aaaaaaa

Transcription

Bab I PendahuluanLatar BelakangPendidikan merupakan hal yang sangat penting dan dibutuhkan oleh setiap individu.Dengan pendidikan, seseorang akan lebih termotivasi untuk lebih baik dalam segala aspekkehidupan. Begitu pentingnya pendidikan, Pemerintah Indonesia mengeluarkan UndangUndang Nomor 20 Tahun 2003, pasal 3 menyebutkan bahwa, “Pendidikan nasional berfungsimengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yangbermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnyapotensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YangMaha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negarayang demokratis serta bertanggung jawab,” hal tersebut merupakan manifestasi dari UUD1945.Tentunya dengan tujuan seperti itu, ditambah dengan program pemerintah tentang wajibbelajar 12 tahun, tiap individu memiliki keinginan untuk melanjutkan studinya ke jenjangyang lebih tinggi lagi. Tidak sedikit individu yang berkeinginan untuk melanjutkan studinya.Begitu pula banyak universitas yang menyediakan bermacam-macam jurusan. Namunsayangnya, masuk perguruan tinggi tidaklah mudah. Tiap universitas sudah memasangstandarnya masing-masing dengan peminat yang tidak sedikit. Karena daya saing yang tinggiitulah dan berbagai faktor lain seperti keinginan orang tua, rekomendasi guru dan alasan lainbanyak individu yang akhirnya berkuliah tidak sesuai dengan jurusan yang ia minati.Observasi yang dilakukan oleh peneliti pada mahasiswa Universitas Islam Negeri SunanGunung Djati Bandung Fakultas Psikologi angkatan 2014, sebagian besar mahasiswanya atausebanyak 55% menjadikan Psikologi sebagai pilihan kedua bahkan terakhir. Beberapa darimereka mengaku berkuliah di Fakultas Psikologi sebenarnya tidak sesuai dengan minatnya.Mereka sebenarnya memiliki pilihan jurusan sendiri, seperti kesenian, tafsir hadits, kehutanan1

2dan lain-lain. Alasan mereka akhirnya memilih Jurusan Psikologi pun bermacam-macamseperti tuntutan dari orang tua, tidak diterima di jurusan yang diminati bahkan ada juga yangsalah klik ketika pemilihan jurusan online. Ketika ditelusuri saat pengambilan data awal,alasan mereka memilih Fakultas Psikologi, ternyata sebanyak 25 orang atau sebesar 32%karena pilihan orang tua, 5% saran dari guru bimbingan dan konseling, 3% karenaketidaksengajaan menekan tanda klik jurusan saat pendaftaran online dan terakhir yang palingbanyak adalah karena tidak diterima di jurusan sebelumnya yang lebih diinginkan yaitusebesar 60% atau sebanyak 47 orang.Individu yang telah diterima di sebuah perguruan tinggi disebut sebagai mahasiswa.Sebagai mahasiswa, semakin banyak tugas serta tanggung jawab yang ditanggungnya.Apalagi jika dilihat dari fenomena tersebut, tentunya bukan hal yang mudah menjalaniperkuliahan yang tidak sesuai dengan minat. Hasil perkuliahan tiap semesterdirepresentasikan dengan indeks prestasi (IP), sedangkan menjalani proses perkuliahan yangtidak sesuai dengan minat individu memunculkan permasalahan tersendiri, sehinggamemungkinkan proses belajar yang tidak optimal pada individu tersebut yang pada akhirnyadapat berdampak pada perolehan IP yang rendah.Apabila mencermati hasil perkuliahan dalam bentuk indeks prestasi (IP), padamahasiswa yang menjalani perkuliahan yang tidak sesuai dengan minatnya maka dari hasilwawancara yang dilakukan pada 20 orang mahasiswa Psikologi angkatan 2014, didapatkan 3kelompok. Kelompok pertama yaitu individu yang berkuliah tidak sesuai dengan minatnyanamun mampu mendapat indeks prestasi di atas 3. Mahasiswa kelompok pertamamengatakan bahwa mereka mulai menerima dan senang menjadi mahasiswa Psikologi.Kemudian kelompok kedua yakni individu yang berkuliah tidak sesuai dengan minatnyanamun tetap menjalankan perkuliahan dengan mengikuti aturan yang berlaku danmengerjakan setiap tugas yang diberikan oleh dosen. Mahasiswa kelompok kedua

