aaaaaaa

Transcription

JP3I Vol. 6 No. 2 Juli 2017PENGARUH TRAIT KEPRIBADIAN (PERSONALITY)DAN DUKUNGAN SOSIAL TERHADAPRISK TAKING BEHAVIOR PADAPENDAKI GUNUNGMuchammad Akbar FajarFajarakbar39@gmail.comAnggota HIMPSI Provinsi BantenIkhwan LutfiIkhwan.Lutfi@uinjkt.ac.idFakultas Psikologi UIN SyarifHidayatullah JakartaAbstractThis study aims to determine the effect of variable trait of personality and social support for risktaking behavior on the mountaineers in Jabodetabek. Sample of 204 mountaineers in Jabodetabektaken by accidental sampling technique. The instrument used in this study there are three scales, thescale of personality traits, social support scale and the scale of risk-taking behavior. Test the validityof measurement tools using techniques confirmatory factor analysis (CFA). While the analysis ofdata using multiple regression techniques. The results of this study indicate that there is a significantinfluence on the personality trait variable, and the scale of social support on risk-taking behavior onthe mountaineers in Jabodetabek. The magnitude of the effect of all independent variables on therisk-taking behavior is by 28.1%, while the rest influenced by other variables outside of this study.While the results of the analysis of the proportion of the variance of each variable separately, wasfound the greatest contribution to the risk-taking behavior is honesty-humility, extraversion,conscientioussnness, the personality trait of variables, and the reassurance of worth, opportunity fornurturance of social support variables. This study will get better results when using a widerpopulation, in order to get richer data and can compare with the factors that can be observedspeckle.Keyword : Risk Taking Behavior, Trait Personality, Social Support.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel trait kepribadian &dukungan sosial terhadap risk taking behavior pada pendaki gunung di Jabodetabek. Sampelberjumlah 204 pendaki gunung di Jabodetabek yang diambil dengan teknik accidentalsampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdapat tiga skala, yaitu skalatrait kepribadian, skala dukungan sosial dan skala risk taking behavior. Uji validitas alatukur menggunakan teknik confirmatory factor analysis (CFA). Sedangkan analisis datamenggunakan teknik multiple regression. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adapengaruh yang signifikan dari variabel trait kepribadian, dan skala dukungan sosialterhadap risk taking behavior pada pendaki gunung di Jabodetabek. Besarnya pengaruhseluruh variabel independen terhadap risk taking behavior adalah sebesar 28,1% sedangkansisanya dipengaruhi oleh variabel lain diluar penelitian ini. Sementara hasil analisisproporsi varians masing-masing variabel secara terpisah, ditemukan sumbangan yangpaling besar terhadap risk taking behavior adalah honesty-humility, extraversion,conscientioussnness, dari variabel trait kepribadian, dan reassurance of worth, opportunity fornurturance dari variabel dukungan sosial. Penelitian ini akan mendapatkan hasil yang lebihbaik apabila menggunakan populasi yang lebih luas, agar mendapatkan data yang lebihberagam dan dapat membandingkan dengan faktor yang belum bisa diteliti.Katakunci : Risk Taking Behavior, Trait Kepribadian, Dukungan Sosial.Diterima: 11 April 2017Direvisi: 16 Mei 2017Disetujui:21 Juni 2017129

Pengaruh trait kepribadian (personality) dan dukungan sosial terhadap risk taking behavior pada pendaki gunungPENDAHULUANMendaki gunung digolongkan sebagai perilaku yang membahayakan, danberisiko. Selain itu mendaki gunung juga sering dikelompokan sebagai olahragayang ekstrim. Apabila olahraga lainnya mengedepankan persaingan dengankompetitor, maka mendaki gunung sebagai olahraga ekstrem berfokus padamenaklukkan rasa takut pada diri sendiri, dan bagaimana kita bisa menghadapitantangan alam. Kondisi lingkungan yang tidak bisa ditebak, seperti cuaca yangtidak menentu dan medan yang berat terkait termasuk ketinggian, angin, air, saljudan dataran ekstrim, menjadi bagian dari tantangan yang harus bisa ditaklukkanpara penikmat olahraga ekstrim. (www.detik.com, diakses tanggal 20 Juli 2016).Mendaki gunung sebagai olahraga ekstrem tentu juga punya tingkat risikoyang tinggi bagi para pendakinya, yang terdiri dari risiko primer dan risikosekunder. Risiko primer adalah ancaman yang datangnya dari lingkungan; cuaca,binatang buas dan gangguan alam, tersesat, terjatuh kejurang, menghirup gasberacun, hingga terkena longsoran material vulkanik. Sedangkan risiko sekunderadalah ancaman dari internal diri sendiri; tersesat dan keletihan, kehabisanlogistik, penyakit bawaan, hingga mengalami penyakit hipotermia atau suatukondisi di mana mekanisme tubuh untuk pengaturan suhu kesulitan mengatasitekanan suhu dingin sampai menyebabkan kematian. (www.viva.com, diaksestanggal 19Juli 2016).Selama dua dekade terakhir, tingkat partisipasi dalam olahraga ekstrimtelah tumbuh secara pesat, jauh melebihi tingkat pertumbuhan aktivitas olahragalainnya. (American Sports Data, 2002; Pain & Pain, 2005). Perspektif teoritispada olahraga ekstrim dan peserta olahraga ekstrim telah diasumsikan bahwapartisipasi olahraga ekstrim adalah tentang pengambilan risiko (Baker & Simon,2002; Breivik, 1996; Laurendeau, 2008; Robinson, 2004). Fokus dari perspektifpengambilan risiko adalah bahwa olahraga ekstrim yang dilakukan sebagaikebutuhan atau keinginan untuk mencari kegiatan yang beresiko. Dalamolahraga, risiko adalah tentang kemungkinan bahaya fisik (Rossi & Cereatti,1993). Pada olahraga ekstrim seperti mendaki gunung, terjun kayak, ski ekstrim,dan berselancar pada gelombang besar telah ditafsirkan dengan tingkat risiko yangsangat tinggi dari ketidakpastian hasil, dengan sangat tinggi keungkinan bahwasesuatu akan salah, dan kesempatan yang sangat tinggi untuk mendapatkan hasilyang paling buruk yaitu kematian (Olivier, 2006; Slanger & Rudestam, 1997).Risiko kematian adalah risiko yang paling tinggi dari perilaku mendakigunung. Sebagai gambaran, data dari Badan SAR Nasional bulan Januari 1998sampai dengan April 2001 tercatat 47 korban pendakian gunung di Indonesiayang terdiri dari 10 orang meninggal, delapan orang hilang, 29 orang selamat, duaorang luka berat dan satu orang luka ringan, dari seluruh pendakian yang tercatat(Badan SAR Nasional, 2001). Data lain menunjukan, sejak tahun 1969 sampai2001, gunung Gede dan Pangrango di Jawa Barat telah memakan korban jiwasebanyak 34 pendaki. Rata-rata kecelakaan yang terjadi pada pendakian dibawah8000 m telah tercatat sebanyak 25% pada setiap periode pendakian di Indonesiakhususnya di pulau Jawa & Sumatera (Badan SAR Nasional,2001).Berdasarkan kutipan suara persaudaraan alam semesta Indonesia sebagaiforum backpacking atau travelling pada 13 juli 2016, sebutan untukpara pendaki130

