aaaaaaa

Transcription

PERANCANGAN MEDIA INFORMASI INTERAKTIFSURVIVAL GUIDE DASARArtikel IlmiahOleh:Tiar Lisendra Putra 692011060Martin Setyawan, S.T., M.CsProgram Studi Desain Komunikasi VisualFakultas Teknologi InformasiUniversitas Kristen Satya Wacana SalatigaMei 2019

PERANCANGAN MEDIA INFORMASI INTERAKTIF SURVIVAL GUIDE DASAR1)Tiar Lisendra Putra,2)Martin SetyawanFakultas Teknologi InformasiUniversitas Kristen Satya WacanaJl. Diponegoro 52-60, Salatiga 50771, Indonesia1)2)Email: tiarlputra@gmail.com, Martin.setyawan@gmail.comAbstractNatural exploration activities require strong physical conditions, good planning and preparation to avoidundesirable things. A few junior and beginner survivors do not learn the outdoors activity skills and sometimesunderestimate the rules, so they make it into a dangerous state and have to survive. By technology development, thejunior and beginner explorers began to study surviving skills “The Information Interactive Basic Survival GuideMedia” was designed in attractive way so the adventurers will be more interested in learning. It also can helpjunior and beginners survivors more understand the importance of knowing the knowledge and rules to decrease thenumber of accidents while exploring. The method used to make this "The Information Interactive Basic SurvivalGuide" is a qualitative method. Linear strategies are used to apply logical sequences at the planning stage becausethe components are understood relatively.After media design is completed then it carried out testing to the relevantresources, namely SAR members, animators and designers. The result is Infographic Interactive Basic SurvivalGuide Media for junior and beginners survivors very interesting and useful. It helps them when doing outsideactivities by presenting images and animations so that they are easy to understand.Keywords: Linear Strategy, Media Information, Interactive Information, Survival, Basic Survival Guide.AbstrakKegiatan penjelajahan alam merupakan kegiatan yang memerlukan kondisi fisik yang kuat sertaperencanaan dan persiapan matang untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Tidak sedikit parasurvivor junior dan pemula kurang mempelajari ketrampilan berkegiatan di alam luar dan terkadangmeremehkan aturan, sehingga membuat mereka masuk kekeadaan yang berbahaya dan mengharuskanmereka survive. Dengan berkembangnya teknologi, para penjelejah junior dan pemula mulai mempelajariilmu di alam luar maka dirancanglah “Media Informasi Interaktif Survival Guide Dasar” dengan desainyang menarik sehingga para petualang akan lebih tertarik mempelajari dan dapat membantu para survivorjunior dan pemula untuk lebih memahami dan mengerti pentingnya untuk mengetahui pengetahuan danaturan agar jumlah kecelakaan saat melakukan penjelajahan menurun. Metode yang digunakan untukmembuat “Perancangan Media Informasi Interaktif Survival Guide Dasar” ini adalah metode kualitatif.strategi linier digunakan untuk menerapkan urutan yang logis pada tahap perencanaan karenakomponennya telah dipahami relatif. Setelah perancangan media selesai kemudian dilakukkan pengujianke narasumber yang bersangkutan yaitu anggota SAR, Animator dan Desainer. Dari hasil pengujiantersebut mendapatkan hasil bahwa Perancangan Media Infografis Interaktif Survival Guide Dasar untuksurvivor junior dan pemula sangat menarik dan bermanfaat serta dapat membantu untuk menambahwawasan saat berkegiatan dialam luar dengan penyajian gambar serta animasi sehingga mudah dipahami.Kata kunci: Strategi Linear, Media Informasi, Informasi Interaktif, Survival, Survival Guide Dasar.1)Mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi Jurusan Desain Komunikasi Visual, Universitas KristenSatya Wacana Salatiga.2)Staff Pengajar Fakultas Teknologi Informasi, Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga

