aaaaaaa

Transcription

Struktur dan Komposisi Jenis-Jenis Pohon di Taman Nasional Gunung Rinjani bagianSelatan, Lombok, Nusa Tenggara Barat( Structure and Composition Tree Species in Southern of Rinjani Mountain NationalPark, Lombok, West Nusa Tenggara )Muhammad MansurBidang Botani-Puslit Biologi-LIPI, Jl. Raya Cibinong KM 47 Cibinong, BogorEmail: mansurhalik@yahoo.comMemasukkan: Januari 2015, Diterima: November 2015ABSTRACTPlant ecology study has been conducted in the southern part of Rinjani Mountain National Park on April 2015 to determinethe structure and composition of tree species. Four plots, 30 x 30 m each were established at four locations, those are; PalBelanda (1046 m asl), Pengorot-1 (929 m asl), Pengorot-2 (820 m asl), and Sebau (1134 m asl). The results showed thatthere are two types of forest in the sites, namely the secondary forest (Pal-Belanda, Pengorot-1 and Pengorot-2) and primaryforest (Sebau). From all plots (0.36 ha) we found 36 species of trees (trunk diameter 5 cm) of 449 individuals, 28 genusand 21 families with a total Basal Area of 16.73 m2 (46.47 m2/ha). Shannon Diversity Index (H') in the Pengorot-2 recorded1,15, followed Pengorot-1 (1.13), Pal-Belanda (1.03) and Sebau (0.72). Saurauia pendula recorded as the dominant speciesin all site with Important Value Species (IVS) of 245% followed Dendrocnide microstigma (IVS 162%), Platea excelsa(IVS 148.2%), Syzygium glomeruliferum (IVS 72%) and Symplocos cochinchinensis (IVS 49.3%). Myrtaceae andEuphorbiaceae were the common families in the sites. Structure and composition of tree species in the Pal-Belanda,Pengorot-1 and Pengorot-2 were relative similar (Similarity Index 70.3% and 69.4%) but different than in Sebau area(Similarity Index 24.9%).Keywords: Structure, composition, tree diversity, Rinjani, LombokABSTRAKStudi ekologi tumbuhan dilakukan di Taman Nasional Gunung Rinjani bagian selatan pada bulan April 2015 untukmengetahui struktur dan komposisi jenis pohon. Empat plot masing-masing berukuran 30 x 30 m dibuat di empat lokasi,yakni; Pal-Belanda (1046 m dpl), Pengorot-1 (929 m dpl), Pengorot-2 (820 m dpl), dan Sebau (1134 m dpl). Hasilpenelitian menunjukkan bahwa ada dua tipe hutan, yaitu hutan sekunder (Pal-Belanda, Pengorot-1 dan Pegorot-2) danhutan primer (Sebau) . Dari seluruh plot yang diukur seluas 0,36 ha diketemukan 36 jenis pohon dengan diameter batang 5 cm dari total 449 individu, 28 marga dan 21 suku dengan total Luas Bidang Dasar sebesar 16,73 m2 (46,47 m2/ha). IndekKeragaman Shannon (H’) di daerah Pengorot-2 tercatat 1,15, diikuti Pengorot-1 (1,13), Pal-Belanda (1,03) dan Sebausebesar 0,72. Saurauia pendula tercatat sebagai jenis paling dominan di seluruh lokasi penelitian dengan Nilai Penting Jenis(NPJ) sebesar 245% diikuti jenis Dendrocnide microstigma (NPJ 162%), Platea excelsa (NPJ 148,2%), Syzygiumglomeruliferum (72%) dan Symplocos cochinchinensis (NPJ 49,3%). Myrtaceae dan Euphorbiaceae, adalah suku yangumum diketemukan di lokasi penelitian. Struktur dan komposisi jenis pohon yang ada di daerah Pal-Belanda, Pengorot-1dan Pengorot-2 adalah relatif sama (Indeks Kesamaan 70,3% dan 69,4%), namun berbeda dengan yang ada di daerahSebau (Indeks Kesamaan 24,9%).Kata Kunci: Struktur, komposisi, keragaman jenis pohon, Rinjani, LombokPENDAHULUANGunung Rinjani terletak di Pulau Lombok,tercatat sebagai gunung tertinggi ketiga diIndonesia (3.726 m dpl) setelah Gunung JayaWijaya (4.884 m dpl) di Papua dan GunungKerinci (3.805 m dpl.) di Sumatera, ditetapkansebagai Taman Nasional pada tahun 1997.Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani(TNGR), merupakan salah satu bagian darihutan hujan tropis yang terdapat di wilayahNusa Tenggara Barat, tepatnya di P. Lombokyang terdiri dari berbagai tipe ekosistem mulaidari hutan tropis dataran rendah, hutan tropispegunungan hingga sub alpin. Kawasan TNGRsangat kaya akan keanekaragaman hayati flora danfauna sebagai sumber plasma nutfah, Potensi inidapat dijadikan untuk pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, penelitian dan wisata alam(Kurniawan dkk. 2012).Awalnya TNGR merupakan Suaka MargaSatwa yang ditetapkan Gubernur Hindia Belandapada tahun 1941, kemudian diumumkan melaluiSurat Pernyataan Menteri Kehutanan No. 448/

Muhammad MansurMenhut-IV/1990 dan ditunjuk sebagai TNGRdengan Surat Keputusan Menhut No. 280/KptsIV/1997 dengan luas 41.330 ha yang terletak ditiga wilayah Kabupaten. Sesuai dengan SKDirjen PHKA No. SK 99/IV/Set-3/2005 tentangpenataan zona pada TNGR, maka guna kepentinganpengelolaan sebagai Taman Nasional di Indonesia,kawasan TNGR dibagi menjadi beberapa zonapengelolaan, yaitu; Zona inti (20.843,50 ha), Zonarimba (17.349,50 ha), Zona pemanfaatan (799 ha)dan Zona lainnya (2.338 ha) (Anonim 2014).Sampai saat ini keanekaragam jenis floraterdokumentasi hanya terbatas dilakukan disepanjang jalur pendakian baik di Senaruataupun Sembalun (Mansur dkk. 1995; Tobe etal. 2010; Kurniawan dkk. 2012; Wardani dkk.2012) yaitu di kawasan TNGR bagian utara,namun dibagian kawasan lainnya belum dilakukan.Untuk itu penelitian kali ini dilakukan di sebelahselatan kawasan TNGR dengan harapan dapatmelengkapi informasi flora keseluruhan yang ada didalam kawasan TNGR, khususnya dari sudut ekologitumbuhannya.Penelitian dilakukan untuk mengungkap flora dibagian sebelah selatan TNGR, yang hasilnyadiharapkan dapat melengkapi data penelitian sebelum-nya dan juga dapat membantu dalam usahapengelolaan TNGR oleh pihak Kehutanan atau pihaklainnya yang berkepentingan.BAHAN DAN CARA KERJAPenelitian dilakukan pada bulan April 2015di dua Desa yang berbeda, yakni Desa JerukManis, Kecamatan Sikur dan Desa Sapit,Kecamatan Suela, yang keduanya secaraadministratif termasuk kedalam wilayahKabupaten Lombok Timur. Empat plot (0,36ha) masing-masing berukuran 30 x 30 m dibuatdi empat lokasi, yakni; Pal-Belanda (1046 mdpl), Pengorot-1 (929 m dpl), Pengorot-2 (820m dpl), yang termasuk kedalam Desa JerukManis dan Sebau (1134 m dpl) yang termasukDesa Sapit (Gambar 1).Masing-masing plot kemudian dibagi lagimenjadi 9 petak dengan ukuran masing-masingpetak 10x10 m. Seluruh jenis pohon (diameterbatang 5 cm) di dalam petak dicatat, antaralain; nama jenis, jumlah pohon, diameterbatang, dan estimasi tinggi pohon. Parameter88yang diukur tersebut untuk mengetahui kelimpahansuatu jenis, struktur dan komposisi dari masingmasing plot yang diteliti. Untuk pohon yang tidakberbanir, diameter batang diukur pada ketinggian 130cm di atas permukaan tanah, sedangkan pohon yangberbanir pada ketinggian 30 cm di atas banir.Penamaan