aaaaaaa

Transcription

I. PENDAHULUAN1.1Latar BelakangTaman Nasional Kerinci Seblat memiliki bioma yang berupa hutan hujantropis, hutan dataran rendah, dan lahan basah menyimpan keanekaragaman yangtinggi. Kawasan yang terkenal akan keindahannya, antara lain Danau GunungTujuh, Gunung Kerinci, Rawa Bento, Tegakan Hutan Madapi, atau Goa Kasah.Gunung Kerinci merupakan salah satu gunung berapi di Indonesia yang masukdalam wilayah Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), yang merupakan wilayahkonservasi di dalamnya menyimpan keanekaragaman hayati baik flora maupunfauna. Fauna endemik di Gunung Kerinci tersebut cukup penting. Kurang lebihterdapat 35 spesies burung endemik asli Kerinci yang sulit ditemui di wilayahlain. Hal ini menuai perhatian dari kalangan pecinta bird watching untukmenikmati keindahan burung-burung di sekitar Gunung Kerinci. Taman NasionalKerinci Seblat merupakan rangkaian yang tidak terputus antara hutan hujandataran rendah sampai pegunungan, termasuk hutan pinus tropis alami, hutanrawa gambut, dan danau air tawar. Kawasan ini merupakan habitat sebagian besarburung-burung Sumatera. Terdapat lebih dari 371 jenis burung (17 jenis diantaranya endemik sumatera). Mewakili berbagai tipe ekosistem yang khasdiantaranya hutan dataran rendah (low land forest), hutan bukit (hill forest), hutansub-montana (sub-montane forest) hutan montana rendah (lower montane forest),hutan montana sedang (mid-montane forest), hutan montana tinggi (uppermontane forest), padang rumput sub-alpine (sub-alpine thicket) (TNKS, 2018).Burung merupakan satwa liar yang bisa ditemukan di berbagai tipeekosistem. Tingkat penyebaran yang merata menjadikan burung sebagai sumberkekayaan hayati yang berperan dalam ekosistem dan peka terhadap perubahanlingkungan (Hadinoto et al., 2012). Di Indonesia 1.539 jenis burung dan 381 jenisdiantaranya merupakan endemik Indonesia. Keanekaragaman spesies burungdapat mencerminkan tingginya keanekaragaman hayati kehidupan liar lainnya,artinya burung dapat dijadikan sebagai indikator kualitas hutan. Berbagai spesiesburung dapat kita ditemui di berbagai tipe habitat, diantaranya hutanprimer/sekunder, agroforest, perkebunan (sawit/ karet/kopi) dan tempat terbuka

(pekarangan, sawah, lahan terlantar). Burung memiliki peran penting dalamekosistem antara lain sebagai polinator, pemencar biji dan sebagai pengendalihama. Burung juga sangat digemari oleh sebagian orang karena memiliki suarayang merdu dan keindahan warna bulunya. Burung merupakan salah satu spesiessatwa yang keberadaannya sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yangmemiliki tingkat keanekaragaman vegetasi yang tinggi (Kindangan, 2013).Burung memiliki nilai ekonomi, estetika dan budaya yang tinggi. Burungmerupakan indikator terbaik untuk mengetahui kondisi keanekaragaman hayatikarena kelompok satwa ini memiliki sifat-sifat yang mendukung yaitu, (1) Hiduppada semua jenis habitat di seluruh dunia; (2) Peka terhadap perubahanlingkungan; (3) taksonomi burung relatif lebih berkembang; (4) informasimengenai penyebaran berdasarkan geografi setiap spesies burung di dunia telahdiketahui dan terdokumentasi dengan baik (Sujatnika et.al, 1995).Keanekaragaman jenis burung di alam memiliki daya tarik khusus bagipeneliti maupun pengamat burung yaitu berasal dari keunikan dan keindahannya(Ahmad dkk, 2015). Keanakearagaman burung pada suatu kawasan dapatdisebabkan oleh tipe habitat serta vegetasi tumbuhan yang ada pada kawasantersebut. Pada beberapa tipe habitat burung memiliki perbedaan yang terlihat jelasyaitu banyak sedikitnya vegetasi yang tumbuh pada suatu lokasi dan jenis vegetasiyang tumbuh pada suatu kawasan dengan luasan tertentu (Susanto, 2012).Distribusi jenis burung di daerah pegunungan biasanya bervariasi sesuai denganrentang altitudinal. Perubahan komposisi jenis burung di hutan pegunungandipengaruhi oleh kondisi fisik dan biologis yang bervariasi di sepanjang gradienketinggian, persaingan antar jenis, dan diskontinuitas habitat (ecotones). Gradienketinggian yang meningkat menyebabkan ketersediaan sumber daya untuk burungberkurang, hal ini mencerminkan perbedaan pada hutan. Karr (1975) menyatakanbahwa keanekaragaman jenis burung pada komunitas mempunyai korelasi dengansumber daya alam yang ada pada komunitas tersebut.Keanekaragaman jenis burung dipengaruhi oleh keanekaragaman tipehabitat. Struktur vegetasi dan ketersediaan pakan pada habitat merupakan faktorutama yang mempengaruhi keanekaragaman jenis di suatu habitat, sehinggahabitat dengan variasi vegetasi lebih beragam akan memiliki keanekaragaman