JP3I Vol. 6 No. 2 Juli 2017gunung yang sudah berdiri sejak tahun 2009 mengatakan bahwa dalam dua tahunterakhir dari Januari 2013 sampai dengan April 2015 sebanyak 35 orang korbanhilang dan meninggal saat beraktivitas di alam terbuka. Ini artinya, dalam satubulan aktivitas di alam terbuka ditemukan satu kasus musibah orang hilang dankorban meninggal dunia. Semua data diatas menunjukan bahwa perilakumendaki gunung digolongkan sebagai risk-taking behavior karena olahraga tersebutmempunyai tingkat risiko yang tinggi dengan taruhanya adalah nyawa individutersebut.Tujuan utama dari mendaki gunung adalah kesenangan. Tidak peduliseberapa berat pendakian atau keturunan, tujuannya adalah menemukankesenangan, tidak menemukan emas, mencapai ketenaran, menemukan tempattinggi untuk upacara keagamaan, mendapatkan hak untuk memiliki pasangan,dan sebagainya, (Christensen & Levinson, 2005). Selanjutnya, terlibat dalamolahraga berisiko menyebabkan peningkatan kepercayaan diri dan harga diri,seperti orang-orang yang mengambil risiko keuangan di tempat kerja cenderunglebih sukses, Siegel et al (dalam Pain & Pain, 2005). Perilaku dapat dicontohkanseperti merokok, alkohol dan penggunaan narkoba, dan hubungan seks bebas.Bertentangan dengan perilaku destruktif, mendaki gunung juga termasukdalam risk-taking behavior yang dianggap lebih diterima secara sosial. Essau (2004)menunjukkan bahwa pengambilan risiko tidak hanya mencakup maladaptifmengambil risiko perilaku (misalnya penggunaan narkoba), tetapi juga perilakuberisiko diterima secara sosial (berpartisipasi dalam olahraga yang berbahaya).Risk-taking behavior didefinisikan sebagai suatu situasi yang melibatkan individuuntuk membuat suatu keputusan yang harus melibatkan berbagai pilihanalternatif yang berbeda, dan hasil dari pilihan yang tidak pasti, dimana terdapatkemungkinan dari adanya suatu kesalahan (Beebe, 1983 dalam Burgucu dkk,2010). Risk-taking behavior sebagai sebuah gagasan perilaku yang dilakukan secarasengaja dan dengankesadaran.Berdasarkan definisi diatas, risk- taking behavior adalah keterlibatanseseorang terhadap perilaku berisiko dengan menimbang berbagai pilihan yangdapat mengarahkan individu pada konsekuensi yang negatif atau tidak pasti.Bukti kuat menunjukkan bahwa kecenderungan untuk mengambil risiko adalahterprogram dalam otak dan berhubungan erat dengan gairah dan kesenanganmekanisme (Pain & Pain, 2005). Oleh karena itu risk-taking behavior dalam hal iniadalah mendaki gunung sangat diminati oleh masyarakat luas karena mendakigunung mempunyai risiko yang besar dan individu cenderung mendapatkankepercayaan diri dan harga diri dalam sesuatu yang tidak biasa orang padaumumnyalakukan.Faktor-faktor yang mempengaruhi risk-taking behavior, adalah Belieftentangrisiko (Moore & Gullone, 1996), jenis kelamin (Moore & Gullone, 1996) (Reniers& Murphy, 2015), usia (Alexander et al. 1990) (Moore & Gullone, 1996),kepribadian (Little & Zuckerman, dalam Schwatrz & Fouts, 2003), (Moore &Gullone, 1996), dan dukungan sosial, (Wang, L & Zhou, D, 2016), (Millet &Malebrance, 2003). Faktor belief tentang risiko pada seseorang dapat menentukanapakah orang tersebut akan melakukan risk- taking behavior atau tidak. Semakinseseorang meyakini tindakan berisiko, semakin besar kecenderungan untuk tidak131

