aaaaaaa

Transcription

View metadata, citation and similar papers at core.ac.ukbrought to you byCOREprovided by Beranda Jurnal Online Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang (POLTEKKES.STUDI KANDUNGAN FLUORIDAPADA AIR PENAMPUNGAN AIR HUJANAyu Novinda Nurul Putri1), Sugeng Abdullah2)Poltekkes Kemenkes Semarang, Poltekkes Kemenkes SemarangAbstrakFluorida (F) dalam jumlah kecil (0,5 mg/L air) dibutuhkan sebagai pencegahan terhadap penyakitkaries gigi yang paling efektif. Umumnya, air hujan tidak mengandung fluorida. Penelitian inibertujuan untuk mengetahui bahan bidang penangkap air hujan, unit pengolah air hujan, bahan bakpenampung air hujan, kandungan fluorida air di penampungan air hujan, suhu, pH dan kekeruhan.Jenis penelitian termasuk penelitian deskriptif dengan cara observasi dan wawancara,pemeriksaan kualitas air dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahan bidang penangkapair hujan adalah seng galvalum, unit pengolah air hujan adalah saringan kain, bahan bak penampungair hujan adalah ferrosemen berlapis plastik polyethylene, jerican dan drum HDPE, dan tangki airpolyethylene. Kandungan fluorida air hujan 0,0002 mg/l – 0,0004 mg/l. Parameter suhu 20oC - 21oC,pH 8,1 – 8,4 dan kekeruhan 5 NTU, sudah memenuhi syarat kesehatan. Kuantitas air sudahmemenuhi standar kebutuhan air bersih. Kesimpulan penelitian ini adalah komponen penampungandan proses pengolahan air hujan belum memenuhi syarat. Kualitas fisik air (pH, suhu, kekeruhan)memenuhi syarat, terdapat kandungan fluorida yang diduga berasal dari migrasi bahan bakpenampungan. Saran penulis adalah perlu dilakukan proses fluoridasi dan penelitian lebih lanjutmengenai migrasi senyawa fluorida dari bahan bak penampungan air hujan.Kata kunci: Penampungan air hujan; fluoridaAbstractFluoride (F) in trace amount (0,5 mg/L) is needed as the most effective way to prevent dental caries.Generally, rainwater does not contain fluoride. This research aims to know catchment material, watertreatment unit, storage material, fluoride level in rainwater, temperature, pH and turbidity. Theresearch method used is descriptive by collection by observation and interview, water qualityinspection and documentation. The result were obtained as follows: catchment material used isgalvalume metal sheet, water treatment unit used is filter from cloth, storage tank material ispolyethylene coated ferrocement, HDPE jerrycans dan drum, dan polyethylene tank. Fluoride level inrainwater are from 0,0002 mg/l – 0,0004 mg/l. Water temperatur is 20oC - 21oC, pH 8,1 – 8,4 danturbidity 5 NTU, these parameters already fulfill the health provision. Water quantity already fulfillthe water needs standard. The conclusion is rainwater harvester component and water treatmentprocess does not fulfill the requirement. Water physical quality (pH, temperatur, turbidity) alreadyfulfill the requirement. Fluoride contents in rainwater suspected from storage material migration. Therecommendation is water fluoridation and advanced research about migration of fluoride compoundfrom storage material is needed.Keywords: Rainwater Harvester; Fluoride1)2)E-mail: ayunvd@gmail.comE-mail: sugengzend@gmail.comKeslingmas Vol.38 No.3 Hal.1-62 26

1.PendahuluanAir merupakan salah satu kebutuhan pokokhidup manusia dan makhluk hidup lainnya, bahkandalam tubuh manusia hampir 70% berat badan terdiridari air. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)menetapkan kebutuhan air per orang per hari untukhidup sehat adalah 60 liter untuk daerah pedesaan dan150 liter untuk daerah perkotaan.Menurut Water Aid pada 2016 (Perpamsi,2018), Indonesia masuk daftar negara denganpenduduk terbanyak yang tidak bisa mengakses airbersih. Indonesia berada di peringkat ke-6 dari 10negara. Ada sekitar 32 juta orang di Tanah Air hiduptanpa air bersih. Adapun Badan Pusat Statistik (BPS)mencatat bahwa sampai tahun 2016, capaian akses airminum baru mencapai 71,14 persen dan akses sanitasi76,37 persen. Kontribusi air minum perpipaan sendiridiperkirakan baru mencapai 26 persen.Berdasarkan data sementara yang dihimpunPusat Pengendali Operasii (Pusdalops) a, terdapat sekitar 105 kabupaten/kota, 715kecamatan, dan 2.726 kelurahan/desa yang mengalamikekeringan di Jawa dan Nusa Tenggara. Salah satudaerah yang kesulitan mendapatkan air bersih di PulauJawa adalah Dusun Bambangan, Desa Kutabawa,Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga, JawaTengah.Dusun