masing-masing jenis pohon dilakukandengan mengambil sampel daun dan selanjutnyadiidentifikasi di Herbarium Bogoriense-LIPI,Cibinong.Seluruh data yang terkumpul dianalisisuntuk mendapatkan Nilai Penting Jenis (NPJ)pada setiap plot dan dihitung menurut caradalam penelitian ekologi standar, antara laindengan cara Bray & Curtis (1957), GreighSmith (1964), Cox (1967) dan Muller-Dombois& Ellenberg (1974) untuk mendapatkan nilaiBasal Area (BA), Frekuensi Relatif (FR),Kerapatan Relatif (KR), Dominansi Relatif(DR) dan Nilai Penting (NP). Nilai BA didapatdari hasil perhitungan rumus:BA (0,5xD)2x3,14Dimana D adalah diameter batang dan nilai3,14 adalah konstanta. Nilai FR merupakanhasil bagi dari frekuensi suatu jenis denganfrekuensi semua jenis dan dikalikan 100%,dimana nilai frekuensi didapat dari jumlah petakditemukannya suatu jenis dari jumlah petakcontoh yang digunakan. Nilai KR merupakanhasil bagi dari kerapatan suatu jenis dengankerapatan semua jenis dan dikalikan 100%,dimana nilai kerapatan didapat dari jumlah totalindividu suatu jenis dari seluruh petak. Nilai DRmerupakan hasil bagi dari dominansi suatu jenisdengan dominansi semua jenis dan dikalikan100%, dimana nilai dominansi didapat dariLocation studyGambar 1. Peta lokasi penelitian

Struktur dan Komposisi Jenis-Jenis Pohon di Taman Nasional Gunung Rinjanijumlah nilai Basal Area suatu jenis. Nilai NPdidapat dari hasil perjumlahan FR, KR dan DR.Sedangkan untuk mengetahui keragaman dankesamaan jenis di setiap plot, maka digunakanrumus Indeks Keragaman dari Shannon (Odum1971) dan Indeks Kesamaan Jaccard (MuellerDombois 1974).Secara umum topografi di daerah penelitianadalah berbukit hingga bergunung dengankemiringan lereng cukup terjal ( 450). Tanahnyadari jenis latosol berwarna coklat kehitam-hitamandengan lapisan humus tipis, pH tanah cukup baik diantara 6,2 – 7,0 dan Curah hujan tercatat 2000 mm/tahun. Melihat kondisi tanah seperti itu dapatdikatakan bahwa tanah di kawasan ini cukup subur.Penelitian sebelumnya pada tahun 1995 di kawasanTNGR sebelah utara (naik dari Desa Senaru) dariketinggian 800 hingga 2500 m dpl. dilaporkan bahwapH tanah berkisar antara 6,1-7,4, temperatur tanahantara 15-24OC, kelembapan tanah 1,8-2,1 H2O cm,kekerasan tanah 0,9-11 kg/cm dan nutrien EC 0,81,0 ms/cm (Mansur dkk. 1995).yang ada di daerah Pos Kembang Kuning (PlotPal-Belanda, Plot Pengorot-1, Plot Pengorot-2),dan hutan primer yang ada di daerah Sebau(masuk dari arah pos Lemor). Lokasi danketinggian tempat penelitian dapat dilihat padatabel 1.Dari seluruh plot yang diukur (0,36 ha)diketemukan ada 36 jenis pohon (diameterbatang 5 cm) dari 449 individu, 28 marga dan21 suku dengan total Luas Bidang Dasar sebesar16,73 m2 (46,47 m2/ha). Jumlah jenis dankerapatan di setiap plot penelitian adalahbervariasi (Tabel 1), Jumlah jenis tertinggi adadi Pengorot-1, yakni sebesar 23 jenis danterendah di Sebau yaitu hanya 12 jenis.Demikian juga dengan kerapatan individupohon, yakni plot Pengorot-1 tercatat palingtinggi (141 individu/900 m2) dan terendah diSebau (91 individu/900 m2). Jenis Saurauiapendula (Iloh-iloh) adalah jenis yang palingmendominasi di kawasan hutan sekunder, yaituPal Belanda, Pengorot-1 danPengorot-2,sedangkan Platea excelsa (Dedurenan) adalahjenis yang menguasai di kawasan hutan