengenali diri sendiri seberapa mampu dapat bertahan bukanmemaksakan sehingga berakibat fatal.Banyak juga pendaki yang masih mengabaikan prosedur dalam pendakiangunung. adanya fenomena pendaki hilang dikarenakan para pendaki kurangmemperhatikan keselamatannya dan tidak mematuhi peraturan yang ada baik tertulismaupun tidak tertulis. Pendaki yang melalui jalur pendakian illegal juga termasuksebagai suatu tindakan yang tidak patut ditiru dan juga membahayakan keselamatan9

dirinya. Selain itu pendaki sebaiknya tidak menggunakan celana jeans ataupunsepatu biasa. Hal ini menjadi sangat penting karena ketika mendaki gunung harusmembawa perlengkapan ekstra safety agar selama perjalanan tidak terjadi hal-halyang tidak diinginkan.Pendaki yang buruk tidak membawa kembali sampahnya turun. Saat sinidisepanjang jalur pendakian, para pendaki disuguhkan dengan adanya sampahsampah. Meskipun tidak disepanjang jalur pendakian namun para pendaki akanmenemukan beberapa sampah dititik-titik tertentu. Contohnya saja berdasarkanpengalaman pribadi peneliti yang sudah pernah melakukan pendakian ke GunungSemeru pada tahun 2015 menemukan beberapa sampah botol plastik, plastik-plastiksisa makanan ringan, dan ranjau darat di jalur antara Kalimati menuju Sumbermani.Tak hanya itu kini Ranu Kumbolo sebagai penyedia sumber air di Gunung Semerusudah mengalami pencemaran. Pencemaran ini di sebabkan oleh disebabkan olehpara pendaki yang kurang disiplin dan sadar terhadap lingkungan. Pencemaran inidilakukan dengan cara mencuci alat masak dan makan dengan menggunakan bubukdetergen padahal di Ranu Kumbolo air tersebut digunakan untuk air minum. Parapendaki juga sudah dihimbau tidak mencuci kaki dengan cara mencelupkan kakisecara langsung, namun tetap saja banyak pendaki yang melanggar himbauantersebut.Fenomena lain selain pencemaran itu adalah fenomena penumpukan sampahyang bisa kita lihat ditepian Ranu Kumbolo. Fenomena ini akibat dari perilakusosial negatif para pendaki yaitu kurang sadar akan membuang sampahsembarangan dan tidak membawa turun kembali sampah tersebut yang berujung10

pada menumpukan sampah yang sangat mengganggu pemandangan dan mencemarikealamian alam gunung.Fenomena lain yang dapat ditemui di gunung akibat aktivitas mendaki yangtidak bertanggungjawab adalah merusak dan memetik tanaman edelweis yangmerupakan tanaman atau flora dilindungi. Seperti kasus pendaki yang memetikedelweis di Gunung Ceremai merupakan pendaki yang tidak bertanggungjawabterhadap kelestarian lingkungan. Tak hanya itu kasus pendaki minum alkohol danmerayakan tahun baru di Gunung Gede Pangrango dengan menyalakan petasankembang api juga banyak ditemui. Tetapi masih ada banyak kegiatan positive daripara pendaki lainnya sebagai bentuk kepedulian diri dan kecintaan terhadap alam.Salah satunya adalah pendaki yang tergabung dalam komunitas trashbag.Komunitas itu tidak hanya membersihkan dan membawa turun sampah pendakitetapi juga melakukan upaya pencegahan seperti himbauan dan sosialisasi kegiatanmereka.Hal-hal yang efektif dilakukan tidak hanya sekedar himbauan danpengangkutan sampah, namun juga upaya pencegahan secara langsung. Terbatasnyapengawasan dan pengolahan sampah membuat penumpukan sampah di RanuKumbolo terus bertambah. Ini dikarenakan tidak adanya menejemen kuota pendakidengan pengolahan sampah. Dapat dibuktikan dengan ditemukannya botol plastikbuatan tahun 1987 oleh Trashbag Community sebagai komunitas peduli lingkungandan pencinta alam yang mengangkut sampah di Gunung untuk dibawa turun dandiolah.11