Bambangan merupakan dusun terakhiryang terletak di kaki Gunung Slamet pada ketinggian1.502 mdpl dan merupakan basecamp pendakianGunung Slamet. Terletak di daerah yang tinggimenyebabkan akses ke sumber air sulit dijangkau.Selain itu, letaknya yang terlalu tinggi dan kemiringanyang terlalu curam menyebabkan proyek penyediaanair bersih seperti PAMSIMAS tidak dapat terealisasi.Untuk mengatasi masalah tersebut, wargaDusun Bambangan memanfaatkan air hujan denganmembuat penampungan air hujan di rumah masingmasing. Air hujan dimanfaatkan untuk mandi,memasak, air minum dan mencuci tanpa adapengolahan terlebih dahulu. Selain itu, sampai saat inibelum dilakukan pemeriksaan oleh instansi yangberwenang terhadap kualitas air di penampungan airhujan warga Dusun Bambangan. Hal ini dapatberdampak buruk bagi kesehatan karena dilihat dariproses pembentukannya, air hujan merupakan air yangmiskin mineral, salah satunya mineral fluorida.Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan,kandungan mineral fluorida air hujan khususnya diKota Malang, Jawa Timur hanya 0.4 ppm (Untari,dkk. 2015 h. 1497).Air minum yang dikonsumsi oleh masyarakat,harus memenuhi persyaratan kualitas dan kuantitas.Parameter kualitas air yang ditetapkan terdiri dariparameter fisik, bakteriologi, radioaktif dan kimiawi.Beberapa parameter kimiawi diduga berpengaruhterhadap kesehatan gigi, antara lain unsur fluorida,kalium, kalsium, dan keasaman (pH) air.Fluorida (F) dalam jumlah kecil (0,5 mg/L air)dibutuhkan sebagai pencegahan terhadap penyakitkaries gigi yang paling efektif tanpa merusakkesehatan (Sutrisno, 2010). Konsentrasi fluoridadalam air berhubungan erat dengan jenis sumber air.Pada umumnya konsentrasi fluorida di air tanah danair permukaan melebihi syarat diatas. Sebaliknya padajenis sumber air bersih lain seperti air hujankandungan fluor dalam air sangat sedikit dan dapatmenyebabkan karies gigi sehingga perlu dilakukanfluoridasi air.Karies gigi adalah sebuah penyakit infeksiyang merusak struktur gigi (MedlinePlus MedicalEncyclopedia, 2006). Penyakit ini menyebabkan gigiberlubang. Di Indonesia, menurut hasil RisetKesehatan Dasar 2007 (Jennifer, 2015 h.118),prevalensi karies gigi aktif penduduk usia 12 tahun keatas sebesar 43,4% dan pengalaman karies sebesar67,2% dengan rerata tingkat kerusakan gigi sebesar4,85% (Departemen Kesehatan, 2008). Artinya reratapenduduk Indonesia usia 12 tahun keatas telahmengalami kerusakan gigi sebesar 5 buah per orang.Karies gigi yang merupakan masalah utama penyakitgigi dan mulut, bila tidak dilakukan pencegahan danperawatan maka akan semakin parah dan meningkatkasusnya.Berdasarkan permasalahan tersebut, penelititertarik untuk melakukan penelitian yang n Air Hujan di Dusun en Purbalingga Tahun 2018”.2.Bahan dan MetodePenelitian ini termasuk jenis penelitiandeskriptif dengan cara melakukan observasi danwawancara mengenai penampungan air hujan,dokumentasi, serta pemeriksaan kualitas air meliputisuhu, pH, kekeruhan dan fluorida.Waktu dalam penelitian ini dibagi menjadi 3tahap yang pertama tahap persiapan SeptemberJanuari 2017, tahap pelaksanaan Januari-April 2018,dan tahap penyelesaian Mei 2018.Cara PengumpulanData yaitu dokumentasi dilakukan untuk mendapatkandata profil Desa Kutabawa dan jumlah penampunganair hujan di Dusun Bambangan, kemudian observasidilakukan untuk memperoleh data bahan bidangpenangkap air, bahan bak penampungan air hujan danKeslingmas Vol.38 No.3 Hal.1-62 27

unit pengolahan air hujan lalu yang terakhir eh data kandungan fluorida, suhu, pH dankekeruhan.Instrumen pengumpul data dalam penelitian iniberupa dokumen dari Kantor Desa Kutabawa, ceklistpenampungan air hujan, ceklist kondisi umumkesehatan lingkungan dan seperangkat alatlaboratorium.Analisis yang digunakan dalam penelitianadalah deskriptif dengan menguraikan hasil yangdisajikan dalam bentuk tabel, grafik dan narasi.Kemudian data dibandingkan dengan acuan teoritisserta standar persyaratan yang berlaku.3. Hasil dan PembahasanA. Gambaran UmumKeadaan Geografi : Dusun Bambanganmerupakan salah satu dusun di Desa Kutabawa,Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga.Dusun ini berada pada ketinggian 1.502 mdpl.Bambangan terdiri dari 1 RW yang dibagi menjadi 3RT yaitu RT 17 RW 05, RT 18 RW 05 dan RT 19 RW05. Penduduk Dusun Bambangan berjumlah 1.312jiwa dengan jumlah KK 379. Di Dusun Bambanganterdapat 234 unit rumah. Mayoritas penduduk DusunBambangan bekerja