Pengaruh trait kepribadian (personality) dan dukungan sosial terhadap risk taking behavior pada pendaki gunungmelakukan tindakan tersebut, (Moore& Gullone, 1996). Jenis kelamin jugamemengaruhi risk- taking behavior. Para wanita cenderung memiliki persepsibahwa suatu tindakan dapat berisiko lebihtinggi, dibandingkan dengan pria yangdiri mereka sebagai individu yang istimewa, unik, dan kebal terhadap hal-halyang berisiko, (Moore & Gullone, 1996; Reniers & Murphy,2015).Faktor selanjutnya adalah usia yang merupakan salah satu faktor yangcukup memengaruhi seseorang melakukan risk- taking behavior. Seseorang yangberusia lebih muda cenderung mempersepsikan risiko dari risk-taking behaviorsecara tidak besar sehingga kemungkinan perilaku yang terlibat lebih tinggidaripada yang berusia lebih tua atau dewasa, Alexander et al. (1990, dalamMoore & Gullone, 1996). Rata-rata individu melakukan kegiatan yangberhubungan dengan risk-taking behavior adalah remaja, jika dibandingkan denganorang dewasa. Banyak dari perilaku berisiko remaja adalah bagian normal darieksplorasi dan eksperimentasi dalam pembangunan menuju dewasa (Furlong &Cartmel, 2007).Faktor internal selanjutnya adalah kepribadian, Kepribadian terdiri darikedua struktur dan proses yang mencerminkan sifat (gen) dan nature(pengalaman). Selain itu, kepribadian termasuk efek dari masa lalu, termasukmemori tentang masa lalu, serta konstruksi masa kini dan masa depan. Dewasaini, beberapa studi telah dilakukan untuk menguji langsung bahwa ada peranpembeda individu dalam kepribadian didalam wilayah risk taking behavior. Ciriciri kepribadian yang berbeda telah dikaitkan dengan pengambilan keputusan diantara individu yang sehat, baik pada anak- anak dan orang dewasa (Lauriola &Levin, 2001; Levin & Hart, 2003).Perilaku dalam situasi berisiko dapat dijelaskan oleh orang yang mengambilbagian dalam memutuskan hal tersebut. Dalam penelitian ini diharapkan bahwakepribadian seseorang mempengaruhi perilaku dan keputusan individu dalammenentukan perilau dalam situasi berisiko yang dihadapinya. Manusiamenghadapi situasi berisiko setiap hari. Menyalip mobil lain di jalan untukbekerja tentunya menanggung risiko yang lebih tinggi daripada mengemudidijalur sendiri dengan kecepatan yang lebih lambat. Menggunakan kondommengurangi risiko kesehatan dengan pasangan, tetapi dapat menurunkanintensitas kontak fisik. Melakukan olahraga dengan intensitas tinggi seperti bungeejumping mungkin memepengaruhi risiko kondisi fisiologis, tetapi mengalamikegembiraan saat melakukan olahraga dengan intensitas tinggi akan tepat sesuaidengan pilihan individu yang terlibat (Figner & Weber, 2011). Contoh-contoh inimenunjukkan situasi yang mungkin menanggung risiko, tetapi setiap individumenunjukkan situasi berbeda dalam mengambil keputusan. Hal ini menunjukkanbahwa perbedaan kepribadian pada individu, berkaitan langsung dengan perilakuantisosial yang mungkin sangat memprediksi risiko tertentu, sedangkankepribadian lainnya yang lebih berkaitan dengan risiko untuk mencapai suatuimbalan sosial, seperti mengambil risiko pada karir (misalnya, bergerak untukpekerjaan, beralih profesi) atau risiko sosial (misalnya, kelompok baru,menyatakan pendapat seseorang dalam suatu kelompok, dll).Nicholson, Soane, Fenton-O'Creevy, & Willman (2005) menemukan bahwaciri- ciri spesifik kepribadian, yang diukur dengan NEO-PI-R (McCrae & Costa,132

JP3I Vol. 6 No. 2 Juli 20171992), memprediksi risiko secara kesuluruhan. Meskipun temuan ini memberikanwawasan awal yang berharga, penelitian sebelumnya tidak berbicara seberapaluas ciri kepribadian yang terkait dengan bagian spesifik dari risk taking behavior.Untuk menyelidiki asosiasi ini, peneliti mengadopsi model HEXACO strukturkepribadian (Lee & Ashton, 2004), yang telah ditawarkan sebagai alternatif untuk''Big Five'' model kepribadian. Berbeda dengan lima faktor model (yaitu, dimensikepribadian neurotisme, extraversion, openess, agreeablenness, dan conscientiousness)yang sebelumnya telah dilaporkan (misalnya, McCrae & Costa, 1992; Saucier &Goldberg, 1998), model HEXACO mencerminkan kemajuan terbaru dalampsikologi kepribadian.Struktur trait kepribadian HEXACO sudah direplikasi dalam 12 bahasa(Ashton et al, 2004;. Ashton, Lee, & Goldberg, 2004; Lee, Ashton, & de Vries,2005; Watsi, Lee, Ashton, & Somer, 2008), dan tampaknya lebih luas ditiru daribig five (Ashton & Lee, 2007).HEXACO merupakan model struktur kepribadianyang terdiri dari enam dimensi yang diciptakan oleh Ashton dan Lee berdasarkantemuan dari serangkaian studi leksikal yang melibatkan beberapa bahasa Eropadan Asia. Dimensi dari Hexaco ialah honesty-humility (h), emotionality (e),extraversion (x), agreeableness (a), conscientiousness (c), openness to experience (o). Olehkarena itu pengadopsian model strutur kepribadian (HEXACO) dalam hal inilebih relevan untuk dipilih. (Asthon & Lee, 2009).Selanjutnya, selain factor internal dalam risk-taking behaviorfactor eksternalpun juga harus dilihat pengaruhnya, yaitu dukungan sosial (Davidson, 006;Weber, 2001; Holzen, 2011). Literatur menunjukkan bahwa ada hubungan antaradukungan sosial dan perilaku seksual berisiko, Myersetal. (2003) menemukanbahwa dukungan sosial adalah prediktor signifikan dari perilaku seksual beresikomengambil Antara sampel dari orang Amerika-Afrika yang bervariasi dalamidentitas seksual, yaitu laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki, laki-lakiyang berhubungan seks dengan laki-laki dan perempuan. Wang, L & Zhou,D,2016 dalam penelitian terbarunya mengatakan bahwa dukungan social adalahprediktor signifikan dari finansial risktaking behavior.Weiss (dalam Cutrona, 1987) menyatakan bahwa dukungan sosialmerupakan suatu proses hubungan yang terbentuk dari individu dengan persepsibahwa seseorang dicintai dan dihargai, disayang, untuk memberikan bantuankepada individu yang mengalami tekanan- tekanan dalam kehidupannya.Sarafino(2006) menyatakan bahwa dukungan sosial mengacu pada pemberiankenyamanan pada orang lain, merawatnya atau menghargainya, dari Penelitianini penulis menggunakan definisi dukungan social menurutWeiss(dalam Cutrona,1987) yang menyatakan bahwa dukungan social merupakan suatu proseshubungan yang terbentuk dari individu dengan persepsi bahwa seseorang dicintai,dihargai dan disayang, untuk memberikan bantuan kepada individu yangmengalami tekanan dalam kehidupannya. Dari beberapa factor yang dijelaskandiatas, penulis memilih variabel kepribadian (HEXACO) dan dukungan sosialuntuk menjelaskan pengaruhnya terhadap risk-taking behavior pada pendakigunung.Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan di atas, maka penulismenganggap perlu adanya penelitian mengenai hal tersebut agar nantinya hasil133