Beberapa kasus yang ditemui di gunung di Indonesia dapat kita ketahuibanyak sekali pendaki yang masih belum mengerti makna dari pendakian itutersendiri. Kasus-kasus yang sering dijumpai di gunung tidak hanya tentangperusakan lingkungan tetapi juga pendaki yang meregang nyawa. Meregangnyanyawa pendaki Semeru salah satunya akibat karna hipotermia dan lalai dalampendakian akibatnya pendaki dapat tersesat dan mati kelaparan. Tak hanya itu zonakematian Semeru blank 75 juga sering memakan korban. Aksi pendaki yangmerusak kelestarian seperti memetik edelweis di Semeru dan pencemaran air RanuKumbolo yang dianggap suci juga kerap ditemui. Sehingga kegiatan mendakiGunung Semeru bukanlah hal main-main dan juga bukan hanya sekedar berjalanmenanjak dan menuruni gunung maupun alamnya melainkan kegiatan yangmembutuhkan banyak persiapan dan suatu pemaknaan.Terdapat jenis-jenis pendaki dari fenomena-fenomena yang sudah dijelaskandiatas yaitu pendaki pemula dan pendaki yang profesional. Pendaki profesional yangsudah memiliki skill mendaki dan pengetahuan seputar alam sudah pasti memilikipengalaman. Pengalaman pendaki dari beberapa pendaki ini akan sangat bermanfaatuntuk ditelaah sebagai suatu fenomena yang ada di gunung khususnya GunungSemeru. Pengalaman pendakian ini dapat dikatakan sebagai suatu sudut pandangpendaki itu sendiri saat mendaki gunung, dari proses persiapan pendakian hinggamenuju puncak gunung.Kegiatan pendakian ke Gunung Semeru yang dilakukan dengan kesadaraninilah yang menjadi landasan peneliti untuk meniliti aktor pendaki Gunung Semerusecara fenomologis.Sehingga peniliti dan pendaki yang lain dapat memaknai12

proses pendakian sebagai suatu hal yang bermakna bukan hanya sekedar mendaki.Dan harapan peniliti dengan adanya penilitian ini dapat dijadikan sebuah referensiuntuk membentuk suatu consultant adventure agar pendakian gunung tidakdijadikan hal-hal yang main-main dan para pendaki memperhatikan prosedur yangbenar.1.2 Rumusan MasalahBerdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalahnya adalah:1. Bagaimana pengalaman para pendaki tentang kegiatannya selama mendakiGunung Semeru?2. Bagaimana perasaan para pendaki tentang pengalamannya tersebut?3. Apa makna yang diperoleh bagi para pendaki dari kegiatan pendakian diGunung Semeru?1.3 Tujuan PenelitianBerdasarkan rumusan masalah yang telah di tentukan, maka tujuan yanghendak di capai dalam penelitian ini sebagai berikut:1. Untuk mendeskripsikan fenomena pendaki Gunung Semeru di KabupatenLumajang.2. Untuk mendeskripsikan sebuah pengalaman dan menarasikan kegiatanpendakian yang dilakukan oleh pendaki Gunung Semeru.3. Untuk mengetahui makna dari suatu fenomena sosial yang terjadi, khususnyamakna yang didapat oleh para pendaki selama dan setelah kegiatan pendakian diGunung Semeru.13

4. Untuk mengetahui cerita-cerita pemdakian Gunung Semeru dari sudut pandangpara pendaki Gunung Semeru.5. Untuk memahami fenomenologi aktor pendaki Gunung Semeru dan pengalamanpara pendaki sebagai suatu fenomena yang didapat oleh para pendaki di GunungSemeru.1.4 Manfaat PenelitianPenelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teotitismaupun secara praktis yaitu terbagi sebagai berikut:1.4.1Manfaat teoritisPenelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagipengembanng ilmu pengetahuan khususnya sosiologi yang mengkaji harapkandapatmembandingkan teori dan juga realita fenomenologi aktor pendaki di GunungSemeru. Sesuai dengan pernyataan Edmund Husserl sebagai ilmuwan pertamayang mengembangkan fenomenologi bahwa suatu fenomena terdiri dari aktivitassubjektif (aktor pendaki gunung) dan objek (pendakian gunung) sebagai fokuspenelitiannya. Dari fenomenayang didapat melalui penuturan pendaki, makapeneliti dan pembaca dapat memberikan suatu pemaknaan pendakian danberkegiatan di alam terbuka.1.4.2 Manfaat Praktis14