PERANCANGAN MEDIA INFORMARSI INTERAKTIFSURVIVAL GUIDE DASAR1. Latar BelakangSurvival skill atau teknik bertahan hidup adalah salah satu pengetahuan yang wajib dimilikiuntuk para penyuka kegiatan dialam liar. Karena dalam keadaan darurat pengetahuan danketerampilan dasar survival akan sangat berguna. Pendaki atau Petualang tidak akan pernahada yang mengetahui keadaan yang terjadi selama berpetualang di alam liar. Yang terpentingadalah lebih baik mencegah, dari pada mengobati.[1]Satu faktor yang mendasar para pendaki tersesat dan hipotermia terjadi adalah jika merekatidak memiliki ilmu pengetahuan yang memadai dan kompetensi serta skill berkegiatan dialam bebas yang kurang. Pelaku alam bebas minimal harus memiliki 4 kompetensi dasar,pertama survival, kedua first aids, ketiga navigasi darat dan keempat mountainering”.[2]Informasi adalah adalah sekumpulan data atau fakta yang telah diproses dan dikelolasedemikian rupa sehingga menjadi sesuatu yang mudah dimengerti dan bermanfaat bagipenerimanya.[3]Sekelompok pendaki yang beranggotakan 7 orang mendaki gunung lawu, para pendakidicari setelah 4 hari menghilang. Karena kondisi gunung lawu saat itu sedang ekstrem dankemungkinan kurangnya penguasaan medan para pendaki kehilangan arah. Tim SARmenemukan para pendaki diluar jalur pendakian yang telah di sisir oleh Tim SAR. Karenapara pendaki dalam kondisi kelelahan maka tim sar terpaksa mengevakuasi para pendaki.[4]Semakin banyak para petualang berjelajah dihutan atau mendaki gunung tinggimenjadikan sebagai hobi maka semakin banyak rintangan dan bahaya yang dihadapi. Di alamluar banyak penyebab yang membuat para petualang mendapat masalah mulai dari faktor darialam sampai dengan masalah yang di sebabkan karena kurangnya penguasan ketrampilanberkegiatan di alam luar dari petualang itu sendiri.Dengan “Perancangan Media Informasi Interaktif Survival Guide Dasar” ini membantupersiapan petualang junior dan pemula lebih awal dengan memberikan informasi berkegiatan

di alam liar. Dengan mempelajari, memahami, dan latihan terlebih dahulu maka petualangakan mempunyai bekal yang akan berguna di alam terbuka nantinya dan dapat digunakandalam kondisi darurat. Jika terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan seperti kondisiberbahaya, maka dengan kesiapan yang telah dipelajari dan dilatih maka petualang akanterbantu bertahan dengan mengandalkan yang ada disekitarnya.Penelitian ini berfokus pada ilmu bersurvival mulai dari informasi pemanfaatan bahanalam sekitar sebagai bekal pada situasi darurat, sampai informasi skill survival dalampembuatan barang dan benda pendukung sebagai pertahanan di kondisi darurat. Ilmu survivalyang di berikan adalah ilmu dasar atau ilmu basic yang telah berdasar pada SOP (standaroperational Procedure) berkegiatan dialam liar. Penelitian dibuat sebagai penambah wawasaninformasi di khususkan untuk para junior dan pemula dalam berkegiatan dialam terbukaseperti alam liar.2. Tinjauan PustakaBandung, 29 Januari 2010 seorang mahasiswa bernama Helmi Rahmat Satriadi dariUniversitas Widyatama membuat penelitian berupa proyek pembuatan “PerancanganInteraktif Survival Dihutan Tropis”. Dalam buku tersebut berisi struktur buku tentang cara–cara dan langkah hidup berjelajah di hutan tropis[5].Masih dalam bentuk rancangan buku yaitu penelitian dengan judul “Teknik SurvivalDihutan” yang dibuat oleh Titi Sucipto dari universitas Sumatra Utara, medan. Di tuliskanpada penelitian tersebut persiapan sebelum melakukan survival dan pengetahuan tentangnavigasi di dalam hutan[6].Di elektronik book berjudul “Panduan Mendaki Gunung” yang disusun oleh EhwanKurniawan (2004) mengatakan bahwa pendaki gunung dalam melakukan aktivitasnya dirasamemerlukan buku panduan untuk menemani perjalananan pendaki guna mengurangi risikobahaya dalam perjalanan. Disisi lain pendaki membutuhkan konsentrasi dalam mempelajaridan memahami sebuah buku panduan dalam keadaan lelah dalam perjalanannya[7].Decky Dewantara Wardana, 9 september 2016 membuat penenelitian berupa perancangane-book infografis interaktif standar operasional prosedur untuk pendakian. Dalam e-booktersebut berisi standar operasional procedur untuk pendakian gunung yang berisikan pokok