Pengaruh trait kepribadian (personality) dan dukungan sosial terhadap risk taking behavior pada pendaki gunungdari penelitian tersebut dapat menjadi acuan bagi semua orang agar dapatmemahami banyak hal. Maka dari itu,untuk merealisasikan hal tersebut penelitimelakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Trait Kepribadian dan dukungan sosialterhadap risk taking behaviour pada pendaki gunung”.METODE PENELITIANPopulasi, sampel dan teknik pengambilan sampelPopulasi dalam penelitian ini adalah orang-orang yang gemar mendaki gunungyang bertempat tinggal di Jabodetabek.Instrumen pengumpulan data akanmenggunakan satu metode,melalui google docs.Sampel pada penelitian iniberjumlah 204 orang yang semua samepl mengisi kuisoner melalui google docs danadapun berikut link dari kuisioner https://goo.gl/forms/UxppLMg1zlnFJTgG2Peneliti menggunakan teknik nonprobability sampling dimana tidak semuaindividu dalam populasi mendapat kesempatan yang sama untuk terpilih menjadisampel dalam penelitian. Sedangkan metode yang digunakan adalah accidentalsampling yaitu metode pemilihan ukuran sampel dari suatu populasi dimanasampel diambil berdasarkan kemudahan data yang diperlukan, seperti mudahditemui, dijangkau, atau secara kebetulan bertemu dengan peneliti dan bersediamenjadi partisipan. Berhubung penelitian ini dilakukan menggunakan teknik nonprobability sampling, maka tidak semua pendaki gunung terpilih menjadi sampeldalam penelitian ini. Pertimbangan lain dari peneliti menggunakan teknikaccidental adalah factor tenaga dan biaya,sehingga tidak dapat mengambil sampelyang lebih besar dan jauh. Peneliti melakukan wawancara sebelum menyebarkuesioner untuk mengetahui apakah seseorang gemar mendaki gunung atau tidak,apabila gemar mendaki gunung peneliti akan memberikan kuesioner pada orangtersebut.Instrumen penelitianTerdapat tiga alat ukur yang digunakan peneliti dalam penelitian ini, yaitu :1. Alat ukur yang digunakan pada penelitian ini bernama DOSPERT (DomainSpecific Risk Taking) yang dikembangkan oleh Weber, Blais, dan Bets (2002)didalam Journal of Behavior Decision Making. Selanjutnya, alat ukur ini telahdikembangkan berkali-kali dimana pada awalnya berjumlah 101 item yangdiujikan pada 560 sampel yang menghasilkan enam dimensi dari risk takingbehavior, tetapi alat ukur DOSPERT versi ini memberikan hasil yang tidakmemuaskan dalam penggunaan pada penelitian, sehingga jumlah itemdikurangi menjadi 40 item yang dikenal dengan nama DOSPERT-G yangberisi 8 item pada masing-masing 5 dimensi.Untuk mengukur trait kepribadian Hexaco terdapat alat ukur baku yang sudahtersedia yang dibuat oleh Aston & Lee yaitu Hexaco-PI- R.HEXACOmerupakanmodel struktur kepribadian yang terdiri dari enam dimensi yang diciptakan olehAshton dan Lee (2007), berdasarkan temuan dari serangkaian studi leksikal yangmelibatkan beberapa bahasa Eropa dan Asia Alat ukur ini mengukur 6 dimensiHexaco yaitu honesty-humility (h), emotionality (e), extraversion (x), agreeableness (a),conscientiousness (c),opennessto experience (o). Hexaco-PI-R terdiri dari 60 item134

JP3I Vol. 6 No. 2 Juli 2017dengan 5 skala Likert untuk mengukur respon subyek, dimana skor 5 sangatsetuju, 4 setuju, 3 netral, 2 tidak setuju, 1 sangat tidak setuju.2. Dalam penelitian ini, peneliti mengukur dukungan sosial denganmenggunakan alat ukur yang diadaptasi dari Weiss (dalam Cutrona& Russell,1987) yang mengemukakan adanya 6 (enam) komponen dukungan sosial yangdisebut sebagai ―The Social Provision Scale‖, adapun komponen- komponentersebut adalah: attachment (kelekatan), social integration (integrasi sosial),reassurance of worth (adanya pengakuan), reliable alliance (ketergantungan untukdapat diandalkan), guidance (bimbingan), dan opportunity for nurturance(kesempatan untuk merasa dibutuhkan). Skala ini terdiri dari 24 item denganmodel likert skala 1 sampai 4 (sangat tidak setuju, tidak setuju, setuju, sangatsetuju).HASILPENELITIANAnalisa deskriptifTotal sampel pada penelitian ini berjumlah 204 orang yang memiliki pengalamandalam pendakian gunung dalam 1 tahun terakhir di Jakarta. Selanjutnya akandijelaskan gambaran subjek lebih rinci pada tabel berikut:Tabel 1Subjek PenelitianJenis KelaminLaki-lakiPerempuanTotalJumlah Responden12480204Presentase61%39%100%Hasil uji hipotesisTabel 2Analisa RegresiModelRRSquareAdjusted RStd. Error of theSquareEstimatea1.530.281.2357.85364Predictors: honesty-humility, emotionnality, reasurance of worth, opportunity fornurturance, conscientiousness, reliable alliance,extraversion, attachment, socialintegration, agreeableness, guidance,opennes toexperienceBerdasarkan data pada tabel 4.4 dapat kita lihat bahwa perolehan R2 sebesar0.281 atau 28.1%. Artinya proporsi varians dari risk taking behavior yang dijelaskanoleh semua independent variable yaitu trait kepribadian (HEXACO) honestyhumility, emotionnality, extraversion, agreeableness, conscientiousness, opportunity fornurturance, dan dukungan sosial (attachment, social integration, reliable alliance,135