1.Bagi pemerintah dan khususnya pengelola Gunung Semeru, BalaiBesar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, penelitian yangmemaparkan pengalaman pendaki yang mendaki Gunung Semeru dapatmenjadi acuan untuk mengelola dan memperbaiki menejemenpengelolaan pendakian Gunung Semeru berdasarkan fenomena parapendaki Gunung Semeru melalui penuturan pengalaman dan sudutpandang yang dialami para pendaki.2. Bagi pendaki dan peneliti, penelitian ini dapat menjadi suatu referensiuntuk pendaki yang ingin melakukan pendakian ke Gunung Semeruuntuk mempersiapkan diri sebaik-baik mungkin mengingat penelitianini memaparkan suatu fenomena pendaki di Gunung Semeru melaluisudut pandang dan pengalaman pendaki yang beragam. Selain itupenelitian ini dapat menjadi bukti bahwasannya Gunung Semerudikenal akan keindahan alamnya yang menarik para pendaki untukmendaki dan penelitian ini dapat menjadi informasi consultantadventure secara tidak langsung. Penelitian ini juga memberikansumbangan pemikiran bagi pendaki Gunung Semeru agar lebihmemaknai kegiatan dialam terbuka seperti mendaki gunung dan anrasatanggungjawab sebagai seorang pendaki contohnya seperti membawaturun kembali sampah dan tidak merusak serta mencemari.3. Bagi program studi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malangsebagai acuan akademik dan refernsi penelitian terdahulu yang15

berkaitan dengan konsep fenomonelogi khususnya mengkaji hal yangberkaitan tentang fenomena sosial pendakian di gunung.1.5 Definisi Konsep1.5.1 FenomenologiFenomenologi secara etimologis berasal dari kata fenomena dan logos.Fenomena itu sendiri berasal dari kata kerja bahasa Yunani yang berarti nampak.Naman secara harfiah dapat dikatakan sebagai sesuatu yang erl,dalamsejarahperkembangannya fenomenologi mengalami beberapa fase. Pada Fase Jermandikembangkan oleh Edmund Husserl dan Martin Heidegger, namun Husserllebih dikenal karena memperkenalkan fenomenologi secara formal sebagai suatubentuk filosofi. Husserl menggunakan konsep bracketting yaitu memahamifenomena apadanya dengan bersikap netral.Konsep yang dikembangkan masing-masing tokoh berbeda dengan yanglain contohnya saja Husserl menginginkan fenomena tanpa adanya suatuintepretasi dan abstraksi, Huseerl mengigninkan fenomena itu apa adanya tanpaasumsi namun ditangkap oleh kesadaran manusia. Sebaliknya Heideggermenghilangkan proses tersebut adalah proses yang mustahil, karna dalammanusia selalu menggunakan asumsinya untuk memahami situasi yang dihadapisecara sadar. Husserl percaya bahwa untuk dapat menemukan suatu fenomena16

dan memahaminya seseorang harus melihat kembali hal itu terjadi sejujurnyadan semurni – murni mungkin (look at the thing it self).Fenomenologi merupakan suatu pendekatan ilmiah yang bertujuan untukmenelaah dan mendeskripsikan suatu fenomena sebagai mana fenomena itu dialamilangsung olehmanusia tersebutdalam kehidupannya.Husserlmengembangkan fenomenologi menjadi fenomenologi murni dimana objek darifenomenologi adalah fenomena murni. Seperti yang diungkap Husserl (SpringerScience&Bussiness Media, 2013) dalam buku yang berjudul The Idea ofPhenomenology, meyakini fenomena murni adalah data asli yang ditangkap olehkesadran manusia dan bebas dari rasionalisasi. Menurut Husserl fenomenaterdiri dari aktifitas subjektif dan objektif sebagi fokus. Aktifitas subjekmenginterpretasikan dan memberi makna bagi objek sehingga aktifitas subjekmengarah pada objek. Fenomena menurut Husserl hanya dapat diamati melaluiorang yang mengalami fenomena tersebut. Jadi fenomenologi melihat, merekam,megkonstruk realitas dengan menepis semua asumsi yang mengontaminasipengalaman konkret manusia sebagai subjek (Farid&Adib, 2008).17