materi sederhana tentang Packing, Survival Navigasi, peta, kompas, Mountain Sickness,peralatan, dan sikap yang dikemas dengan menggunakan animasi e-book interaktif[8].Nur Aji Wibowo, 9 september 2016 membuat penelitian “Perancangan Media InformasiPendakian Dengan Video Berbasis Video Infografik” berdasarkan SOP bagi pendaki pemula.Dalam perancangan video ini menjelaskan tentang informasi cara mendaki gunung denganberdasar SOP sehingga para pendaki akan memahami standar pendakian agar menghindarkandari potensi kecelakaan[9].“Perancangan Media Informasi Interaktif Survival Guide Dasar” menyajikan kontenberkegiatan di alam luar seperti menjelajah hutan dan mendaki gunung mulai denganperencanaan dan persiapan akhir. Media memiliki spesifik utama yaitu mempunyai penyajianlebih lengkap tentang survival dengan konten tulisan dan gambar yang menarik dari kelimapenelitan yang telah disebutkan sebelumnya. Perancangan dibuat dengan dasar mengacu SOP(Standar Operational Procedur) untuk ilmu dasar survival dan kegiatan alam luar yangdikhususkan untuk petualang junior dan pemula.Survival adalah suatu metode yang berhubungan dengan waktu, mulai dari time originatau start point sampai dengan terjadinya suatu kejadian khusus atau end point. Data yangdiperoleh di bidang kesehatan merupakan pengamatan terhadap pasien yang diamati dandicatat waktu terjadinya kegagalan dari setiap individu. Kondisi survive biasanya mengarahpada setiap orang yang sedang mengadakan sebuah perjalanan, petualangan atau penjelajahandi alam bebas atau terbuka seperti jelajah hutan dan pendakian gunung. Hal ini dapatdijadikan bagi para penjelajah dan pencinta perjalanan alam bebas untuk mengetahuisekaligus menguasai Survival skills. Unsur terpenting pada survival adalah api, makan danminum, perlindungan, first aid, dan sinyal pertolongan.[10]Pulau jawa mempunyai 10 Gunung yang terkenal yaitu gunung argopuro, gunungmerbabu, gunung sindoro, gunung wilerang, gunung lawu, gunung raung, gunung sumbing,gunung slamet, dan gunung semeru.[11]Hutan adalah ekosistem yang dicirikan oleh penutupan pohon-pohon yang cukup rapatdan luas, seringkali terdiri atas tegakan-tegakan yang beranekaragam sifat, seperti komposisijenis, struktur, kelas umur, dan proses-proses yang berhubungan; pada umumnya mencakup:padang rumput, sungai, ikan, dan satwa liar. Hutan mencakup pula bentuk khusus, seperti

hutan industri, hutan milik non-industri, hutan tanaman, hutan publik, hutan lindung, danhutan kota.[12]Pendakian gunung adalah mendaki gunung adalah suatu olahraga yang penuh petualangandan membutuhkan keterampilan, kecerdasan, kekuatan serta daya juang yang tinggi. Bahayadan tantangan merupakan daya tarik dari kegiatan ini. Pada hakikatnya bahaya dan tantangantersebut adalah untuk menguji kemampuan diri dan untuk dapat menyatukan diri denganalam. Keberhasilan suatu pendakian, yaitu keunggulan terhadap rasa takut dan kemenanganterhadap perjuangan melawan diri sendiri . [13]Fotografi adalah adalah sebuah seni, ilmu pengetahuan dan praktik menciptakan gambaryang tahan lama dengan merekam cahaya atau radiasi elektromagnetik lain, baik secara kimiadengan menggunakan film fotografi atau secara eletronik melalui sebuah sensor gambar .[14]3. Metode PenelitianMetode yang digunakan untuk membuat “Perancangan Media Informasi Interaktif SurvivalGuide Dasar” ini adalah metode kualitatif[15]. Metode ini menggunakan data yang diambildan dikumpulkan melalui wawancara kepada narasumber yang berkaitan. Metode inimenggunakan pendekatan kualitatifyang dapat menyesuaikan dengan kondisi lapanganuntuk memenuhi data yang dibutuhkan. Selain itu, strategi linier digunakan untuk menerapkanurutan yang logis pada tahap perencanaan karena komponennya telah dipahami relatif.Strategi ini cocok untuk tipe perencanaan yang memiliki telah dilakukan beberapa kali.Tahapan tentang “Perancangan Media Informasi Interaktif Survival Guide Dasar” dibagidalam beberapa tahap berikut:Tahap ITahap IITahap IIITahap IVPengumpulandataAnalisis dataPerancanganAkhirDan pengujianGambar 1 Bagan Linier strategi