sebagai petani sayur-sayuran.Dusun Bambangan merupakan salah satu jalurpendakian Gunung Slamet. Dusun ini merupakandusun terakhir menuju jalur pendakian. Berada diketinggian 1.502 mdpl, Dusun Bambangan termasukdusun yang sulit mendapatkan air bersih. Hal inidisebabkan karena di Dusun Bambangan tidakditemukan mata air dan sulitnya membuat sumur bor.Aliran air tanah yang terlalu dalam dan struktur tanahyang berbatu membuat warga tidak mampu membuatsumur bor.Menurut Henry (1998 h. 456), tanah di daerahdengan gunung-gunung memiliki kemiringan yangcuram. Sama halnya dengan Dusun Bambangan,letaknya yang terlalu tinggi, kemiringan yang curamdan tidak terdapat mata air menyebabkan proyekpenyediaan air bersih seperti PAMSIMAS tidak dapatterealisasi di Dusun Bambangan. Untuk mengatasi halini, warga menggunakan air hujan sebagai alternatifterakhir untuk mencukupi kebutuhan air bersihmereka.Kondisi Umum Kesehatan Lingkungan :Dusun Bambangan merupakan Dusun denganlingkungan yang sejuk dan asri. Penduduk DusunBambangan memiliki rumah dengan bangunanpermanen dan semi permanen. Lahan di sekitar rumahpenduduk dimanfaatkan sebagai lahan pertanian dankandang ternak. Lingkungan Dusun Bambanganbersih dengan tidak terlihat sampah yang berserakan.Di Dusun Bambangan tidak ditemukan mataair, selain itu proyek penyediaan air bersih sepertiPAMSIMAS tidak terealisasi di dusun ini. Alternatifterakhir, sumber air bersih yang digunakan pendudukDusun Bambangan berasal dari air hujan. Curah hujanyang tinggi sepanjang tahun dapat mencukupikebutuhan air penduduk. Ketika kemarau tiba,penduduk harus membeli air dari mobil tangki airyang datang tetapi hal ini sangat jarang terjadi.Penggunaan air hujan ini cukup sederhana. Pendudukmenampung air hujan yang jatuh dari atap rumah disebuah bak penampungan.Menurut BPPT, rain harvesting ataupemanenan air hujan adalah kegiatan menampung airhujan secara lokal dan menyimpannya melaluiberbagai teknologi, untuk penggunaan masa depanuntuk memenuhi tuntutan konsumsi manusia ataukegiatan manusia. Di Indonesia, penggunaanpenampungan air hujan banyak digunakan di daerahdengan ketersediaan air tawar yang terbatas.Sebuah sistem pemanenan air hujan terdiri daritiga elemen dasar yaitu area koleksi, sistem alatangkut dan fasilitas penyimpanan. Di DusunBambangan, elemen penampungan air hujan yangdigunakan yaitu area koleksi (atap rumah) yangberbahan seng galvalum, sistem alat angkut (talangair) yang berbahan PVC dan fasilitas penyimpanan(bak penampungan air hujan) yang terdiri dari bakferrosemen, jerican, drum dan tangki air. Mayoritaspenduduk Dusun Bambangan belum memiliki sistempenampungan air hujan yang sesuai dengan referensi.Masih banyak penampungan air hujan yang hanyaterdiri dari dua elemen yaitu area penangkap air hujandan bak penampung air hujan.Selain itu menurut UNEP (2001), penyaringanperlu dilakukan untuk mencegah masuknyakontaminan ke dalam bak penampungan. Sumberutama dari kontaminasi adalah kontaminasi dari bahanbangunan, burung, kotoran hewan dan serangga yangmasuk kedalam bak penampungan. Bak penampunganyang terbuka tidak direkomendasikan untukmenyimpan air yang akan dimanfaatkan sebagai airminum. Sebuah tutup yang aman diperlukan untukmencegah perkembangbiakan nyamuk, mencegahmasuknya serangga dan hewan lainnya kedalam bakpenampungan dan untuk menghindari masuknya sinarmatahari kedalam bak untuk mencegah tumbuhnyaalga. Di Dusun Bambangan, mayoritas sistempenampungan air hujan yang digunakan tidakdilengkapi dengan saringan dan dalam kondisi yangselalu terbuka. Hal ini berakibat pada terdapatnyaberbagai partikel kotoran pada air di dalam bakpenampungan.Penduduk Dusun Bambangan mengalirkanlimbah cair domestiknya ke selokan yang nantinyaakan diresapkan. Sedangkan untuk tinja, pendudukDusun Bambangan sudah menggunakan septic tank.Keslingmas Vol.38 No.3 Hal.1-62 28