1.5.2 Pendakian GunungDalam situs belantaraindonesia.org menerangkan, kegiatan pendakigunung atau mountaineering pada awalnya di Eropa dikenal dengan istilahAlpinism, yang didalamnya termasuk olahraga panjat tebing. Sedangkan pendakiatau climber dalam Bahasa Inggrisnya (mountain climber) merupakan pendakimerupakan seseorang yang melakukan kegiatan pendakian gunung. Pendakitermasuk dalam sekelompok individu penggiat alam.1.5.3 Pendaki GunungPandangan orang tentang pendaki gunung adalah orang yang memakaibaju berkaos tebal, jaket gunung, celana panjang tebal hangat, memakai sepatuboot, dan membawa tas ransel besar biasanya berkisar 50-80 L. Ada juga yangmengatakan rambut acak-acakan gondrong identik dengan pendaki gunung. Adayang mengatakan keren ada juga yang mengatakan lusuh. Pendaki gunung itusendiri belum tentu termasuk dalam kelompok pecinta alam. Pendaki gunungsekarang dengan jaman dulu juga sudah berbeda. Kini pendaki gunung dapatberasal dari masyarakat umum, entah apakah skill dan pengetahuan tentangalamnya cukup mumpuni (pendaki pemula), mereka tetap bisa mendaki gununghanya untuk sekedar menikmati keindahan Tuhan. Pendaki gunung sekaranglebih terlihat rapi dan stylish, karena didukung oleh banyaknya perlengkapangunung yang makin tersedia.Mountaineering atau akrab di kenal di Indonesia dengan istilahpendakian gunung adalah profesi, rekreasi dan salah satu kegiatan olahraga.18

Kegiatan outdoor atau berkegiatan di alam terbuka ini digemari hampir setiapbelahan dunia karena mengandung tawaran akan pemandangan alam yang masihliar serta tantangan melewati medan alam bebas. Seperti yang diungkapan olehH.B. Sastha (2007:3) dalam bukunya yang berjudul “Mountaneering forEverybody” bahwa bukti-bukti candi, arca, dan makam kuno serta tugu-tugu diwilayah pegunungan di Indonesia mengungkap kegiatan pendakian gunungsudah ada sejak jaman dahulu kala. Bahkan pada saat masa Indonesia dijajaholeh Belanda, banyak penggiat alam dan peneliti dari belahan negara luar telahbanyak mendaki gunung di Pulau Jawa.Kegiatan terbuka dialam bebas salah satunya mendaki gunung dapatdikatakan sebagai olahraga rekreasi. Namun kondisi fisik juga harus tetapdiperhatikan mengingat kegiatan ini bertempatkan di alam terbuka dengankondisi medan yang ekstrem. Menurut Christ Bonington (Prasidi, 1987:4)mengatakan bahwa mendaki gunung berarti melangkah ke suatu ruangketidaktahuan yang penuh dengan ketidakpastian. Terlebih di gunung terdapatbahaya yang mengintai setiap pendaki jika tidak berhati-hati dan mempersiapkandiri dengan. Oleh karnanya mendaki gunung bukanlah kegiatan outdoor yangbiasa namun harus mempersiapkan fisik, mental, dan emosi, dalam mendakigunung pendaki dituntut untuk bersikap tepat dalam bertindak dan mengambilkeputusan termasuk dalam menghadapi alam bebas.19

1.5.4 Gunung SemeruKata “gunung” sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat padaumumnya. Perlu dijabarkan pula bahwa gunung dalam Kamus Besar BahasaIndonesia dapat didefinisikan sebagai berikut: bukit yang sangat besar dan tinggi(biasanya tingginya lebih dari 600 m) dapat dikatakan gunung jika tingginyamelebihi ketinggian bukit pada umumnya yaitu 600 meter diatas permukaan airlaut (mdpl). Namuntak hanya gunung, terdapat juga wilayah sebagian diIndonesia yang tediri atas gunung-gunung yang biasa disebut pegunungan.Pegunungan sendiri memiliki definisi: tempat bergunung-gunung atau terdiriatas gunung-gunung atau banyak gunung (KBBI, 1997: 330).Salah satu contoh gunung di Indonesia adalah Gunung Semeru yangmerupakan gunung tertinggi. Gunung ini memiliki ketinggian 3.676 meter diataspermukaan air laut (mdpl). Gunung yang terletak di Kabupaten LumajangMalang ini termasuk dalam kategori gunung berapi dan Gunung Semerumerupakan gunung berapi yang masih berstatus aktif, maka dari itu terlihat jelasdari permukaan Gunung Semeru terdapat cekungan di puncaknya. Di puncakyang dinamakan Puncak Mahameru ini memiliki kawah yang bernama JoggringSaloko. Di permukaan sebelah selatan gunung ini terdapat jelas jalur aliranlahar. Gunung berapi yang masih berstatus aktif ini dibuka untuk umum dalamartian pengelola gunung ini yaitu Balai Besar Taman Nasional Bromo TenggerSemeru membuka kegiatan pendakian pada waktu-waktu tertentu.20