Pengaruh trait kepribadian (personality) dan dukungan sosial terhadap risk taking behavior pada pendaki gunungreasurance of worth, guidance, opennes to experience) dalam penelitian ini adalahsebesar 28.1 %, sedangkan 71.9 % lainnya dipengaruhi oleh variabel lain diluarpenelitian ini. Langkah kedua peneliti menganalisis dampak dari seluruhindependent variable terhadap risk taking behavior.Anova keseluruhan IVterhadap DVBerdasarkan uji F pada tabel 4.12, dapat dilihat bahwa nilai p (Sig.) pada kolompaling kanan adalah p 0.000 dengan nilai p 0.05. Maka hipotesis nihil yangmenyatakan tidak ada pengaruh yang signifikan dari seluruh independen variableterhadap resiliensi ditolak. Artinya ada pengaruh yang signifikan antara seluruhindependen variabel terhadap dependen variabel.Tabel 3Koefisien regresi masing-masingVariabelModelUnstandardized CoefficientsBSE Beta(Constant)1.1679.689Honesty- 78Openness to experience.024.072Attachment-.069.108Social Integration.084.090Reliable alliance.002.091Reassurance of worth.031.060Opportunity for nurturance .256.079Guidance.190.099Dependent Variable : Risk Taking 7Dari persamaan regresi di atas, dapat dijelaskan bahwa dari 12 independentvariablehanya extraversion, conscientioussness dan opportunity for nurturanceyangsignifikan.Proporsi varians1. Variabelhonesty-humility memberikan sumbangan sebesar 3.5% terhadapvarians risk taking behavior. Sumbangan tersebut signifikan dengan F change 7.283 dan df1 1 dan df2 202 dengan Sig. F Change 0.008 (Sig. F Change 0.05)2. Variabel emotionality memberikan sumbangan sebesar 2.5 % terhadap variansrisk taking behavior. Sumbangan tersebut signifikan dengan F change 5.411dan df1 1 dan df2 201 dengan Sig. FChange 0.021 (Sig. F Change 0.05)136

JP3I Vol. 6 No. 2 Juli 20173. Variabel extraversion memberikan sumbangan sebesar 10.5 % terhadap variansrisk taking behavior. Sumbangan tersebut signifikan dengan F change 25.203dan df1 1 dan df2 200 dengan Sig. F Change 0.000 (Sig. F Change 0.05)4. Variabelagreeableness memberikan sumbangan sebesar 0.0% terhadap variansrisk taking behavior. Sumbangan tersebut tidak signifikan dengan F change 0.100 dan df1 1 dan df2 199 dengan Sig. F Change 0.752 (Sig. F Change 0.05)5. Variabelconscientiousness memberikan sumbangan sebesar 3.2% terhadapvarians risk taking behavior. Sumbangan tersebut signifikan dengan F change 7.884 dan df1 1 dan df2 198 dengan Sig. F Change 0.005 (Sig. F Change 0.05)6. Variabelopenness to experiencememberikan sumbangan sebesar 0.1% terhadapvarians risk taking behavior. Sumbangan tersebut tidak signifikan dengan Fchange 0.273 dan df1 1 dan df2 197 dengan Sig. F Change 0.602 (Sig.F Change 0.05)7. Variabel attachment memberikan sumbangan sebesar 0.7 % terhadap variansrisk taking behavior. Sumbangan tersebut tidak signifikan dengan F change 1.682 dan df1 1 dan df2 196 dengan Sig. FChange 0.196 (Sig. F Change 0.05)8. Variabelsocial integration memberikan sumbangan sebesar 0.3% terhadapvarians risk taking behavior. Sumbangan tersebut tidak signifikan dengan Fchange 0.816 dan df1 1 dan df2 195 dengan Sig. F Change 0.368 (Sig.F Change 0.05)9. Variabelreassurance of worth memberikan sumbangan sebesar 21.6% terhadapvarians risk taking behavior. Sumbangan tersebut signifikan dengan F change 5.933 dan df1 1 dan df2 194 dengan Sig. F Change 0.000 (Sig. F Change 0.05)10. Variabelreliable alliance memberikan sumbangan sebesar 0.0% terhadap variansrisk taking behavior. Sumbangan tersebut tidak signifikan dengan F change 0.000 dan df1 1 dan df2 193 dengan Sig. F Change 0.989 (Sig. F Change 0.05)11. Variabel opportunity fornurturance memberikan sumbangan sebesar 5.1%terhadap varians risk taking behavior. Sumbangan tersebut signifikan denganFchange 13.353 dan df1 1 dan df2 192 dengan Sig. F Change 0.000(Sig. F Change 0.05)12. Variabel guidance memberikan sumbangan sebesar 1.4 % terhadap varians risktaking behavior. Sumbangan tersebut tidak signifikan dengan F change 3.673dan df1 1 dan df2 191 dengan Sig. FChange 0.057 (Sig. F Change 0.05)Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat enam IVdari12 IV, yaitu honesty-humility, emotionality, extraversion, conscientioussnness,reassurance of worth, opportunity for nurturance memberikan sumbangan terhadapvarians risk taking behavior secara signifikan jika dilihat dari besarnya R2 yangdihasilkan.137