ISSDP (2010 h.18) menyatakan bahwa sistempengolahan air limbah dibagi menjadi tiga yaitu sistemsetempat dimana air limbah langsung diolah di tempat,sistem terpusat dimana air limbah dialirkan melaluiperpipaan ke IPAL, dan sistem hibrida yaitukombinasi dari sistem terpusat dan sistem setempat.Menurut ISSDP, sistem setempat yang memadai perluceruk atau tangki untuk menampung endapan tinja(sludge), juga tergantung pda permeabilitas tanahuntuk menapis air limbah ke dalam tanah. Dengandemikian, pengolahan limbah di Dusun Bambangansudah cukup baik.Di Dusun Bambangan belum tersedia fasilitasuntuk pengumpulan dan pengangkutan sampah.Penduduk mengelola sampahnya sendiri-sendiri.Pendudduk mengolah sampah dengan cara membakarsampah plastik dan mengubur sampah organik dikebun. Kotoran ternak dimanfaatkan sebagai pupuk.Penduduk tidak melakukan daur ulang sampah.Menurut PP No 81 Tahun 2012 TentangPengelolaan Sampah Rumah Tangga dan SampahSejenis Rumah Tangga, setiap orang wajib melakukanpengurangan sampah dan penanganan sampah.Pengurangan sampah dilakukan dengan pembatasantimbulan sampah, pendauran ulang sampah danpemanfaatan kembali sampah. Penanganan sampahmeliputi pemilahan, pengumpulan, pengangkutan,pengolahan dan pemrosesan akhir sampah.Pemrosesan sampah meliputi proses pemadatan,pengomposan, daur ulang mater, dan/atau daur ulangenergi. Pengelolaan sampah di Dusun Bambanganbelum sesuai dengan PP No 81 Tahun 2012 TentangPengelolaan Sampah Rumah Tangga dan SampahSejenis Rumah Tangga. Meskipun demikian, DusunBambangan tetap terlihat bersih dan tidak ada sampahyang berserakan.B. Data Khusus1. Penampungan Air HujanMenurut Abdulla et al., (2009); Song et al.,(2009); UNEP (2001) (Yulistyorini, 2011 h.107),Sistem PAH umumnya terdiri dari beberapa sistemyaitu: tempat menangkap hujan (collection area),saluran air hujan yang mengalirkan air hujan daritempat menangkap hujan ke tangki penyimpanan(conveyance), filter, reservoir (storage tank), saluranpembuangan, dan pompa. Di Dusun Bambangan,Komponen penampungan air hujan di setiap rumahbervariasi. Komponen Penampungan Air Hujan yangumumnya terdiri dari bidang penangkap air hujan, bakpenampungan air hujan dan unit pengolahan air hujan.Bidang Penangkap Air Hujan : Bidangpenangkap air hujan berupa atap rumah yang berbahanseng galvalum. Thomas dan Martinson (2007, h.60)menyatakan bahwa atap dengan jenis seng memilikikoefisien run off 0,9 sehingga air hujan dapatmengalir dengan baik ke bak penampung. Kualitas airhujan yang melewati atap seng sangat baik.Permukaan seng yang halus dan memiliki suhu tinggimembantu mensterilkan bakteri. Namun, penggunaanseng sebagai bidang penangkap dapat merugikanapabila seng yang digunakan sudah berkarat. Sengyang berkarat dapat menyababkan air yangtertampung terkontaminasi oleh partikel hasil korosi.Bahaya yang ditimbulkan dari korosi adalah akanmerusak jaringan dalam tubuh manusia (Wahyu et al,2014 h.355).Setelah melewati atap rumah, air hujan akanmengalir menuju bak penampungan air melalui talangair atau langsung ke dalam bak. Berdasarkanpenggunaan talang air, terdapat dua sistempenampungan air hujan yaitu penampungan air hujandengan talang air dan penampungan air hujan tanpatalang air. Talang air yang digunakan berjenis PVC.Menurut UNEP (2001), jenis pipa atau talang yangdigunakan sebagai pengalir air hujan sebaiknyaterbuat dari material plastik, PVC, atau zat inertlainnya untuk mengantisipasi pH air hujan yang dapatbersifat asam dan menyebabkan korosi dan migrasi zatkimia pada pipa logam. Dengan demikian,penggunaan talang air berbahan PVC sebagai pengaliraliran sudah tepat.Bak Penampungan Air hujan : Bahan bakpenampung air hujan yang digunakan yaitu plastik danferrosemen yang dilapisi plastik polyethylene. Bakpenampung berbahan plastik yang berupa beberapajerican HDPE (high density polyethylene) dengankapasitas setiap jerican 30 liter, drum plastik HDPE(high density polyethylene) kapasitas 150 liter dantangki air polyethylene dengan kapasitas 3100 liter.Berikut ini merupakan hasil observasi jenis bahan bakpenampungan air hujan:Tabel 1. Jenis Bahan Bak Penampungan Air HujanNo.AlamatJenis Bahan Bak Penampung(RT/RW)0119/05Plastik (7 jerican @30 liter)0219/05Ferrosemen berlapis plastik(24.000 liter)0319/05Plastik (tangki 3.100 liter)0419/05Plastik (1 drum plastik 150 liter)0519/05Ferrosemen berlapis plastik(20.000 liter)0618/05Plastik (tangki 3.100 liter)0718/05Plastik (tangki 3.100 liter)0818/05Plastik (6 jerican @30 liter)0918/05Ferrosemen berlapis plastik(15.000 liter)1018/05Plastik (7 jerican @30 liter)1117/05Ferrosemen berlapis plastik(8.000 liter)1217/05Plastik (7 jerican @30 liter)1317/05Plastik (9 jerican @30 liter)1417/05Ferrosemen berlapis plastik(20.000 liter)1517/05Plastik (6 jerican @30 liter)Ferrosemen berlapis plastik : Pengguna bakpenampung air hujan yang berjenis ferrosemenberlapis plastik berjumlah 5 responden atau 33,3%.Plastik yang digunakan sebagai pelapis berjenispolyethylene. Polyethylene adalah termoplastik semiKeslingmas Vol.38 No.3 Hal.1-62 29