Tahap pertama pengumpulan data pengumpulan data dilakukandengan melakukanwawancara kepada narasumber yang berkaitan guna mendapatkan informasi yang dibutuhkan.Dalam tahap pertama ini dilakukan wawancara dengan Fajar Kurniawan, salah satuanggota tim SAR Boyolali sebagai koordinator misi lapangan. Dari hasil wawancara yangtelah diajukan di dapatkan informasi bahwa jumlah presentase khasus kecelakaan tergolongnormal dan kan meningkat pada musim tertentu seperti musim penghujan. Tetapi kurangnyapengetahuan dan asal nekat dilapangan yang sering membuat para petualang sering masukdan mendapatkan kesulitan. Dari data yang telah dikatakan bahwa kurun waktu tigas tahunterakhir kecelakaan meningkat, dari tahun 2016 sampai 2017.Pengambilan data juga diambil dari pendaki senior dan mantan ketua organisasi pecintaalam MITRA GHANA UKSW yaitu Yoshi Eko P. tentang pentingnya ilmu berkegiatandialam terbuka. Dari hasil wawancara bahwa ilmu berkegiatan dialam terbuka sangat pentingdemi menjaga keamanan para petualang.Tahap kedua analisis data, pada tahap kedua melakukan analisis data yang telah didapatguna menentukan konten dan desain yang cocok untuk “Perancangan Media InformasiInteraktif Survival Guide Dasar” untuk survivor junior dan pemula. Dalam tahap ini parasurvivor junior dan pemula dibagikan pengetahuan agar dapat mempelajari dan memahami isikonten yang dapat membantu menambah wawasan dasar dalam berkegiatan dialam terbuka.Dari hasil analisis yang didapat adalah membuat media yang mudah dipahami dan dipelajaridengan tampilan menarik.Tahap ketiga Perancangan Konsep, perancangan media informasi interaktif dimulai denganpembuatan konsep. Konsep media yang akan dibuat adalah mebuat media informasi denganmengunakan tutorial interaktif. Media ini digunakan untuk memberikan pengetahuan dasartentang berkegiatan di alam terbuka lebih khususnya untuk target yang sudah ditentukanyaitu survivor junior dan pemula. Setelah konsep sudah terbuat selanjutnya adalah pembuatanstoryline dan storyboard.Stroryline adalah rangkaian alur cerita yang menggambarkan isi gambar. Storyline padamedia interaktif ini adalah menampilkan jumlah konten yang berisi tulisan dan gambar.Konten gambar dan tulisan dalam media yang dibuat adalah berisi informasi dasar tentang

berkegiatan alam terbuka. Yang dibuat pertama adalah persiapan dini, yang kedua adalahpersiapan fisik, ketiga adalah info area dan keempat adalah survival.Tahap selanjutnya membuat storyboard setiap scene yang menggambarkan objek dari isikonten tulisan dan gambar. Dalam pembuatan media interaktif storyboard digunakan patokandalam pembuatan konten gambar dan tulisan informasi dasar .Pada tampilan storyboard pertama pada gambar 2 berisi pembuatan konsep, button,background, persiapan dini, info area dan persiapan fisik.Gambar 2. Storyboard konsep, button, background,persiapan dini, info area dan persiapan fisik.Pada gambar 3 ditampilkan pembuatan storyboard survival, perencanaan, biaya, tujuan,konten info area dan konten persiapan dini.Gambar 3. Storyboard survival, perencanaan, biaya, tujuan,konten info area dan persiapan dini.

Pada gambar 4 ditampilkan pembuatan storyboard menu survival skill yang pertamaelemen, kemudian stop, bivak, makanan, air dan navigasiGambar 4. Storyboard elemen, stop, bivak, makanan, air dan navigasiPada gambar 5 ditampilkan pembuatan storyboard menu survival skill, yang pertamajebakan, selanjutnya SOS, medkit, tanda bahaya, konten bivak dan terakhir konten jebakan.Gambar 5. Storyboard jebakan, sos, medic, bahaya, konten bivak dankonten jebakanPada gambar 6 ditampilkan pembuatan storyboard dari konten menu survival yangpertama konten makanan, konten navigasi, konten air, konten sos dan terakhir konten tandabahaya.