Pengaruh trait kepribadian (personality) dan dukungan sosial terhadap risk taking behavior pada pendaki gunungKESIMPULANDAN SARANKesimpulanBerdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yangsignifikan dari trait kepribadian (honesty- humility (h), emotionality (e), extraversion(x), agreeableness (a), conscientiousness (c), openness to experience (o), dukungan sosial(attachment, social integration, reassurance of worth, reliable alliance, guidance, danopportunity for nurturance) terhadap risk taking behavior pada pendaki gunung. Jikadilihat dari nilai koefisien regresi, peneliti mendapatkan dua variabel yangsignifikan mempengaruhi risk taking behavior pada pendaki gunung, yaituextraversion, dan opportunity for nurturance. Dengan demikian, sepuluh variabellainnya tidak mempengaruhi risk taking behavior secara signifikan, ionality,agreeableness,conscientiousness, openness to experience, attachment, social integration, reassurance ofworth, reliable alliance, danguidance.DiskusiDari hasil yang diperoleh didalam penelitian ini, diketahui bahwa berdasarkanhasil dari analisa data dan pengujian hipotesis yang telah dilakukan dapatdisimpulkan bahwa terdapat pengaruh seara kesuluruhan yang positif antara traitkepribadian (hexaco) dan dukungan sosial terhadap risk taking behavior padapendaki gunung. Artinya ada pengaruh yang signifikan dari masing masingindependent variabel terhadap risk taking behavior pada pendakigunung.Selain itu penelitian ini juga menjelaskan bahwa dimensi extraversion dari traitkepribadian (hexaco) mempunyai pengaruh paling signifikan dengan nilai positif.Extraversion adalah dimensi yang mengukur tingkat kenyamanan seseorang dalamberhubungan dengan individu lain.Dimensi ini memiliki kepribadian yang senang untuk mengembangkanhubungan, tegas, dan mudah bersosialisasi. Individu dengan dimensi inimerupakan orang yang dominan, suka kegiatan sosial, emosi yang positif,energik, ambisius, dan berinteraksi dengan lebih banyak orang dibandingkandengan tingkat extraversion yang rendah (Robbins dan Judge, 2012) artinyasemakin tinggi skor individu dalam dimensi extraversion maka individu tersebutmudah untuk bersosialisasi maka makin tinggi juga keinginanya untuk mendakigunung sesuai dengan dua penelitian sebelumnya dari Zuckerman & Kuhlman,(2000), & Anic, Gabriella, (2007) yang juga mengatakan bahwa apabila skordimensi extraversion tinggi pada individu tinggi maka kecenderungan dalammengambil resiko juga tinggi. Pada penelitian ini ditemukan bahwa dimensihonesty-humility, agreeablenness, dan emotionality tidak signifikan terhadap risk takingbehavior pada pendaki gunung, artinya tidak ada pengaruh dari honesty-humility,agreeablenness dan emotionality terhadap risk taking behavior pada pendaki gununghal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya dari Paunonen &Pakson (2000),Angelitner & Ostendorfs (1994) yang juga tidak memiliki signifikansi terhadaprisk taking behavior pada pendaki gunung. Pada literatur dari Zuckerman et al(1993) dimensihonesty-humility, agreeablenness, extraversion berpengaruh signifkanbersama terhadap risk taking behavior karena memiliki pengertian yang positif. Hal138

JP3I Vol. 6 No. 2 Juli 2017ini berbanding terbalik dengan hasil dari peneletian ini karna yang signifikanpada variabel trait kepribadian (hexaco) hanya dimensi extraversion &conscientiousnness.Selanjutnya dimensi conscientioussnes tidak signifikan terhadaprisk taking behavior pada pendaki gunung. Peneliti menemukan beberapa literaturedariBurtaverde, et al (2017) yang mengatakan bahwa dimensi conscientioussnnesstidak berpengaruh terhadap risk taking behavior pada pendaki gunung yang artinyatidak ada pengaruh yang signifikan apabila skor conscientiousness tinggi yangdimiliki individu terhadap kemungkinan individu untuk mengambil resiko. Halini sejalan dengan hasil dari penelitian ini, selanjutnya dimensi openness toexperience tidak berpengaruh signifikan terhadap risk taking behavior pada pendakigunung, oleh karena itu peneliti melihat kekurangan dari peneletian ini karenahanya mendapatkan204 responden yang mempunyai kemungkinan error lebihtinggi.Selanjutnya adalah dimensi dari variabel eksternal yaitu dukungan sosial.Dimensi pertama adalah dimensi attachment, dari hasil peneletian ini dimensiattachment tidak berpengaruh secara signifikan dengan risk taking behavior padapendaki gunung, literatur sebelumnya mengatakan bahwa attachmentberpengaruh signifikan terhadap risky sexual behavior yang merupakan bagian daririsk taking behavior, hal ini tidak sejalan dengan hasil penelitian dari penulis, makapenulis berasumsi bahwa ada kekurangan pada metodelogi penelitian ini yangdimana jika dibandingkan dengan literatur sebelumnya yang signifikan yaituliteratur dari Kobak et al. (2013) mendapatkan sampel penelitian sebanyak 340orang yang dibagi menjadi 3 kelompok. Sedangkan dari penelitian ini hanyamendapatkan 204 sampel yang dimana mempunyai kemungkinan error yangtinggi.SaranPenulis menyadari banyak kekurangan dalam penelitian ini. Oleh karena itupenulis memberikan saran metodologis dan saran praktis.Saran teorits1. Hasil penelitian yang telah dijabarkan di atas memperlihatkan ada pengaruh ivkesuluruhan yaitu trait kepribadian & dukungan sosial terhadap risk takingbehaviorsebesar28.1 %. Artinya proporsi dari risk taking behavior yang dijelaskanoleh honesty-humility (h), emotionality (e), extraversion (x), agreeableness (a),conscientiousness (c), openness to experience (o), dukungan sosial (attachment, socialintegration, reassurance of worth, reliable alliance, guidance, dan opportunity fornurturance) dalam penelitian ini adalah sebesar 28.1 %sedangkan71.9 % lainnyadipengaruhi oleh variabel lain di luar penelitian ini. Oleh karena itu, bagi yangingin meneliti risk taking behavior disarankan menggunakan variabel lainnyaserta variabel lainnya yang terkait secara teoritis dengan risk taking behavioryang tidak ikut dianalisis sebagai IV, seperti, belief tentang risiko, statusekonomi. Padahal variabel tersebut menjadi sangat penting sekali, khususnyastudi tentang risk taking behavior, untuk melakukan pengolahan data denganlebih lengkap lagi.139