crystalline. Menurut UNEP (2001), penggunaanpolyethylene sebagai bahan bak penampungmerupakan pilihan yang tepat.Jerican : Pengguna bak penampung air hujanyang berupa jerican ada 6 responden. Penggunajerican menampung air hujan lebih dari satu kalidalam sehari tergantung dari jumlah hujan pada hariitu. Jerican yang digunakan berbahan dasar highdensity polyethylene (HDPE).HDPE merupakan salah satu bahan plastikyang aman untuk digunakan karena kemampuan untukmencegah reaksi kimia antara kemasan plastikberbahan HDPE dengan makanan/minuman yangdikemasnya. Sama seperti PET, HDPE jugadirekomendasikan hanya untuk sekali pemakaian,karena pelepasan senyawa antimoni trioksida terusmeningkat seiring waktu (Syamsul, 2010 h. 20).HDPE adalah polimer termoplastik linear yang dibuatdari monomer etilen dengan proses katalitik. HDPEdengan sedikit cabang menghasilkan struktur yanglebih rapat/terjejal dengan densitas yang lebih tinggidan mempunyai ketahanan kimia yang lebih tinggidaripada LDPE (Yatim et al, 2009 h.348).Drum Plastik : Pengguna bak penampung airhujan yang berupa drum plastik ada 1 responden atau6,7 %. Responden menggunakan 1 unit drum berbahanhigh density polyethylene (HDPE) berkapasitas 150liter untuk menampung air hujan. Terdapat talang airPVC sebagai pengalir aliran.Tangki Air : Pengguna bak penampung airhujan yang berupa tangki air ada 3 responden atau20%. Tangki air yang digunakan berbahan dasarpolyethylene. Ada responden yang menggunakantalang air sebagai pengalir aliran, namun ada jugayang tidak menggunakan talang air.Menurut UNEP (2001), bak penampung airhujan sebaiknya terbuat dari material inert, betonbertulang, fiberglass, polyethylene, dan stainless steel.Tangki ferrosemen yang terbuat dari mortar adalahyang paling umum digunakan. Dengan demikian,penggunaan jenis bahan bak penampungan air hujan diDusun Bambangan sudah tepat. Namun, terdapat halyang harus diwaspadai yaitu penggunaan bakberbahan plastik yang berpotensi terjadi migrasisenyawa kimia dari bak penampungan ke air yangditampung.Kondisi Bak Penampungan Air Hujan :Kondisi bak penampungan air hujan di DusunBambangan terbagi menjadi dua jenis yaitu bakpenampungan yang kondisinya tertutup dan bakpenampungan yang kondisinya terbuka. Bakpenampungan dengan kondisi tertutup adalah bakferrosemen berlapisplastik sedangkanbakpenampungan dengan kondisi terbuka adalah bak yangterbuat dari plastik yaitu drum, jerican dan tangki air.Berikut ini merupakan hasil observasi kondisi bakpenampungan air hujan di Dusun Bambangan:Tabel 2. Kondisi Bak Penampungan Air HujanNo. Alamat (RT/RW)Kondisi 17/05Tertutup1517/05TerbukaMenurut UNEP (2001), bak penampunganyang terbuka tidak direkomendasikan untukmenyimpan air yang akan dimanfaatkan sebagai airminum. Sebuah tutup yang aman diperlukan untukmencegah perkembangbiakan nyamuk, mencegahmasuknya serangga dan hewan lainnya kedalam bakpenampungan dan untuk menghindari masuknya sinarmatahari kedalam bak untuk mencegah tumbuhnyaalga. Kondisi bak penampungan yang terbuka diDusun Bambangan menyebabkan terdapat partikelkotoran berupa debu dan dedaunan di dalam bakpenampungan air hujan. Hal ini akan menyulitkanpemanfaatan penampungan air hujan karena penggunaharus mengendapkan airnya terlebih dahulu.Unit Pengolah Air Hujan : Media penyaringyang digunakan berupa kain yang diletakkan dipangkal talang air. Air yang mengalir dari bidangpenangkap akan disaring terlebih dahulu sebelummengalir melalui talang. Tidak semua wargamenggunakan media penyaring. Berikut inimerupakan hasil observasi unit pengolah air hujan diDusun Bambangan :Tabel 3. Unit Pengolah Air HujanNo.AlamatUnit Pengolah Air Hujan(RT/RW)0119/05Tidak ada0219/05Ada0319/05Tidak ada0419/05Tidak ada0519/05ada0618/05Tidak ada0718/05Tidak ada0818/05Tidak ada0918/05ada1018/05Tidak ada1117/05ada1217/05Tidak ada1317/05Tidak ada1417/05ada1517/05Tidak adaKeslingmas Vol.38 No.3 Hal.1-62 30

Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umumdan Perumahan Rakyat Nomor 27/PRT/2016 tentangPenyelenggaraan Sistem Air Minum, unit pengolahanair hujan yang biasa digunakan yaitu berupa saringanyang berfungsi menyaring air hujan dari kotoran.Media penyaring dapat berupa pasir dengankerikil/pecahan bata/marmer sebagai penyangga.Media penyaring ini dapat diletakkan di atas bakpenampung dan/atau sebelum kran.Penggunaan saringan kain membuat air dalambak penampungan air hujan jernih, bersih dan bebasdari berbagai macam partikel kotoran. Sedangkanresponden yang tidak menggunakan saringan, dalambak penampungan air hujan terdapat kotoran berupadaun dan partikel kotoran yang berasal dari ataprumah. Air dari bak langsung digunakan untukkeperluan sehari-hari dengan cara dituang ke dalambak dan penampungan air yang ada di dalam rumah.Responden yang tidak menggunakan saringan adalahresponden dengan bak penampung berjenis plastikseperti drum, jerican dan tangki air.II. Kualitas Air di Penampungan Air Hujan :Menurut UNEP dalam Yulistyorini (2011, h.110), airhujan hampir tidak mengandung kontaminan, olehkarena itu air tersebut sangat bersih dan bebaskandungan mikroorganisme. Namun, ketika air hujantersebut kontak dengan permukaan tangkapan airhujan, tempat pengaliran air hujan dan tangkipenampung air hujan, maka air tersebut akanmembawa kontaminan baik fisik, kimia maupunmikrobiologi. Menurut Horn dan Helmreich (2009)dalam Yulistyorini (2011, h.111), di daerah pinggirankota atau di pedesaan, umumnya air hujan yangditampung sangat bersih. Sampel air hujan diambildari penampungan air hujan yang berbahan plastiksebanyak 1 sampel dan dari penampungan air hujanyang berbahan ferrosemen berlapis plastik sebanyak 1sampel. Kualitas air yang diukur adalah suhu, pH,kekeruhan dan Fluorida.Suhu : Suhu atau temperatur air akanmempengaruhi kesukaan konsumen terhadap airtersebut. Penyimpangan terhadap suhu air dapatmengakibatkan meningkatnya daya toksisitas bahankimia dan meningkatkan pertumbuhan mikroba didalam air (Sanropie et al, 1984 h.56). Berikut inimerupakan hasil pengukuran suhu air penampunganair hujan :Tabel 4. Hasil Pengukuran Suhu Air PAHNo. Bahan BakKondisiUnitSuhuBakPengolah (oC)AirHujan01 PlastikTerbukaTidak20(jerican)ada02 FerrosemeTertutupAda21n berlapisplastikSuhu sampel pertama yaitu 20oC. Sampelpertama merupakan air dari penampungan air hujanmilik responden nomor 01. Bak penampungan terbuatdari bahan jerican HDPE, kondisi bak terbuka dantidak terdapat unit pengolah air hujan.Suhu sampel kedua adalah 21oC. Sampelkedua merupakan air dari penampungan air hujanmilik responden nomor 02. Bak penampungan terbuatdari bahan ferrosemen berlapis plastik polyethylene,kondisi bak tertutup dan terdapat unit pengolah airhujan berupa saringan kain. Berdasarkan PeraturanMenteri Kesehatan RI No.32 tahun 2017, suhu sampelair responden 01 dan 02 masih memenuhi syarat.pH : Derajat keasaman atau pH merupakansalah satu faktor yang sangat penting. pH dapatmenyebabkan perubahan kimiawi di dalam air.Apabila pH lebih kecil dari 6,5 atau lebih besar dari9,2, dapat menyebabkan korosifitas pada pipa-pipa airyang dibuat dari logam dan dapat mengakibatkanbeberapa senyawa kimia berubah menjadi racun yangdapat mengganggu kesehatan manusia (Sanropie et al,1984 h.57). Menurut Qasim (2002, h.22), pH air hujanpada umumnya adalah 7,0. Berikut ini merupakanhasil pengukuran pH air penampungan air hujan :Tabel 5. Hasil Pengukuran pH Air PAHNo. Bahan BakKondisiUnitpHBakPengolahAir Hujan01 PlastikTerbukaTidak ada8,1(jerican)02 Ferrosemen TertutupAda8,4berlapisplastikpH sampel pertama yaitu 8,1. Sampel pertamamerupakan air dari penampungan air hujan milikresponden nomor 01. Bak penampungan terbuat daribahan jerican HDPE, kondisi bak terbuka dan tidakterdapat unit pengolah air hujan. pH sampel keduaadalah 8,4.Sampel kedua merupakan air daripenampungan air hujan milik responden nomor 02.Bak penampungan terbuat dari bahan ferrosemenberlapis plastik polyethylene, kondisi bak tertutup danterdapat unit pengolah air hujan berupa saringan kain.Berdasarkan Permenkes No. 32 Tahun 2017, pHsampel air responden 01 dan 02 memenuhi syarat.Kekeruhan:Airdikatakankeruh,mengandung begitu banyak partikel bahan yangtersuspensi sehingga memberikan warna yangberlumpurataukotor.Bahan-bahanyangmenyebabkan kekeruhan ini meliputi : tanah liat,lumpur, bahan organik yang tersebar secara baik danpartikel-partikel yang tersuspensi lainnya (Syamsul,2010 h.31). Sanropie et al (1984, h. 57) menyatakanbahwa penyimpangan terhadap standar kualitas dalamhal kekeruhan melebihi batas yang telah sinfeksi air. Berikut ini merupakan hasil pengukurankekeruhan air penampungan air hujan :Keslingmas Vol.38 No.3 Hal.1-62 31