primeryakni di daerah Sebau (Tabel 2 ). JenisDendrocnide microstigma (Jelateng) tercatatsebagai jenis yang penyebarannya cukup luasdan merata di setiap plot dan termasuk jenisdominan ketiga di setiap lokasi penelitian. HasilHASILStruktur dan komposisiDiketemukan ada dua tipe hutan dikawasan sebelah selatan Taman NasionalGunung Rinjani (TNGR), yaitu hutan sekunderTabel 1. Kondisi masing-masing plot di setiap lokasi penelitian di kawasan sebelah selatan Taman NasionalGunung Rinjani .UnsurPlot1234Pal BelandaPengorot-1Pengorot-2SebauDesa/Jeruk manis/Jeruk manis/Jeruk manis/Sapit/KecamatanSikurSikurSikurSuelaUkuran plot30x30 m(0,09 ha)30x30 m(0,09 ha)30x30 m(0,09 ha)30x30 m(0,09 ha)Latitude/S 08029’56.8”S 08030’31.5”S 08030’53.2”S 08026’32.2”000LongitudeE 116 25’01.6”E 116 25’24.6”E 116 25’28.6”E 116031’51.8”Altitude1046 m dpl.926 m dpl.820 m dpl.1134 m dpl.Jumlah jenis20232212Kerapatan95 (1055/ha)141 (1566/ha)122 (1355/ha)91 (1011/ha)LBD (m2)2,39 (26,6/ha)3,16 (35,2/ha)3,14 (34,9/ha)8,03 (89,2/ha)Tipe hutanSekunderSekunderSekunderPrimerJenis dominanS. pendulaS. pendulaS. pendulaPlatea excelsaS. glomeruliferumD. microstigmaD. microstigmaD. microstigmaD. microstigmaS. laxyflorumV. rubescensFicus ribesKeterangan: LBD Luas Bidang Dasar89

Muhammad Mansuranalisis vegetasi pohon (Frekuensi Relatif,Kerapatan Relatif, Dominansi Relatif dan NilaiPenting Jenis) di setiap lokasi penelitian dapatdilihat pada tabel lampiran 1,2,3 dan 4.Luas Bidang Dasar (LBD) pohon tertinggiberada di Sebau, yakni sebesar 8,03 m2/900 m2(89,2 m2/ha) dan terendah di Pal Belanda yaknisebesar 2,39 m2/900 m2 (26,6 m2/ha ). Dari datatersebut di atas dapat dijelaskan bahwa kawasanSebau yang merupakan hutan primer umumnyamemiliki pohon berdiameter batang lebih besar,hal ini terlihat dari LBD yang besar, namunTabel 2. Nilai Penting (%) masing-masing jenis pohon di setiap lokasi penelitianNamaPal Belanda Pengorot-1 Pengorot-2Aglaia spinosa (Blanco) M err.02.47Antidesma tetrandrum Blume03.37Ardisia javanica A. DC.003.0420.0620.72Beilschmiedia lucidula (M iq.) Kosterm.Calophyllum soulattri Burm.F.2.77S 5420.3427.7343.670.37162.04Elaeocarpus floribundus Bl.005.5105.51Ficus ribes Reinw.00041.1541.15Ficus septica Burm. F.004.9604.96Glochidion philippicum C.B. Rob.11.1810.30021.48Gomphandra mappioides Valeton02.15002.15Helicia serrata Bol.002.502.5Macaranga tanarius (L.) M uell. Arg3.010003.01Mastixia trichotoma Bl.Dendrocnide microstigma Chew.4.946.9114.83026.67Neonauclea excelsa (Bl.) M err.0007.627.62Oreocnide cf. frutescens (Thunb.) M iq.02.17002.17Palaquium obtusifolium Burck.2.982.1512.09017.22Petunga microcarpa (Bl.) DC.6.1510.99.817.9234.78Platea excelsa Bl.8.5905.35134.27148.2Polyosma integrifolia a pinnata Forst.Pterospermum javanicum Jungh.Roufolvia sumatrana .37Symplocos cochinchinensis (Lour.) M oore17.1622.989.13049.27Syzygium cf. .44Saurauia pendula Bl.Sloanea javanica (M iq.) SzyszSyzygium formosum Wall.Syzygium glomeruliferum Amsh.51.8914.845.26071.98Syzygium laxiflorum (Bl.) DC.002.629.1811.8Syzygium laxiflorum (Bl.) DC.3.2124.820.64048.64Syzygium sp.Syzygium zippelianum M 07.18Viburnum sambucinum Reinw ex. Blume2.989.550012.53Villebrunea rubescens (Blume) Blume6.1210.5628.95045.63Jumlah300300300300120090