1.6 Metodologi Penelitian1.6.1 Jenis dan Pendekatan PenelitianPenelitian ini dikaji secara fenomenologi dengan menggunakan flebihtepatuntukmengidentifikasi permasalahan yang berkaitan dengan judul penelitian yaitu“Fenomenologi Aktor Pendaki Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang”.Peneliti juga bermaksud memahami situasi sosial dunia pendakian secara lebihmendalam melalui penuturan subjek penelitian, serta berupaya menemukankonsep, hipotesis dan teori yang sesuai dengan penelitian.Karena tujuan utama penelitian kualitatif adalah untuk memahamifenomena atau gejala sosial dengan lebih menitik beratkan pada gambaran yanglengkap tentang fenomena yang dikaji dari pada memerincinya menjadi variabelvariabel yang saling terkait. Sehingga dengan menggunakan metode penelitianini peneliti dapat mengkaji bahasan dengan mengetahui gambaran fenomenayang diteliti secara lengkap mengenai pendakian dari penuturan sudut pandangpendaki dan fenomena-fenomena yang ada di Gunung Semeru.Menurut Moleong (2005:6) metode kualitatif dalam suatu penelitianmerupakan penelitian yang bermaksud untuk memahami suatu fenomena tentangapa yang dialami oleh subjek misalnya motif, persepsi, sensasi, motivasi,ataupun tindakan yang dimaknai secara holistic dan dideskripsi dalam bentukkata maupun bahasa dengan memanfaatkan metode alamiah. Sehingga dalam21

penelitian ini juga tidak hanya dikaji dengan pendekatan kualitatif saja namunjuga ditulis secara deskriptif-kualitatif.Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan data dan melakukanstudi kepustakaan untuk mendukung hasildata-data. Data-datayangdikumpulkan tersebut dapat diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan,foto, video, dokumentasi pribadi, catatan atau memo dan dokumentasi lainnya.Hasil penelitian yang berupa kutipan, wawancara, dan observasi diolah dankemudian disajikan secara deskriptif dalam bentuk penjabaran kata.Jenis penelitian dalam penelitian ini adalah penelitian studi kasus parapendaki Gunung Semeru. Dalam studi kasus ini peneliti mencoba untukmenelaah dan mendeskripsikan fenomena-fenomena pendakian Gunung Semerusecara fenomenologis. Jenis penelitian ini lebih sesuai digunakan apabilaberhadapan dengan kenyataan yang bersifat jamak, dalam metode ini disajikansecara langsung antara peneliti dengan subjek penelitian. Dengan demikian sifatkualitatif pada upaya meneliti studi kasus ini penelitian mengarah pada sumberdata berasal dari subjek penelitian atau subjek penelitian melalui wawancarayang dilakukan dengan subjek penelitian mengenai fenomenologi aktor pendakigunung.1.6.2 Lokasi PenelitianLokasi penelitian di lakukan di sepanjang jalur pendakian yaitu dari Pos1 sampai pos 4 yaitu dimuali dari Ranu Pane, Ranu Kumbolo, Kali Mati, danPuncak Mahameru. Alasan peniliti mengambil lokasi ini adalah karena peneliti22