3mendapatkan hasil indeks prestasi kurang dari 3. Kemudian kelompok ketiga adalah individuyang berkuliah tidak sesuai dengan minatnya namun tidak berkeinginan untuk keluar dariFakultas Psikologi tetapi bermalas-malasan dalam proses perkuliahan. Sehingga indeksprestasi yang didapatnya bahkan kurang dari 2,5.Tabel 1.1Hasil wawancara kepada mahasiswa Fakultas Psikologi angkatan 2014KategoriIndeks PrestasiMulai menerima diri dan senang 3Jumlah41 orang 53%menjadi mahasiswa PsikologiTetap mengerjakan tugas dari 2,528 orang 36% 2,58 orang 10%dosen meski belum menerimadiri sebagai mahasiswapsikologiTidak ingin keluar dari FakultasPsikologi namun bermalasmalasan dalam prosesperkuliahanTotal77 orangBerdasarkan data yang diperoleh dari bagian Tata Usaha Fakultas Psikologi didapatketerangan bahwa mahasiswa psikologi angkatan 2014 pada tahun akademik 2016/2017 initerdapat sebanyak 43 orang atau sebanyak 24% yang tercatat sebagai mahasiswa tidak aktifatau mengundurkan diri. Angka tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan angkatantahun 2013 yang hanya sebesar 15% angka pengunduran diri mahasiswanya. Hal tersebut

4menggambarkan terdapat satu lagi kelompok di mana individu tersebut mengaku bahwaJurusan Psikologi bukan merupakan jurusan yang diminatinya dan akhirnya memilih untukkeluar dan pindah ke jurusan atau universitas lain. Beberapa individu keluar setelah melewatisemester pertama, kedua bahkan ada yang sempat menjalani mata kuliah Psikodiagnostika.Individu yang meninggalkan perkuliahan di semester awal mengatakan bahwa JurusanPsikologi memang tidak sesuai dengan dirinya dan mata kuliahnya yang sulit. Sedangkanindividu yang keluar di pertengahan semester tiga mengaku bahwa penyebab daripengunduran dirinya adalah pola pikir yang sedari awal bahwa Jurusan Psikologi tidak sesuaidengan passionnya dan isu-isu yang ia dengar dari kakak tingkat bahwa ada beberapa matakuliah yang ‘horor’ salah satunya adalah mata kuliah Psikodiagnostika. Mindset dan isutersebut membuat proses perkuliahannya dilalui dengan buruk. Ia seringkali bolos kuliahhanya karena rasa malas dan malah memilih untuk bermain games seharian di kosan,sehingga indeks prestasi yang ia dapat di bawah 2,5. Merasa kuliahnya sudah berantakan,akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari Jurusan Psikologi. Sekarang, setelah ia menjalaniperkuliahan di jurusan lain, bahkan indeks prestasinya hampir mencapai angka sempurna,yaitu 4.Ketika ditelusuri lebih lanjut, ternyata penerimaan diri individu berpengaruh dalampenyesuaian selama proses perkuliahan serta untuk mendapatkan indeks prestasi yangdiinginkan. Germer (2009) menjelaskan bahwa penerimaan diri atau self acceptance adalahkemampuan individu untuk dapat memiliki suatu pandangan positif mengenai siapa dirinyayang sebenar-benarnya dan hal ini tidak dapat muncul dengan sendirinya, melainkan harusdikembangkan oleh individu. Sedangkan proses penerimaan diri individu pun harus melaluiserangkaian tahap.Menurut Germer (2009), individu harus melewati tahap-tahap berikut sebelum menerimadirinya. Pertama, tahap penghindaran (aversion), tahap ini merupakan reaksi naluriah ketika