Struktur dan Komposisi Jenis-Jenis Pohon di Taman Nasional Gunung Rinjanikeragaman jenis pohonnya kecil. Sebaliknya dihutan sekunder (Pal Belanda, Pengorot-1 danPengorot-2) meskipun memiliki diameter batangpohon lebih kecil namun keragaman jenispohonnya lebih beragam dibandingkan di hutanprimer yang ada di Sebau (Tabel 1). Persebarankelas diameter batang pohon di masing-masingplot dapat dilihat pada gambar 2. Persebarantertinggi berada pada kisaran kelas diameterbatang pohon di antara 5 hingga 15 cm untuksetiap plot dan jumlahnya mengecil denganmenurunnya kelas diameter batang pohon. Halini menunjukkan bahwa regenerasi secaraumum telah berjalan dengan baik. Diameterbatang pohon di hutan sekunder umumnya dibawah 45 cm, yaitu di Pal-Belanda, Pengorot-1dan Pengorot-2, sedangkan di hutan primerSebau tercatat ada pohon yang memilikidiameter batang lebih dari 100 cm (Plateaexcelsa). Persebaran kelas diameter batangnampak mengikuti pola J terbalik, hal inimerupakan karakteristik hutan hujan tropikalami yang dinamis (Richards 1996).Secara umum stratifikasi pohon di hutansekunder ada dua strata yaitu antara 2-10 m(strata 2) dan 10,1-20 m (Strata 1), Strata 2umumnya diisi oleh jenis Iloh-iloh (Saurauiapendula), Barabawi (Villebrunea rubescens) danJelateng (Dendrocnide microstigma), sedangkanpada strata 1 diisi oleh jenis Pepaoan (Symplocoscochinchinensis) dan Bajur (Pterospermumjavanicum). Di hutan primer (Sebau) tercatat adatiga strata, yaitu tinggi di antara 2-10 m (Strata 3) diisioleh Jelateng (Dendrocnide microstigma) danNyet-nyet (Ficus ribes), tinggi 10,1-20 m(Strata 2) diisi oleh Jelateng (Dendrocnidemicrostigma) dan Dedurenan (Platea excelsa)dan tinggi 20,1-30 m (Strata 1) diisi olehDedurenan (Platea excelsa) dan Klokos udang(Syzygium formosum) (Gambar 3). Umumnya hutansekunder di tiga lokasi penelitian tercatat memilikitinggi pohon di antara 2 hingga 10 m, yakni lebihdari 80%, sedangkan tinggi pohon di bawah 10m di hutan primer juga tercatat paling banyakjumlahnya yaitu sebesar 60%. Platea excelsadan Syzygium formosum adalah dua jenisemergence yang dapat mencapai tinggi 30 m dikawasan hutan primer Sebau.Jika dibandingkan dengan struktur pohonyang terdapat di Gunung Ranai, Pulau NatunaBesar, maka kerapatan dan LBD pohon perhektarnya di TNGR sedikit lebih besar untuksemua plot, Dilaporkan bahwahutanpegunungan atas di Gunung Ranai memilikikerapatan 353 individu/ha dan LBD 9,96 m2/ha.namun demikian jumlah jenis di Gunung Ranaisedikit lebih banyak (46 jenis) pada luasan yangsama (Mirmanto 2014). Demikian juga jikadibandingkan dengan kondisi hutan di TamanNasional Gunung Tambora dan Hutan ProduksiBatu Hijau-Sumbawa, bahwa di TNGRkerapatan pohon masih lebih rapat. Dilaporkanbahwa hutan di TN. Gn. Tambora padaketinggian 51 m dpl. dan pada luasan 0,5 hamemiliki 22 jenis pohon (Ø 10 cm) dan 14suku dari 214 individu dengan LBD sebesar10,4 m2/0,5 ha (Sadili dkk. 2015), sedangkan dikawasan Hutan Produksi Batu Hijau-SumbawaPersebaran Kelas Diameter Batang .1-15.005.0Jumlah individu (%)Jumlah individu (%)Pengorot-15060.980Pal-Belanda6088.2Kelas diameter batang (cm)Gambar 2. Pola persebaran kelas diameter batangpohon (cm) di setiap lokasi 20.1-30.0Tinggi pohon (m)Gambar 3. Pola persebaran tinggi pohon (m) disetiap lokasi penelitian91