jenis burung yang lebih tinggi dibandingkan dengan habitat yang memiliki sedikitjenis vegetasi. Berdasarkan pemikiran tersebut, maka pelitian ini dilakukandengan tujuan untuk mengetahui jenis burung di kawasan hutan pegununganTaman Nasional Kerinci Seblat.Kerinci Seblat adalah kawasan taman nasional paling besar di PulauSumatera. Taman nasional ini meliputi empat provinsi dengan sejarah yang cukuppanjang. Hal ini sesuai dengan banyaknya wilayah yang mencakup kawasan ini.Pada mulanya, kawasan ini mencakup beberapa cagar alam seperti Cagar AlamGunung Idrapura, Cagar Alam Bukit Tapan, dan Cagar Alam Danau GunungTujuh. Juga mencakup beberapa Suaka Margasatwa, yaitu Suaka MargasatwaBukit Gedang Seblat, Suaka Margasatwa Rawas Hulu Lakitan, Suaka MargasatwaSangir Ulu, dan Suaka Margasatwa Bukit Kayu Embun. Seperti yang diketahuibahwa Gunung Kerinci adalah puncak tertinggi di Taman Nasional KerinciSeblat. Oleh sebab itu, gunung ini juga menjadi tujuan para pendaki untukmenaklukkan puncaknya. Pendakian menuju puncak gunung ini membutuhkanwaktu sekitar 2 hari dengan melalui medan yang cukup berat.Selain itu, ada pula beberapa Hutan Lindung di antaranya adalah HutanLindung Bukit Regis, Hutan Lindung Kambang, Hutan Lindung Bajang AirTarusan Utara, Hutan Lindung Batang Maringin Barat, Hutan Lindung BatangMaringin Timur, Hutan Lindung Gunung Sumbing, Hutan Lindung Sangir Ulu,Hutan Lindung Bukit Gedang Seblat, dan Hutan Produksi Terbatas.Beberapa jenis famili burung yang banyak ditemukan di sepanjang jalurpendakian Gunung Kerinci Kersik Tuo yaitu Pycnonotidae seperti burung merbahgunung (Pycnonotus flavescens), burung merbah bluker (Pycnonotus plumosus),burung cucak gunung (Pycnonotus bimaculatus), famili Muscicapidae sepertiburung sikatan bodoh (Ficedula hyperythra), burung niltava sumatera (Niltavasumatrana), dan famili Phylloscopidae seperti burung cikrak mahkota coklat(Seicercus castanicep)s, dan burung cikrak daun (Phylloscop trivirgatus).