5individu dihadapkan dengan perasaan atau keadaan yang tidak menyenangkan adalah denganmenghindar. Bentuk penghindaran tersebut dapat terjadi dalam beberapa cara misalnyadengan melakukan pertahanan, perlawanan atau perenungan. Kedua, tahap keingintahuan(curiosity), yakni tahap dimana mulai timbul dalam diri individu perasaan penasaran terhadappermasalahan atau kondisi yang tengah dihadapinya. Individu mulai ingin mempelajarimasalahnya lebih lanjut walaupun hal tersebut membuatnya cemas. Ketiga, tahap toleransi(tolerance) yaitu tahap ketika individu mulai menahan perasaan tidak menyenangkan yangmereka rasakan sambil berharap hal tersebut hilang dengan sendirinya. Keempat,membiarkan begitu saja (allowing), yaitu tahap dimana segala perasaan dibiarkan datang danpergi begitu saja. Individu secara terbuka membiarkan perasaan itu mengalir dengansendirinya. Dan yang kelima, yaitu tahap persahabatan (friendship) adalah tahap individumulai bangkit dari perasaan tidak menyenangkan dan mencoba untuk dapat memberipenilaian atas kesulitan tesebut. Dalam hal ini, bukan berarti ia merasakan kemarahan tapiindividu dapat lebih bersyukur atas manfaat yang didapat dari kondisi atau emosi yang hadirakibat dari persoalan yang dihadapinya.Jika kembali melihat fenomena yang terjadi, ada individu yang mengatakan bahwa iamulai menerima dan mulai menyukai berkuliah di Jurusan Psikologi meskipun tidak sesuaiminatnya. Tentunya individu pun sempat mengalami kesulitan bahkan stres ketika banyaktugas yang dihadapi sehingga membuatnya malas belajar, kesal dan tidak mood. Namun haltersebut dapat terselesaikan ketika ia memilih untuk mengalihkan perhatiannya sebentardengan menonton film atau membaca buku yang disukainya. Jika dikaitan dengan tahappenerimaan diri, maka individu tersebut sudah ada pada tahap tolerance, yakni sudah mampumenahan perasaan tidak menyenangkan dan berharap dapat hilang dengan sendirinya. Adajuga yang mengatakan bahwa penerimaan diri muncul ketika telah melewati beberapasemester di Jurusan Psikologi dikarenakan dulu waktu semester awal, mata kuliah pokok

6psikologi hanya beberapa, sedangkan mulai dari semester tiga sudah sangat terasa olehnyabahwa mata kuliah yang ia pelajari sangat aplikatif untuk kehidupannya. Lebih lanjut,individu tersebut menceritakan bahwa ia dapat menyelesaikan permasalahan pribadinyadengan ilmu yang ia dapat dari perkuliahan sehingga berdampak pada proses perkuliahan dankemampuan untuk bertahan di Jurusan Psikologi tersebut. Pengaplikasian ilmu dari matakuliah yang dipelajarinya merupakan salah satu tahap friendship dalam penerimaan diri.Sedangkan pada kelompok ketiga, penerimaan dirinya masih berada pada tahap aversion dimana individu kelompok tersebut masih menghindar sebagai reaksi dari keadaan yangdihadapinya. Kemudian untuk kelompok lain yaitu kelompok yang sudah mengundurkan diridapat dilihat bahwa mereka belum mempunyai penerimaan diri atas kondisi salah jurusansehingga pada akhirnya memilih untuk keluar dari Jurusan Psikologi. Dari ketiga kelompokhasil dari wawancara dan observasi, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa yang berkuliahtidak sesuai dengan minatnya memiliki adversity quotient yang berbeda-beda yang dapatdirepresentasikan melalui indeks prestasi yang mereka dapat.Adversity quotient adalah suatu teori yang dicetuskan oleh Stoltz pada tahun 2000.Adversity quotient merupakan kecerdasan individu dalam menghadapi permasalahanpermasalahan atau kemalangan dalam hidup. Karena menurutnya, kecerdasan individu tidakcukup jika hanya dilihat dari intelligence quotient dan emotional quotient. (Stoltz, 2000).Stoltz (dalam Supardi, 2013), adversity quotient bukan hanya persoalan kemampuanindividu dalam mengatasi kesulitan yang ada sekaligus mengambil kemenangan, akan tetapiindividu tersebut juga diharapkan dapat mengubah pandangannya akan sebuah kesulitansebagai sebuah peluang baru untuk mencapai kesuksesan yang diinginkannya. Stoltzmembagi adversity quotient menjadi lima dimensi yaitu control, origin, ownership, reach,dan endurance. Dimensi tersebut menjelaskan tentang bagaimana respon yang digunakanindividu untuk menjelaskan kesulitan yang dialami. Dari lima dimensi tersebut maka dapat