Muhammad Mansurpada luasan 0.4 ha memiliki 48 jenis pohondengan kerapatan 391/ha dan LBD sebesar 41.9m2/ha (Yusuf, 1995). Perbedaan jumlah jenisdari masing-masing daerah tersebut disebabkanoleh perbedaan topografi dan kondisi fisiktanah, seperti yang dilaporkan oleh Turner(2001) yang menyatakan bahwa, kedua faktortersebut sangat berpengaruh terhadap keanekaragaman jenis pada komunitas hutan di daerah tropikdataran rendah. Selain itu juga kriteria pohon(diameter batang 5 cm atau 10 cm) dan luascuplikan plot menjadi salah satu penyebabterjadinya perbedaan jumlah jenis dan kerapatanpohon di setiap daerah penelitian, seperti padatabel 3 berikut di bawah ini.Indeks Kesamaan dan KeragamanHasil analisis cluster berdasarkan data dariNilai Penting Jenis, menunjukkan bahwastruktur dan komposisi vegetasi pohon di daerahPengorot-1 dan Pengorot-2 relatif sama yaknidengan Indeks Kesamaan sebesar 70,3%, dan diantara Pengorot-1 dan 2 dengan Pal Belandajuga relatif sama yakni sebesar 69,4%, namunketiga lokasi tersebut (Pal Belanda, Pengorot-1dan Pengorot-2) berbeda dengan struktur dankomposisi jenis dengan yang ada di hutanprimer Sebau, yaitu dengan Indeks Kesamaansebesar 24,9% (Gambar 4).Dilihat dari jumlah jenis pohon yangtercatat di lokasi penelitian, hutan sekunderyang ada di daerah Pal-Belanda, Pengorot-1 danPengorot-2 adalah lebih beragam dengan IndeksKeragaman Shannon berturut-turut adalah H’ 1,031; 1,129 dan 1,147, sedangkan di kawasanhutan primer Sebau adalah kurang beragamyaitu H’ 0,723 (Gambar 5). Berdasarkan datatersebut di atas, dapat dikatakan bahwa pohondi kawasan hutan primer umumnya memilikidiamater batang lebih besar dan hanya mewakilibeberapa spesies saja, sedangkan individuindividu berukuran kecil di hutan sekundermemiliki lebih banyak jenisnya. Meskipun didaerah Pengorot memiliki Indeks KeragamanTabel 3. Perbandingan jumlah jenis, kerapatan dan luas bidang dasar pohon di Taman Nasional GunungRinjani dengan lokasi penelitian lainnya.UnsurLokasi PenelitianTNGRGRGTBH0,36 ha0,24 ha0,5 ha0,4 haKriteria diameter pohon (cm) 5 5 10 10Jumlah jenis pohon36462248Kerapatan pohon/ha449353428391Luas Bidang Dasar (m2/ha)46,59,9620,841,9Mansur. 2015Mirmanto. 2012Sadili. 2015Yusuf. 1995Luas plotSumberKeterangan: TNGR Taman Nasional Gunung Rinjani, GR Gunung Ranai-Natuna, GT Gunung Tambora-Sumbawa,BH Hutan Produksi Batu Hijau-Sumbawa.Shannon Index ResultsNilai Indeks Keragaman1.5Pal Gambar 4. Indeks Kesamaan di antara plot penelitianberdasarkan Nilai Penting92Gambar 5. Indeks Keragaman Shannon di antaraplot penelitian berdasarkan Nilai PentingJenis

Struktur dan Komposisi Jenis-Jenis Pohon di Taman Nasional Gunung Rinjanilebih tinggi dari pada di tempat lainnya, namunnilai tersebut masih termasuk kategori keragamanrendah. Borbour dkk. (1987) menjelaskan bahwa,suatu area dikatakan memiliki nilai keragaman tinggiapabila memiliki nilai indeks diversitas (H’) lebihdari 4, kategori sedang (H’) di antara 2-4, dannilai rendah (H’) dibawah 2. Disadari bahwadengan luasan masing-masing plot adalah relatifkecil (900 m2) sehingga kurang representatifuntuk dibandingkan dengan plot-plot lainnya,namun demikian setidaknya hasil tersebut bisamemberikan informasi awal tentang kondisikawasan hutan di bagian selatan TNGR.PEMBAHASANTipe hutan di sebelah selatan kawasanTaman Nasional