Edi Guslian, 2021 Edi Guslian, 2021 Edi Guslian, 2021Gambar 1. Beberapa Jenis Burung di Taman Nasional Kerinci SeblatKawasan Taman Nasional Kerinci Seblat dengan variasi ketinggian mulaidari 200 mdpl sampai dengan 3.805 mdpl di puncak Gunung Kerinci memilikivariasi ekosistem yang sangat beragam. Menurut Laumonier (1994) tipeekosistem hutan TNKS dapat diklasifikasikan dalam beberapa tipe berdasarkanelevasi dengan komposisi jenis vegetasi yang berubah sesuai dengan perubahanelevasi sebagai berikut:Hutan dataran rendah yang terdapat di sebelah timur Bukit Barisan padaketinggian 150-200 mdpl, hampir semua bagian hutan ini telah hilang dari dataransedimen, tetapi masih tersisa sedikit di sub-stratum granit assif. Bagian barat darihutan dataran rendah ini mencapai ketinggian 300 mdpl dengan jenis vegetasididominasi oleh Dipterocarpus spp., Shorea multiflora dan S. atrinervosa.Hutan perbukitan (hill forest) di sisi barat Bukit Barisan memiliki kisaranelevasi 300-800 mdpl. Bagian timur hutan TNKS terbagi menjadi dua zona, yaituzona perbukitan rendah (150-450 mdpl) dan zona perbukitan tinggi (450-800mdpl). Hutan perbukitan disisi timur dan barat memiliki kemiripan dalam struktur,tetapi mereka memiliki perbedaan dalam jenis sembulan (emergent) dan jeniskanopi. Pada batuan induk vulkanik di sisi timur Bukit Barisan jenis eae, Fagaceae,danBurceraceae. Jenis yang melimpah adalah Hopea beccariana. Tinggi kanopi

antara 35-40 m, tetapi pohon emergent (superdominant) dapat mencapai 55 m.Pada hutan di bukit-bukit yang curam di pantai barat jenis pohon yang dominanadalah Sterculia sp. Bentuk variasi yang paling penting pada hutan perbukitanadalah hutan yang berkembang pada tuff vulkanik. Tanah dari batuan induk inisangat rentan terhadap erosi sehingga mengakibatkan terbentuknya tebing-tebing.Tinggi kanopi hanya mencapai 25-30 m. Jenis dipterocarp kurang terwakili padahutan ini.Hutan sub-montana terletak pada ketinggian antara 800-1400 mdpl. Antarahutan sisi barat dan sisi timur Bukit Barisan, dan antara sisi selatan dan sisi utara,hanya terdapat sedikit perbedaan struktur. Masih sering ditemui kanopi dengantinggi 35-45 m dan kanopi bawah dengan tinggi 20-30 m, pohon emergent dengantinggi 50 m. Namun, pada umumnya kanopi hutan ini lebih rendah. Pada lapisankanopi setinggi 25-30 m jenis famili yang paling banyak adalah Myrtaceae danFagaceae. Pada kanopi dengan tinggi 10-20 m, pohon dewasa tidak banyak. Duavariasi bentuk hutan yang terdapat di hutan submontana adalah hutan bambu danGarciniaHutan montana rendah (lower montane forest) terdapat pada ketinggian1400-1900 mdpl. Physiognomi (kenampakan) hutan ini berbeda-beda menurutukuran punggung bukit. Serasah di permukaan tanah menjadi lebih tebal karenalaju dekomposisi menurun. Pohon kanopi terdiri dari famili Fagaceae, Lauracea,Theaceae, Myrtaceae, dan sejumlah Sapotaceae. Tumbuhan bawah didominasioleh famili Myrsinaceae.Hutan montana tengah pada hutan montana tengah (mid montane forest)dengan ketinggian 1900-2400 mdpl, persentase tanaman berdaun kecil di lapisankanopi meningkat dan hutannya menjadi kurang rapat. Pada tipe hutan ini vegetasiPodocarpus merupakan jenis pohon emergent dengan tinggi mencapai 25 m.Kanopi memiliki tinggi 15-20 m yang terdiri dari jenis-jenis Quercus oidocarpa,Vernonia arborea, Symingtonia populnea, Drypetes subsymetrica, Gordoniabuxyfolia, Weinmannia blumet dan Polysma integrifolia. Batang pohon tertutupoleh lumut dan epifit. Lapisan kanopi bawah dicirikan oleh jenis-jenis cels,Lithocarpus