Gambar 6. Storyboard konten makanan, konten navigasi, konten air,konten sos dan konten tanda bahayaTahap empat desain adalah membuat sketsa mentah isi dari konten dahulu semua untukdi gambar kemudian dimasukan kedalam software untuk dibuat menjadi tampilan menu danisi konten berupa tampilan gambar vector dengan warna. Kemudian membuat desain mediainteraktif seperti background, macam tombol button yang akan digunakan untuk mediainteraktif. Gambar yang dibuat tidak menggunakan desain realis tetapi dengan gambar desainflat design, mempunyai karakter sederhana dan menarik sering digunakan iklan pada zamansearang.Perancangan dimulai dari pembuatan sketsa, pada gambar 7 dijelaskan pembuatan desainsketsa background mulai dari view background sampai tempat tombol button dan sampingsketsa background adalah sketsa jenis tombol yang akan dipakai.Gambar 7. Sketsa background dan tombol button

Selanjutnya pembuatan sketsa menu konten dari isi konten perencanaan mulai dari kiriadalah sketsa waktu, kemudian biaya dan terakhir adalah tempat tujuan. Pada gambar 8.Gambar 8. Sketsa waktu, biaya dan sketsa tujuanKemudian pembuatan sketsa survival skill yaitu menu bivak, menu makanan, menu air,tanda bahaya, navigasi, medkit, SOS dan terakhir pembuatan sketsa menu jebakan. Dilihat padagambar 9.Gambar 9. Skesta konten survivalPada gambar 10 menampilkan contoh pengerjaan pada software yaitu pengerjaan tahapcoloring. Gambar yang telah dibuat melalui sketsa kemudian di scane dan dimasukkan kedalamsoftware untuk proses coloring atau pewarnaan.

Gambar 10. Contoh coloring menu dan kontenPada pembuatan media interaktif survival guide dasar ini menggunakan font bertipeink free untuk penjelasan isi konten karena memiliki karakter font yang unik berupa garislengkung seperti tulisan tangan cocok dengan tema jungle adventure. Kemudian untuk kontenmenu menggunakan jenis font WC wunderbach Bta yang memiliki font berciri tebal dan tegasagar mudah di lihat dan dibaca. Pada gambar 11.Gambar 11. Jenis font WC wunderbach Bta dan ink freeTahap selanjutnya adalah compositing untuk menambahkan sound semakin menarik.Dilanjutkan penyusunan konten yang berupa tulisan yang sudah disiapkan dan gambar digitalyang sudah dibuat dengan penambahan sound efek yang kemudian dilanjutkan rendering agarmenghasilkan hasil akhir.4.Hasil dan PembahasanHasil dari “Perancangan Media Informasi Interaktif Survival Guide Dasar” sebagaimedia informasi interaktif dan pengetahuan basic atau dasar untuk para petualang junior danpemula. Scene pertama menampilkan cover yang berisi tombol start dan judul, dari covermengarahkan ke menu utama yaitu persiapan dini, persiapan fisik, info area dan survival.Terdapat di gambar 12.

Gambar 12. Cover dan menu utamaScene kedua menampilkan menu utama yang dapat mengarahkan ke menu konten yangdapat dipilih secara acak contohnya mengarah ke persiapan dini yang didalam terdapatperencanaan, perlengkapan utama dan perlengkapan pendukung dengan button next back danbutton konten. Terdapat di gambar 13.Gambar 13. Menu utama dan Persiapan diniScene ketiga menampilkan menu utama yang mengarahkan ke isi langsung konten persiapanfisik yang terdapat button next back. Terdapat pada gambar 14.Gambar 14. Menu utama dan isi konten persisapan fisik

Scene keempat menampilkan menu konten info area yang berisi konten info jalur terdapatbutton back dan button masuk konten, gerbang masuk dan info pos. Dapat dilihat gambar 15.Gambar 15. Menu utama dan info areaScene kelima menampilkan menu konten survival yang berisi menu konten element, stop,bivack, makanan, air, navigasi, tanda bahaya, medkit dan sos terdapat button next back.terdapat di gambar 16.Gambar 16. Menu utama dan menu survivalScene keenam menu konten bivak yang berisi konten jenis bivak, terdapat logo next backdan tombol masuk konten. Dapat dilihat gambar 17.Gambar 17. Menu konten bivak