Gunung Rinjani hingga padaketinggian 1000 m dpl adalah umumnya sebagaihutan sekunder dengan tinggi kanopi di bawah20 m dan hanya memiliki dua strata, hal inidiketahui dengan ditemukannya Saropan(Macaranga tanarius) yang merupakan jenisindikator hutan sekunder, sedangkan jenisprimer yang masih tersisa adalah Sentul mulon(Palaquium obtusifolium). Tipe hutan di daerahSebau pada ketinggian tempat 1134 m dpl.adalah hutan primer yang didominasi olehpohon dari jenis Platea excelsa dengan tinggipohon dapat mencapai 30 m, memiliki tigastrata dan diameter batang bisa mencapai 100cm. Berdasarkan informasi dari penduduksetempat bahwa kawasan sebelah selatan TNGRadalah bekas aliran lava saat erupsi beberapapuluh tahun yang lalu, oleh karena itu kawasanhutan di daerah tersebut umumnya berupa hutansekunder, sedangkan di sebelah utara berupahutan primer mulai dari ketinggian 700 mhingga 2400 m dpl (Mansur dkk. 1995).Kondisi hutan primer di daerah Sebautergolong cukup baik dan relatif tidak tergangguoleh aktivitas manusia meskipun kawasan initerpotong oleh adanya jalan aspal hotmix yangmenghubungkan Kabupaten Lombok Timur danKabupaten Lombok Utara. Namun demikiankawasan hutan sekunder di daerah Pengorotmasih ditemukan beberapa orang yangmenebang kayu untuk digunakan sebagai kayuarang.Nilai Penting (NP) Jenis dapat dipakaisebagai penentu status suatu jenis dalam suatukomunitas vegetasi di suatu kawasan. Jenisdengan NP tertinggi dapat diartikan sebagaisuatu jenis yang paling tinggi penguasaannya didalam komunitas jenis tersebut tumbuh(Mirmanto 2014). Jenis Saurauia pendula (Ilohiloh) adalah jenis yang penyebarannya meratadan paling menguasai di kawasan hutansekunder di tiga lokasi penelitian, yaitu di PalBelanda (NP 93,3%), Pengorot-1 (NP 84,9%) dan di Pengorot-2 (NP 67,6%).Berbeda dengan di kawasan hutan primer yangmana jenis Platea excelsa (Dedurenan) adalahjenis yang paling dominan dan menguasaiwilayah tersebut dengan memiliki NP sebesar134,3%. Dari 21 suku yang tercatat, Myrtaceaedan Euphorbiaceae adalah suku yang palingumum ditemukan di lokasi penelitian dari padasuku lainnya. Pterospermum javanicum (Bajur),meskipun tercatat sebagai jenis dengan nilaipenting yang relatif kecil, namun penyebarancukup luas di tiga lokasi penelitian di kawasanhutan sekunder.Berdasarkan ketinggian tempat, TNGRdibagi menjadi zona pamah yaitu hutanpegunungan dataran rendah (500-1000 m dpl.),zona sub pegunungan (1000-1500 m dpl.), zonapegunungan (1600-2400 m dpl.) dan zona subalpin (2500-3726 m dpl.). Zona pamahdidominasi oleh jenis Saurauia pendula danDendrocnide microstigma di bagian selatanTNGR, sedangkan dibagian utaranya (hasilpenelitian sebelumnya) didominasi oleh Symplocoscochichinensis dan Meliosma pinnata. Pada zona sub-pegunungan, Platea excelsa dan Dendrocnidemicrostigma menguasai di sebelah selatan,sedangkan disebelah utaranya didominasi olehPolyosma integrifolia. Casuarina junghuhniana danEngelhardia spicata merupakan dua jenis yangmendominasi di zona pegunungan. Sedangkan dizona sub-alpin umumnya berupa padang savanadari jenis rumput Themeda sp. yang membentuksavana pegunungan dan sesekali ditumbuhitumbuhan perdu seperti Vaccinium sp. (tehgunung) dan Anaphalis viscida (candar nyawa)yaitu sejenis Edelweis yang dikenal sebagaibunga abadi dari suku Asteraceae (Mansur dkk.1995). Di zona sub-alpin ini substratumnyamerupakan bebatuan dan sedikit tanah yangmiskin unsur hara, oleh karena itu umumnya di93