pseudomoluccus dan Myrsine hasetii. Di bagian atas hutan ini, sering terdapatkabut terus menerus, dan Bryophyta melimpah.Hutan montana atas, vegetasi Symplocus, Myrsine, dan Ardisia merupakangenera yang paling dominan di hutan montana atas (upper montane forest) padaelevasi 2400-2900 mdpl. Pada lapisan kanopi atas (10-15 m) Symplocuscochinchinensis var sessilifolia dan Ilex pletobrachiata merupakan jenis yangdominan, sedangkan lapisan kanopi bawah (5-1110 m) didominasi oleh vegetasiArdisia laevigata, Meliosma lanceolata, dan Cyathea trachypoda.Belukar sub-alpine, pada ketinggian 2900 mdpl dan pada ketinggian diatasnya ditemukan belukar sub alpine (sub alpine thicket) yang didominasi olehvegetasi Ericaceae (Rhododendron retusum, Vaccinum miquellii dan Aultherinummularoides), Symplocacea (Symplocos cochinchinensis). Ada tujuh tipeekosistem dari variasi ketinggian gunung kerinci, dan setiap ekosistem dariberbagai ketinggian akan didiami oleh burung yang berbeda-beda denganketersediaan pakan dan lingkungan yang berbeda.Berdasarkan hal tersebut, maka dilakukan penelitian yang bertujuan untukmengetahui jenis jenis burung berdasarkan zonasi ketinggian di Gunung KerinciHipotesis yang akan diuji melalui penelitian ini adalah terdapat perbedaankeanekaragaman jenis burung pada masing- masing zona pengamatan di GunungKerinci. Berdasarkan paparan diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitiandengan judul “Keanekaragaman Jenis Burung Pada Berbagai KetinggianGunung Kerinci Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat”1.2Rumusan MasalahBerdasarkan latar belakang di atas dapatdirumuskan permasalahanpenelitian sebagai berikut:1.Bagaimana tingkat keanekaragaman jenis burung berdasarkan zonaketinggian di Gunung Kerinci?2.Apakah terdapat perbedaan komunitas burung pada masing- masing zonapengamatan di jalur pendakian Gunung Kerinci?1.3Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah disusun di atas maka dapatditentukan tujuan penelitian untuk:1.Menganalisis tingkat keanekaragaman jenisburung berdasarkan zonaketinggian di Gunung Kerinci.2.Menganalisis adanya perbedaan komunitas burung pada masing- masingzona pengamatan di jalur pendakian Gunung Kerinci.1.4Manfaat PenelitianHasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi ataupunrujukan bagi mahasiswa dan peneliti dalam hal keanekaragaman jenis Burung diberbagai ketinggian pada Gunung Kerinci, dan dapat menjadi rujukan, referensidan memberi informasi kepada masyarakat tentang spesies-spesies burung yangterdapat di berbagai ketinggian pada Gunung Kerinci dalam bentuk buku saku danposter.1.5Kerangka PemikiranBerdasarkan landasan teori di atas maka terdapat kerangka pemikiran yangakan dijelaskan pada gambar berikut:Habitat Taman Nasional Kerinci SeblatKeanekaragaman Burung Kawasan Gunung KerinciMetode Point Count (Titik Hitung)Metode Rapid Assessment3 titik hitung pagi dan sore hariPengenalan secara langsungTotal Individu, jenis dan familiKomposisi Penyusun VegetasiIndeks Keanekaragaman Jenis (Diversity Index)Indeks Kesamarataan (Evennes Index)Indeks DominasiIndeks Kesamaan Komunitas (Index of Similarity)Gambar 2. Kerangka Pemikiran Penelitian