Pengaruh trait kepribadian (personality) dan dukungan sosial terhadap risk taking behavior pada pendaki gunung2. Untuk penelitian selanjutnya dapat diperkaya dengan membandingkan antararisk taking behavior pada kelompok usia remaja dan dengan risk taking behaviorpada kelompok usia dewasa yang tentunya memiliki banyak perbedaanPenelitian selanjutnya juga diharapkan menggunakan variabel yang lebihspesifik seperti sensationseeking pada faktor internal dari individu.3. Variabel eksternal individu juga diharapkan menggunakan variabel yang lebihspesifik dalam penelitian selanjutnya, contohnya variabel peer group yangkonteksnya lebih spesifik daripada dukungansosial.4. Berdasarkan hasil dari penelitian ini dimana ditemukan bahwa sampel pendakigunung yang berjenis kelamin laki-laki lebih banyak jumlahnya dibandingkandengan perempuan, akan tetapi tidak ada pengaruh yang signifikan antarapendaki gunung laki-laki & perempuan terhadap risk taking behavior,diharapkan dalam penelitian selanjutnya peneliti bisa menentukan sampelyang seimbang jumlahnya antara pendaki gunung laki-laki dengan perempuanuntuk mencapai hasil penelitian yang maksimal.5. Berdasarkan hasil dari penelitian ini dimana ditemukan bahwa sampel pendakigunung yang tidak pernah mengalami kecelakaan dalam pendakian gununglebih banyak dibandingkan dengan responden yang pernah mengalamikecelakaan dalam pendakian gunung, akan tetapi tidak ada pengaruh yangsignifikan antara keduanya, peneliti menyarankan agar dalam penelitianselanjutnya ada sampel dalam kategori tidak pernah melakukan pendakian,untuk perbandingan dalam kecenderungan individu dalam risk takingbehavior.Saran praktis1. Berdasarkan hasil dari penelitian ini dimana ditemukan bahwa pendakigunung yang mendapatkan skor honesty-humility rendah jumlah lebih banyakdibandingkan yang tinggi, peneliti menyarankan kepada pendaki gunung agarterus membiasakan diri untuk bersikap adil, jujur & tidak rakus kepada sesamapendaki gunung, untuk pendaki gunung semakin lebih tearah maka penelitimenyarankan untuk para pendaki gunung mengikuti organisasi keagamaanagar honesty- humility bisa terus diwadahi dengan baik.2. Berdasarkan hasil dari penelitian ini dimana ditemukan bahwa pendakigunung yang mendapatkan skor emotionnality tinggi jumlah lebih banyakdibandingkan yang rendah, peneliti menyarankan kepada pendaki gunung agarbisa mengatasi kecemasan, ketergantungan dan sentimentalitas. Oleh karenaitu agar pendaki gunung semakin lebih tearah maka peneliti menyarankanuntuk para pendaki gunung mengikuti organisasi pecinta alam agar emotionalitybisa terus diwadahi dengan baik.3. Berdasarkan hasil dari penelitian ini dimana ditemukan bahwa pendakigunung yang mendapatkan skor reliable alliance tinggi jumlah lebih banyakdibandingkan yang rendah, peneliti menyarankan kepada pendaki gunung agarterus mengasah kebutuhan akan dapat diandalkan, oleh karena itu agarpendaki gunung semakin lebih tearah maka peneliti menyarankan untuk parapendaki gunung mengikuti organisasi pecinta alam agar reliable alliance bisaterus diwadahi dengan baik.140

JP3I Vol. 6 No. 2 Juli 2017DAFTAR PUSTAKAAlexander et al. (1990). A measure of risk taking for young adolescents:reliability and validity assessments. Journal of psychology, 20, 11-14.Allport, G.W. (1937), Personality: a psychological interpretation, rinehart andwinston, Holt, New York,NY.American Sports Data. (2002, August1).„Generation Y drivesincreasingly popular „extremesports. RetrievedNovember 11, 2002 from ports.aspAnderson. S., Levit. H. (2015). Gender self- confidence and social influence:impact on working alliance. American counseling association, 41(3), 30-33.Anic, G. (2007). The association between personality and risk taking. Graduatetheses and dissertations.Asthon, M. C. & Lee, K. (2009). The HEXACO-60: a short measure of the majordimensions of personality. Journal of personality assessment, 91(4), 340-345.Baker, T., & Simon, J. (2002). Taking risks: extreme sports and the embrace ofrisk in advanced liberal societies. In T. Baker & J. Simon (Eds.),Embracing risk: The changing culture of insurance and responsibility (pp. 177–208). Chicago: University of Chicago Press.Bebee, L.M. (1983). Risktaking and language learner. Classroom oriented research in second languageacquisition, 36-66.Blais A. R., Weber E. U. (2009). The domain-specific risk taking (DOSPERT)scale for adult populations. Item selection and preliminary psychometricproperties,56-59.Breivik, G. (1996). Personality, sensation seeking and risk taking among Everestclimbers. International journal of sport psychology, 27, 308–320.Burt verde et al. (2017). The HEXACO model of personality and risky drivingbehavior. Psychological reports 0(0) 1–16 ! The Author(s) 2017 Reprints andpermissions: sagepub.com/journalsPermissions. nav.Byrnes, J. P., Miller, D. C., & Schafer, W.D. (1999). Gender differences in risktaking: A meta-analysis. Psychological bulletin, 125, 367– 383.Cheung, Y. H., Wu, J., & Tao, J (2016) Predicting domain-specific risk- takingattitudes of mainland China university students: a hyper core selfevaluation approach, Journal of risk research.Cohen, S., & Hoberman, H. (1983). Positive events and social supports as buffersof life change stress. Journal of applied social psychology, 13, 99-125.Cutrona, C. E. & Russell, D. W. (1987). The provisions of social relationshipsand adaptation to stress. Advancesin personal relationships, Vol. 1, pp. 37-67Cutrona, C. E. (1990). Stress and social support: In search of optimalmatching.Journal of social and clinical psychology, 9, 3-14.DiClemente, R. J., Hansen, W. B., & Ponton, L. E. (1995). Handbook of adolescenthealth risk behavior. New York: PlenumDunkel-Schetter, C., Folkman, S., & Lazarus, R. S. (1987) Correlates of socialsupport receipt. Journal of Personality and Social Psychology, 53, 71-80Essau, C.A. (2004). Risk-taking behavior among German adolescents. Journal ofyouth studies, 7(4), 499-512.141