Tabel 6. Hasil Pengukuran Kekeruhan Air TU)Hujan01 PlastikTerbukaTidak 5(jerican)ada02 Ferrosem TertutupAda 5enberlapisplastikPengukuran kekeruhan air penampungan airhujan dilakukan kepada dua responden yaituresponden nomor 01 dan responden 02. Kedua sampelmemiliki kekeruhan 5 NTU. Berdasarkan PermenkesNo. 32 Tahun 2017, kekeruhan sampel responden 01dan 02 memenuhi syarat kekeruhan air bersih yangditetapkan yaitu 25 NTU.Fluorida : Fluorida adalah zat yang unik karenaadanya konsentrasi tertinggi dan terendah dalam airminum yang diketahui dapat mengakibatkan efek yangmengganggu maupun yang bermanfaat bagi manusia.Konsentrasi rendah (0,5 – 1,0 mg/ liter) memberiperlindungan terhadap karies gigi, khususnya padaanak-anak. Konsentrasi minimum fluorida dalam airminum yang harus dicapai adalah 0,5 mg/liter. Untukproses fluoridasi air minum, nilai yang ditetapkanadalah 0,5 – 1,0 mg/liter (WHO, 2004). Pemeriksaanfluorida dilakukan di Laboratorium KesehatanMasyarakat Kabupaten Banyumas dengan metodespektrofotometri. Sampel air hujan yang diperiksasebanyak 2 sampel yaitu sampel air dari responden 01dan sampel air dari responden 02. Berikut inimerupakanhasilpemeriksaanfluoridaairpenampungan air hujan :Tabel 7. Hasil Pemeriksaan Fluorida Air PAHNo.BahanKondisiUnitFluoridaBakBakPengola(Mg/L)h AirHujan01 PlastikTerbukaTidak0,0004(jerican)ada02 Ferrosem TertutupAda0,0002enberlapisplastikResponden 01 adalah pengguna bakpenampungan jerican HDPE tanpa talang dan saringansedangkan responden 02 adalah pengguna bakpenampungan ferrosemen berlapis plastik dengantalang dan saringan. Kandungan fluorida pada sampelair responden 01 adalah 0,0004 mg/liter dankandungan fluorida pada sampel air responden 02adalah 0,0002 mg/liter.Qasim (2002, h.22) menyatakan bahwa airhujan tidak mengandung mineral fluorida. Namun,sampel air hujan di PAH Dusun Bambanganmengandung fluorida sebesar 0,0004 mg/liter untukresponden 01 dan 0,0002 mg/liter untuk responden02. Menurut Sanropie (1984, h. 55), penyimpangankualitas air dapat diakibatkan salah satunya olehsistem pengolahan air yang digunakan. Kandunganfluorida pada sampel responden 01 dan 02 dapatberasal dari migrasi zat dari komponen penampunganair hujan. Komponen tersebut adalah bidangpenangkap (atap), talang air, saringan dan bakpenampung air hujan.Menurut Klima-og Forurensningsdirektoratet(2013, h.104), salah satu bahan yang digunakan ctanoic acid (PFOA) dan senyawa sejenis.PFOA digunakan dalam jumlah yang sangat sedikitsebagai dispersing agent. PFOA tidak terikat secarakimiawi, zat ini akan bermigrasi. Percobaan mengenaimigrasi PFOA dilakukan dengan wajan penggorenganTeflon (Du Pont PTFE) yang arboxylic pada suhu 360 C (Sebuah wajanyang berlapis PTFE dapat mencapai 400 C). Dengandemikian, diduga bahwa kandungan fluorida di sampelresponden berasal dari migrasi perfluorooctanoic acid(PFOA) dan senyawa sejenis dari bahan bakpenampung. Oleh karena itu, diperlukan penelitianlebih lanjut terkait migrasi perfluorooctanoic acid(PFOA) dan senyawa sejenis dari bak penampunganair hujan yang berbahan plastik ke dalam air.Kandungan fluorida kedua sampel adalah0,0004 mg/liter untuk responden 01 dan 0,0002mg/liter untuk responden 02. Nilai tersebut sangatkecil dibandingkan dengan batas minimal yangditetapkan oleh WHO yaitu 0,5 – 1,0 mg/liter.Kandungan fluorida yang sangat sedikit dapatmeningkatkan prevalensi karies gigi. Angela (2005,h.132) menyatakan bahwa pada anak yang berisikokaries tinggi dilaporkan bahwa penggunaan fluor inihampir tidak ada. Untuk mengatasi permasalahan ini,alternatif yang dapat dilakukan adalah melakukanfluoridasi air dan mengonsumsi fluorida dari sumberlain seperti makanan dan pasta gigi. Konsumsifluorida makanan seperti sayuran, susu, telur, dagingdan penggunaan pasta gigi berfluorida lebihdirekomendasikan karena lebih terjangkau dan mudahuntuk dilakukan.PenutupKesimpulan : Penduduk Dusun Bambanganmenggunakan bahan bidang penangkap air hujanberjenis seng galvalum. Unit pengolahan air hujanyang digunakan berupa saringan kain. Bahan bakpenampungan air hujan yang digunakan terdiri dariferrosemen berlapis plastik polyethylene, jerican highdensity polyethylene, drum high density polyethylenedan tangki air polyethylene. Kandungan fluorida padaair di penampungan air hujan adalah 0,0002 mg/liter 0,0004 mg/liter. Suhu air di penampungan air hujanadalah 20oC - 21oC. Kekeruhan air di penampunganair hujan adalah 5 NTU. pH air di penampungan airhujan adalah 8,1 – 8,4.Saran : Sebaiknya sistem penampungan airhujan dilengkapi dengan komponen dan prosesKeslingmas Vol.38 No.3 Hal.1-62 32