Pengujian media Informasi Interaktif Survival Guide Dasar sebagai informasi dasar untuksurvivor junior dan pemula menggunakan metode kualitatif. Pengujian akan dilakukan denganpengujian dilakuakan kepada beberapa narasumber berkaitan dengan penelitan yang telahdibuat yaitu anggota SAR, Animator dan desainer. Kesimpulan yang didapat sebagai berikut:Menurut pendapat Fajar Kurniawan sebagai salah satu anggota SAR bagian kordinatormisi lapangan, Boyolali. Media dan isi materi informasi dasar sudah masuk ilmu dasarberkegiatan dialam terbuka. Memiliki desain yang mudah ditangkap dan tampilan menarik,Saran yang di berikan adalah perbaikan menu yang masih kurang dan Bahasa yang simple.Menurut Jasson Presstiliano, seorang animator dibidang game dan juga pengajar diUKSW, memberikan masukkan tentang animasi gerak yang terdapat di pembuatan mediainteraktif ini mempunyai gambar yang bagus dan gerakan yang simple, tetapi untukpergerakan animasi gambarnya di perhalus sehingga nyaman dilihat dan konten dilengkapi.Menurut Satria Pinandita seorang desainer yang pernah berpengalaman bidang desain diperusahaan Abang Irenk (AI) Jogjakarta dan sekarang bekerja di perusahaan Printerousmemberikan masukan untuk media interaktif ini. Pada segi desain background, button dankonten memiliki desain simple dan jelas karena menggunakan gaya flat design , dan untukwarna diberikan masukan agar konten diberikan warna berbeda disetiap background sesuai isikonten.5. KesimpulanDari pengujian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa dari ketiga narasumber bahwamedia informasi menarik dan cocok sebagai media informasi ilmu survival. Mulai dari isikonten survival, desain animasi yang sederhana sehingga tidak membuat bingung pembacadan dari segi desain background, tombol dan gambar menu konten. Akan tetapi mempunyaikekurangan yaitu error koding dan frame pada saat menjalankan media informasi. Penulissudah memperbaiki ulang error koding dan frame yang telah terjadi. Dan diharapkan akanmenambah wawasan dan pengetahuan tentang berkegiatan di alam liar. Dengan mengetahuitentang dasar berkegiatan dialam luar mulai dari persiapan dini, persiapan fisik, info area

dan paling utama adalah survival. Untuk nantinya media interaktif ini dapat di aplikasikanpada pos gerbang masuk wisata alam dan di pakai organisasi pecinta alam.

Daftar Pustaka[1] Vnder Lesnussa, 5 juli 2017 “pentingnya dasar-dasar survival”www.Superadventure.comDiakses pada tanggal 6 mei 2018[2] Ugiono Michael Antony “pentingnya pembelajaran dan penguasaan dasar survival”www.Wartapalaindonesia.comDiakses pada tanggal 6 Mei 2018[3] Lina sidharta “Pengertian Informasi”Diakses pada tanggal 4 Mei 2019www.maxmanroe.com.[4]Kuncoro.Reza.2015. “4 hari hilang 7 pendaki ditemukan SAR kelelahan”.Liputan6. Diakses pada tanggal 23 Desember 2014[5] R.S Helmi. 2010. “Perancangan Buku Panduan Survival Di Hutan Tropis”.Universitas Widyatama. Bandung.[6] Sucipto. Tito. 2005. Teknik Survival Dihutan. Universitas Sumatra Utara. Medan.[7]. Kurniawan. Ehwan. 2004. “Panduan Mendaki Gununng Dalam Infografis”.Tabloid. Jakarta.[8] Dewantara Wardana Decky. 2016. “Perancangan e-Book Infografis InteraktifStandar Operasional Prosedur untuk Pendakian” . Universitas Kristen SatyaWacana. Salatiga[9] Nur Aji Wibowo. 2016. “membuat penelitian “Perancangan Media InformasiPendakian Dengan Video Berbasis Video Infografik”. . Universitas Kristen SatyaWacana. Salatiga.[10] Admin “pengertian gunung dan jenis-jenis gunung”. www.sumberpengertian.comDiakses pada tanggal 6 mei 2018[11] Fatma Desi, 24 juni 2017“Gunung tertinggi di pulau jawa” www.ilmugeografi.comDiakses pada tanggal 11 mei 2018[12] Departemen Kehutanan 1989 “definisi Hutan” www.foresteract.com

Diakses pada tanggal 8 mei 2018[13] Yusuf Hidayat.2010. “Pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan”. ShinduCindar Bumi. Jakarta.[14] Amir H.S. “ Fotografi Menurut Para Ahli”. www.Idseducation.comDiakses pada tanggal 10 juni 2015[15] Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Bandung : CV.Alfabeta