Pengaruh trait kepribadian (personality) dan dukungan sosial terhadap risk taking behavior pada pendaki gunungFayombo, G. (2010). The relationship between personality traits andpsychological resilience among the Caribbean adolescents. Internationaljournal of psychological studies, 2(2), 105-115.Ford, et al (2016). HIV testing and cross border migrant vulnerability: socialintegration and legal/economic status among cross border migrantworkers in Thailand. Springer science business media.Furlong & Cartmel, (2007). Young people and social change. International journalof psychological studies, 8(4), 120-125.Gullone, E. & Moore, S. (2000). Adolescent risk-taking and the five-factor modelof personality. Journal of adolescence, 23, 393-407.Guo, J., Chung, I.-J., Hill, K. G., Hawkins, D., Catalano, R. F. & Abbott, R. D.(2002). Developmental relationships between adolescent substance useand risky sexual behavior in young adulthood, Journal of adolescent health,31,354-362.Harvey, I.S. & Alexander, K (2012). Perceived social support and preventivehealth behavioral outcomes among older women. Cross cult gerontol,27,275–290.Judge, T.A. (2012). Do nice guys—and gals—really finish last? the joint effects ofsex and agreeableness on income. Journal of personality and socialpsychology, 102(2), 390-407.Lavery, B., and Siegel, A. W. (1993). Adolescent risk-taking: an analysis ofproblem behaviors in problem children. Child psychology, 35,277–294.Laurendeau, J. (2008). Gendered risk regimes: a theoretical consideration ofedgework and gender. Sociology of sport journal, 25,293-309.Larsen, R. J. & Buss, D. M. (2008). Personality psychology: domains of knowledgeabout human nature 3rd edition. New York: McGraw-Hill Companies Inc.Lauriola, M., & Levin, I.P. (2001). Personality traits and risky decision-makingin a controlled experimental task: An exploratory study. Personality andindividual differences, 31(2), 215-226.Levitt, M. Z., Selman, R. L., and Richmond,J. B. (1991). The psychosocialfoundations of early adolescents' high-risk behavior. International journal ofpsychological studies, 2(8), 78-85.Millet & Malebrance, (2003). HIV/AIDS prevention research among black menwho have sex with men: current progress and future directionsearch andpractice. J. res. adolesc, 1: 349– 378.Mischel, W., Shoda, Y., Smith, R.E. (2003). Intoduction to personality. Seventhedition. Washington: Wiley International.Myers, H. F., Javanbakht, M., Martinez, M, Obediah, S. (2003). Psychosocialpredictors of risky sexual behaviors in African American men:implications for prevention. AIDS education and prevention, 66-79.Moore, S. & Rosenthal, D. (1993). Venturesomeness, impulsiveness, and riskybehaviour among older adolescents. Perceptual and motor skills, 76,98.Moore, S. & Gullone, E. (1996). Predicting adolescent risk behavior using apersonalized costbenert analysis. Journal of youth and adolescence, 15,343359.142

JP3I Vol. 6 No. 2 Juli 2017Olivier, S. (2006). Moral dilemmas of participation in dangerous leisureactivities. Leisure studies, 25(1), 95–109.Pain, M. T. G., & Pain, M. A. (2005). Essay: risk taking in sport. Research library,366, 33.Paunonen &Jakson (2000). What is beyond the big five? Plenty!: Journal ofpersonality, 68, 5.Robinson, V. (2004). Taking risks: identity, masculinities and rock climbing. InB.Wheaton (Ed.). Understanding lifestyle sports: consumption, identity anddifference, 113–130.Schwatrz & Fouts. (2003). Music preferences, personality style, anddevelopmental issues of adolescents. Journal of youth and adolescence, 32(3),205–213.Slanger, E., & Rudestam, K. E. (1997). Motivation and disinhibition in high risksports: sensation seeking and self-efficacy. Journal of research in personality,31, 355–374.Sarafino, E. P., Smith, T. W. (2011). Health psychology. Seventh edition. NewJersey: John Wiley & Sons, Inc.Sarason, I.G., Levine, H. M., Basham, R. B. (1983). Assessing social support: thesocial support questionnaire. Journal of personality and social psychology, 44,127-139.Taylor, S. E. (2009). Health psychology. Seventh edition. New York: The McGrawHill Companies, Inc.Umar, J. (2012). Confirmatory factor analysis. Bahan ajar perkuliahan. Jakarta:UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.Young, M. (2013). Attachment style and risk taking: a theoretical approach tounderstanding young men who have sex with men. Journal of humanbehavior in the social environment, 23, 869–878.Vaux, A (1987). Variations in social support associated with gender, ethnicity,and age. Journal of social issues, 41(1), 89-110.Wang, L & Zhou, D (2016). How social support style affects finanial risktakingbehaior: a cross-cultural study. Social behavior and personality, 44(8),1305–1314.Weber, E., A. Blais, and N. Betz. (2002). A domain‐specific risk‐attitude scale:measuring risk perceptions and risk behaviors. Journal of behavioral decisionmaking, 15, 263‐2.Wenzel, S. L. (1993). The relationship of psychological resources and socialsupport to job procurement self- efficacy in the disadvantaged. Journal ofapplied psychology, 23(18), 1471-1497.143

Pengaruh trait kepribadian (personality) dan dukungan sosial terhadap risk taking behavior pada pendaki gunung144