pernah berkunjung ke Gunung Semeru dan dibeberapa titik tersebut mudahditemui pendaki yang sedang beristirahat maupun berkemah sehinggamemudahkan peneliti untuk mendapatkan suatu data berupa penuturan sudutpandang atau pengalaman para pendaki selama proses pendakian melaluiwawancara beberapa kali.1.6.3 Subjek PenelitianSubjek penelitian ini ditujukan kepada setiap para pendaki baik pendakiyang baru mendaki (pendaki pemula) dan pendaki yang sering mendaki dakiprofesional/berpengalaman). Pendaki yang menjadi subjek dalam penelitian inimemiliki hubungan kekerabatan dengan peneliti, sehingga peneliti dapat leluasadalam menguak penuturan setiap subjek secara mendalam ( in depth-view ).Kedua tipe pendaki yang menjadi subjek tersebut sangat berbanding terbaliksehingga peneliti ingin menelaah lebih lanjut penuturan dari kedua subjektersebut dalam memaknai kegiatan pendakian melalui sudut pandang danpengalaman kedua subjek tersebut. Peneliti juga dapat membandingkanpenuturan tiap subjek dari pengalamannya selama mendaki Gunung Semeru.1.6.4 Sumber DataUpaya mendapatkan infromasi yang diperlukan dalam penelitian terbagimenjadi dua sumber data yaitu:a. Data PrimerData primer yang diperoleh melalui hasil wawancara kepada paraaktor pendaki yang menjadi subjek dari penelitian yaitu penuturan para23

pendaki Gunung Semeru. Peneliti juga menngambil dokumentasi berupavoice recorder untuk memudahkan peneliti dalam menulis hasilpenuturan berupa transkrip yang akan dikaji di BAB IV Pembahasan.Penggabungan hasil data primer selanjutnya dijabarkan kedalam kata danbahasa.b. Data SekunderData Sekunder merupakan data yang berisi data-data pendukunguntuk melengkapi suatu hasil penelitian. Data ini dapat berupa hasil daristudi kepustakaan seperti penelitian terdahulu, dokumentasi foto selamaproses observasi, dan informasi tambahan lainnya yang didapat dariliteratur, dan teori yang berhubungan dengan penelitian.1.6.5 Teknik Pengumpulan dataDalam penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa teknik pengumpulandata antara lain:a. Observasi yaitu pengamatan yang dilakukan secara sistematis dan disengajamelalui pemilihan fokus yang akan diteliti yaitu tentang aktor pendakiGunung Semeru yang dikaji secara fenomenologi, pencatatan hasil penelitiandan pengkodaan terhadap serangkaian perilaku pendaki gunung, penuturanpendaki gunung tentang pengalaman, gejala-gejala, dan fenomena yang diGunung Semeru. Peneliti melakukan observasi tentang fenomena sosial yangada pada pendaki gunung semeru selama di jalur pendakian hingga tiba diPuncak Gunung Semeru.24

b. WawancaraWawancara berarti melakukan sesi tanya jawab antara peneliti dengan subjekpenelitian yang merupakan pendaki Gunung Semeru itu sendiri guna untukmendapatkan suatu informasi yang dibutuhkan. Dalam penelitian metodekualitatif, wawancara bersifat formal dan asimetris karna informasi berasaldari satu sisi saja yaitu dari subjek penelitian. Wawancara ini bertujuan untukpeneliti mendapatkan suatu uraian dari subjek penelitian berupa motif,sensasi, persepsi, pengalaman, sudut pandang, dan perasaan partisipan.Secara lisan peneliti menanyakan pertanyaan kepada subjek penelitian yangmenjadi narasumber dengan secara mengalir tapi tetap berpedoman padawawancara, menurut Creswell (1998) identifikasi partisipan berdasarkanprosedur sampling yang dipilih dan secara garis besar pertanyaan yangdiajukan yang sesuai dengan latar belakang yaitu untuk mengungkapfenomena para pendaki Gunung Semeru.c. Pemilihan subjek penelitianPemilihan subjek dalam penelitian ini berupaya untuk mendapatkan dataprimer penelitian yang tak lain adalah para pendaki itu sendiri. Dalam teknikpemilihan subjek terdapat yang dinamakan purposive sampling yaitu teknikpengambilan sampel yang mempunyai tujuan menyesuaikan penelitian yangsedang diteliti atas pertimbangan tertentu. Teknik purposive sampling initermasuk dalam non-probability sampling atau non-random sampling artinyasampel yang diambil memiliki ketentuan dan kriteria yang sesuai denganfokus peneliti. Seperti fokus penelitian ini adalah tentang aktor pendaki25