7dilihat tingkatan-tingkatan atau kategori respon individu dalam menghadapi kesulitan.Kategori tersebut yaitu quitters, campers dan climbers.Adversity quotient diartikan juga sebagai daya juang. Dalam teorinya, Stoltzmenganalogikan dengan sebuah pendakian. Pada kategori pertama yaitu quitters merupakanindividu yang berhenti. Individu pada kategori ini memilih untuk menghindar danmeninggalkan impiannya dan memilih jalan lain yang menurutnya lebih mudah karena tidakmemiliki motivasi untuk mendaki. Kemudian ada kategori campers yakni individu yangberkemah. Yang tergolong individu ini ialah mereka yang memilih tidak sampai pada puncakpendakian karena sudah cukup puas dengan perjalanan yang dilalui. Dan yang ketiga adalahkategori climbers dimana individu ini terus membangkitkan dirinya untuk bangkit danmendaki, melihat tantangan sebagai peluang dan tidak takut dengan perubahan. (Stoltz, 2000)Ketiga kategori tersebut secara jelas menggambarkan bahwa adversity quotientmerupakan faktor yang erat kaitannya dengan penerimaan diri. Dimana individu yang mampumenerima dirinya dengan baik akan memiliki daya juang yang lebih dibandingkan denganindividu yang masih belum menerima keadaan dirinya. Hal ini diperkuat oleh Stoltz bahwaclimbers mampu menyambut baik tantangan dan dapat memandang positif diri sendiri,memiliki semangat tinggi serta berjuang untuk mendapatkan yang terbaik dari hidup.Penelitian sebelumnya dari Novianty (2014) tentang penerimaan diri dan daya juangpada wanita penderita systhemic lupus erythematosus (SLE) dengan metode observasi danwawancara serta menggunakan teknik purposive sampling dalam menentukan subjekpenelitian. Sumber datanya diambil dari dokumen Support for Odapus Kalimantan Timur(SUFORDA) tahun 2013. Dari hasil penelitian yang dilakukan pada tiga orang subjek,didapat bahwa penerimaan diri melibatkan keberanian untuk mengambil risiko yang dilandasiadanya keyakinan dan motivasi bahwa individu mampu berusaha. Penerimaan diri yang baikberhubungan dengan respons yang baik pula terhadap suatu keadaan sehingga munculnya

8kepuasan batin. Sebaliknya, jika individu masih memandang dirinya dengan negatif,menyebabkan kurang adanya usaha untuk berjuang lebih baik lagi. Sehingga yang timbulsebuah kepasrahan. Di dalam adversity quotient menunjukan daya tahan, daya bangkit sertasikap pantang menyerah (Supardi, 2013).Berdasarkan fenomena yang terjadi pada mahasiswa Universitas Islam Negeri SunanGunung Djati Bandung, Fakultas Psikologi angkatan 2014 dimana banyak mahasiswanyayang berkuliah tidak sesuai minatnya namun tetap memilih untuk bertahan meski denganhasil indeks prestasi yang berbeda-beda. Maka dari itu, peneliti tertarik untuk mengangkatfenomena ini menjadi sebuah penelitian ilmiah dengan judul “hubungan self acceptancedengan adversity quotient pada mahasiswa yang kuliah tidak sesuai minat.”Rumusan MasalahUntuk menjawab permasalahan yang diteliti, maka diperlukan rumusan masalah dalambentuk pertanyaan, yakni:a. Bagaimana self acceptance pada mahasiswa Fakultas Psikologi angkatan tahun 2014, UINSunan Gunung Djati Bandung yang kuliah tidak sesuai dengan minatnya?b. Bagaimana adversity quotient pada mahasiswa Fakultas Psikologi angkatan tahun 2014,UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang kuliah tidak sesuai dengan minatnya?c. Apakah terdapat hubungan self acceptance dengan adversity quotient pada mahasiswaFakultas Psikologi angkatan tahun 2014, UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang kuliahtidak sesuai dengan minatnya?

9Tujuan PenelitianPenelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jawaban yang empiris mengenai:a. Self acceptance pada mahasiswa Fakultas Psikologi angkatan tahun 2014, UIN SunanGunung Djati Bandung yang kuliah tidak sesuai dengan minatnya.b. Adversity quotient pada mahasiswa Fakultas Psikologi angkatan tahun 2014, UIN SunanGunung Djati Bandung yang kuliah tidak sesuai dengan minatnya.c. Hubungan antara self acceptance dengan adversity quotient pada mahasiswa FakultasPsikologi angkatan tahun 2014, UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang kuliah tidaksesuai dengan minatnya.Kegunaan Penelitian.Kegunaan teoritis. Penelitian ini dapat memberikan sumbangan bagi pengembanganbidang keilmuan Psikologi Pendidikan, terutama memberikan informasi dan pembuktianempiris mengenai hubungan self acceptance dengan adversity quotient pada mahasiswa yangberkuliah tidak sesuai minatnya.Kegunaan praktis. Hasil dari penelitian ini, selain untuk menambah pengetahuan jugadiharapkan dapat menjadi masukan tentang bagaimana self acceptance berhubungan denganadversity quotient pada mahasiswa yang berkuliah tidak sesuai minatnya sehinggamemberikan manfaat baik bagi Fakultas Psikologi maupun fakultas lain di UIN SunanGunung Djati Bandung, serta manfaat untuk mahasiswa yang berkuliah tidak sesuai denganminatnya itu sendiri.