pengolahan air hujan sesuai Peraturan MenteriPekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor27/PRT/2016 dan perlu dilakukan proses fluoridasi airPAH. Untuk mencukupi kebutuhan fluorida,sebaiknya penduduk Dusun Bambangan mengonsumsimakanan yang mengandung fluorida dan pasta gigiberfluorida. Diperlukan penelitian lebih lanjut tentangmigrasi senyawa perfluorooctanoic acid (PFOA) dansenyawa sejenis dari bak penampung air hujan.Daftar PustakaAchmad, Rukaesih, 2004, KimiaYogyakarta: Andi OffsetLingkungan.Anie, Yulistyorini, 2011, Pemanenan Air HujanSebagai Alternatif Pengelolaan Sumber DayaAir Di Perkotaan, Univeritas Negeri Malang:Majalah Teknologi Dan Kejuruan, Vol. 34, No.1, (Februari 2011:105-114)Dégremont, Gilbert. 1991. Water TreatmentHandbook. France: DÉGREMONTDepkes RI, 1990, Peraturan Menteri KesehatanRepublik Indonesia Nomor 32 Tahun 2017,tentang Standar Baku Mutu KesehatanLingkungan Dan Persyaratan Kesehatan AirUntuk Keperluan Higiene Sanitasi, KolamRenang, Solus Per Aqua, Dan PemandianUmum. Jakarta: Depkes RIDjasio, Sanropie dkk, 1984, pedoman bidang studiPenyediaan Air Bersih sekolah pembantupenilik higiene SPPH, Proyek PengembanganPendidikan Tenaga Sanitasi Pusat PusatPendidikan dan Latihan Pegawai DepartemenKesehatan RIFoth, D. Henry. 1998. Dasar-Dasar Ilmu Tanah,Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.G. Alerts dan Sri Sumestri Santika, 1987,MetodePenelitian Air, Surabaya: Usaha NasionalHadisusanto, Nugroho. 2011. Aplikasi Hidrologi.Yogyakarta: Jogja rmasalahan”diakses pada desember ah/spah.html, “Sistem Pemanfaatan Air Hujan diakses pada 2018/03/22/468/selamat-hari-air-dunia-2018, “Selamat HariAir Dunia 2018” diakses pada Juni 2018http://www.sanitasi.or.id/?p 709,“SanitasidanSustainable Development Goals (SDG’s)”diakses pada Juni 2018Jennifer, Bills Sumiok, dkk, 2015, Gambaran KadarFluor Air Sumur Dengan Karies Gigi Anak diDesa Boyongpante Dua 2015, Universitas SamRatulangi: Majalah Ilmiah Farmasi – UNSRATVol. 4 No. 4 November 2015Klima- og Forurensningsdirektoratet, 2013, HazardousSubstances In Plastic Materials, Denmark:Danish Institute of TechnologyKodoatie, J. Robert dan Roestam Sjarief, 2008,Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu.Yogyakarta: ANDI offsetLaboratorium Kesehatan Masyarakat Banyumas,Panduan Pelaksanaan Pemeriksaan Sampel AirLaboratoriumKesehatanMasyarakatKabupaten Banyumas.Muharti, Syamsul, 2010, “Studi Tentang KualitasFisik Air Minum dalam Kemasan (Amdk)Sebelum Dan Sesudah Terpapar Oleh CahayaMatahari Di Kota Makassar Tahun 2010”.Skripsi. Universitas Islam Negeri AlauddinMakassar: Jurusan Kesehatan MasyarakatNetherlands Water Partnership. 2007. Smart WaterHarvestingSolutions. Netherland: NWPPeraturan Menteri Pekerjaan Umum RepublikIndonesia nomor 11/PRT/M/2014 tentangPengelolaan Air Hujan pada Bangunan Gedungdan PersilnyaPeraturan Menteri Pekerjaan Umum Dan PerumahanRakyat Nomor 27/PRT/M/2016TentangPenyelenggaraan Sistem Penyediaan AirMinumQasim, Syed R, dkk. 2002. Water Works Engineering:Planning Design and Operation. New Delhi:Prentice-Hall of India Private LimitedQonitati, 2013, “Studi Pengelolaan Air Bersih padaPelaksanaan Program Penyediaan Air Minumdan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas)di Desa Sikasur, Kecamatan Belik, KabupatenPemalang Tahun 2013” KTI, PoliteknikKesehatan Kementerian Kesehatan Semarang:Jurusan Kesehatan Lingkungan PurwokertoKeslingmas Vol.38 No.3 Hal.1-62 33

Standar Nasional Indonesia SNI 6989.57:2008, Airdan air limbah – Bagian 57: Metodapengambilan contoh air permukaan, Jakarta:Badan Standarisasi NasionalSutrisno, Totok, dkk. 2010. Teknologi Penyediaan AirBersih. Jakarta: Rineka CiptaThomas, T.H. dan Martinson, D.B. 2007, RoofwaterHarvesting: A Handbook of Practicioners.Delft, The Netherlands: IRC InternationalWater and Sanitation Centre. (Technical PaperSeries; no. 49). 160 p.UNEP, 2001, Rainwater Harvesting and Utilisation:An Environmentally Sound Approach forSustainable Urban Water Management.Untari, Tanti dan Joni Kusnadi, 2015, PemanfaatanAir Hujan Sebagai Air Layak Konsumsi DiKota Malang Dengan Metode ModifikasiFiltrasi Sederhana, Universitas Brawijaya:Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 3 No 4p.1492-1502.World Health Organization. 2014. Pedoman Mutu AirMinum Edisi 3. Jakarta: ion Of HDPE Plastic Film ForHerbicide Container Using Fly Ash Class F AsFiller, Institut Teknologi Sepuluh November:Indo. J. Chem, 2009, 9 (3), 348 – 354,Keslingmas Vol.38 No.3 Hal.1-62 34