gunung, maka sampelnya ditentukan yaitu orang yang sedang mendakiGunung Semeru dengan kriteria usia 20-30 tahun dan memiliki pengalamanmendaki maupun non-pengalaman.d. aninformasiyangberhubungan dengan data-data tentang berbagai hal yang berhubungandengan fenomenologi pendaki Gunung Semeru. Dokumentasi yangdiperlukan seperti foto alam sekitar Gunung Semeru hingga kegiatankegiatan proses pendakian, data-data yang didapat dari proses wawancaraberupa penuturan dari subjek penelitian atau arsip-arsip lama yangberhubungan dengan ganbaran umum tentang pendakian biasanya arsip initerdapat di Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.e. Penelitian KepustakaanPenelitian kepustakaan juga dapat dikatakan sebagai library research dalamresearch ini peneliti melakukan kegiatan pengumpulan data dengan membacadan mencatat dari jurnal yang berhubungan dengan pendakian atau aktivitasdi gunung dan buku maupun teori tentang kajian fenomenologi sebagai datapendukung dan penguat hasil dari wawancara.26

1.6.6 Teknik Analisis Data1. Reduksi DataReduksi data merupakan salah satu dari teknik analisis data kualitatif.Reduksi data adalah bentuk analisis yang menajamkan, menggolongkan,mengarahkan, membuang yang tidak perlu dan mengorganisasi data sedemikianrupa sehingga kesimpulan akhir dapat diambil. Reduksi tidak perlu diartikansebagai kuantifikasi data.Data yang diperoleh dari lapangan melalui wawancara yang didapatkanjumlahnya cukup banyak, sehingga perlu dicatat secara teliti dan rinci. Sepertitelah dikemukakan sebelumnya, semakin lama peneliti ke lapangan, makajumlah data yang diperoleh akan semakin banyak, kompleks, dan rumit. Untukitu perlu segera dilakukan analisis data melalui reduksi data.Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok,memfokuskan pada hal-hal yang penting, serta dicari tema dan polanya. Dengandemikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas,dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya,dan mencarinya apabila diperlukan. Reduksi data dapat dibantu denganperalatan, seperti komputer, notebook, dan lain sebagainya. Dalam mereduksidata, setiap peneliti akan dipandu oleh tujuan yang akan dicapai. Tujuan utamadari penelitian kualitatif adalah pada temuan. Oleh karena itu, apabila penelitidalam melakukan penelitian menemukan segala sesuatu yang dipandang asing,tidak dikenal, belum memiliki pola, justru itulah yang harus dijadikan perhatianpeneliti dalam melakukan reduksi data.27

Reduksi data merupakan proses berpikir sensitif yang memerlukankecerdasan, keleluasaan, dan kedalaman wawasan yang tinggi. Bagi penelitiyang masih baru, dalam melakukan reduksi data dapat mendiskusikan denganteman atau orang lain yang dipandang cukup menguasai permasalahan yangditeliti. Melalui diskusi itu, wawasan peneliti akan berkembang, sehingga dapatmereduksi data-data yang memiliki nilai temuan dan pengembangan teori yangsignifikan.2. Penyajian DataPenyajian data merupakan salah satu dari teknik analisis data kualitatif.Penyajian data adalah kegiatan ketika sekumpulan informasi disusun, sehinggamemberi kemungkinan akan adanya penarikan kesimpulan. Bentuk penyajiandata kualitatif berupa teks naratif (berbentuk catatan lapangan), matriks, grafik,jaringan dan bagan.Dalam penelitian kuantitatif, penyajian data dapat dilakukandengan menggunakan tabel, grafik, pictogram, dan sebagainya.Melalui penyajian data tersebut, maka data terorganisasikan dan tersusundalam pola hubungan, sehingga akan semakin mudah dipahami.Beda halnyadalam penelitian kualitatif, di mana penyajian data dilakukan dalam bentukuraian singkat, bagan, hubungan antarkategori, dan sejenisnya. Menurut Milesdan Huberman (2014), menyatakan yang paling sering digunakan untukmenyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks yang bersifatnaratif.3. Penarikan Kesimpulan/Verifikasi28

Penarikan kesimpulan merupakan salah satu dari teknik analisis datakualitatif. Penarikan kesimpulan adalah hasil analisis yang dapat digunakanuntuk mengambil tindakan.Langkah ketiga dalam analisis data dalam penelitiankualitatif adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi (Miles&Huberman, 2014).Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akanmengalami perubahan apabila tidak ditemukan buktibukti yang kuat yangmendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya.Tetapi apabila kesimpulanyang dikemukakan pada tahap awal didukung oleh bukti-bukti yang valid dankonsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, makakesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.29