Muhammad Mansurzona tersebut pohon-pohon jarang tumbuh danmenjadi beberapa jenis pionir yang terpencaratau hanya ditemukan di tempat-tempatterlindung, karena dalam kondisi suhu rendahdan kerapkali tanah yang miskin, prosespertumbuhan berlangsung sangat lambat(Steenis 2006).Syzygium formosum adalah jenis dari sukujambu-jambuan (Myrtaceae) yang mudahdikenal di dalam kawasan TNGR, jenis inimemiliki batang berwarna merah tua dan kulitbatangnya mengelupas seperti sisik udang, olehkarena itu masyarakat setempat menyebut jenisini ”Klokos udang”. Jenis tersebut banyakditemukan di bawah ketinggian 1200 m dpl.baik di kawasan sebelah utara maupun sebelahselatan TNGR. Platea excelsa dan Syzygiumformosum adalah dua jenis pohon yang dapatmencapai tinggi 30m di hutan primer Sebau.Petunga microcarpa (Banitan), Dendrocnidemicrostigma (Jelateng) dan Syzygium formosum(Klokos udang) adalah tiga jenis pohon yangdapat ditemukan disemua lokasi penelitian .KESIMPULANDitemukan ada dua tipe hutan di kawasanTaman Nasional Gunung Rinjani sebelahselatan, yaitu hutan sekunder yang ada dikawasan Pal-Belanda, Pengorot-1, Pengorot-2(Desa Jeruk Manis, Kecamatan Sikur) dan hutanprimer yang ada di kawasan Sebau (Desa Sapit,Kecamatan Suela). Dari seluruh plot yangdiukur (0,36 ha) diketemukan ada 36 jenispohon (diameter batang 5 cm) dari 449individu, 28 marga dan 21 suku dengan totalLuas Bidang Dasar sebesar 16,73 m2 (46.47 m2/ha). Jenis Saurauia pendula, Dendrocnidemicrostigma, Syzygium glomeruliferum, Syzygiumlaxiflorum dan Villebrunea rubescens adalah jenisjenis dominan yang ditemukan di kawasan hutansekunder, sedangkan jenis Platea excelsatercatat sebagai jenis dominan di kawasan hutanprimer di daerah Sebau. Keragaman jenis dihutan sekunder lebih beragam dari pada hutanprimer. Struktur dan komposisi vegetasi pohondi hutan sekunder dan hutan primer adalahberbeda dengan Indeks kesamaan hanya sebesar24,9%. Secara umum kondisi hutan di kawasansebelah selatan TNGR adalah cukup baik dan94tidak banyak terganggu oleh aktivitas manusia.UCAPAN TERIMA KASIHUcapan terima kasih disampaikan kepadaKepala Pusat Penelitian Biologi-LIPI danKepala Bidang Botani, Puslit Biologi-LIPI atasperhatian, kepercayaan dan dukungannyaselama penelitian berlangsung. Ucapan yangsama juga disampaikan kepada seluruh rekanrekan peneliti dan teknisi yang tergabung dalamkelompok penelitian LSI 2015 atas bantuannya.Penelitian ini didanai oleh Proyek DIPA 2015.DAFTAR PUSTAKAAnonim. 2014. Profil ODTWA Taman NasionalGunung Rinjani. Kementerian Kehutanan, Dirjen PHKA. Balai TamanNasional Gunung Rinjani. 30 Halaman.Borbour, MG., JH. Burk & WD. Pitts. 1987.Terrestrial Plant Ecology. The Benyamin/Cummings Publishing Company. California.Bray, J & JT. Curtis. 1957. An Ordination ofupland forest communities of SouthernWisconsin. Ecol. Monogr. 27: 325-329.Cox, G.W. 1967. Laboratory Manual ofGeneral Ecology. M.C. Crown, Iowa.Greigh-Smith, P. 1964. Quantitative PlantEcology. Secon Edition. Butterworth,London.Kurniawan, S., AB. Nasriyanto, Supriyanto,ASE. Budi & IG. Mertha. 2012. Bukupanduan pengenalan jenis pohon disepanjang jalur pendakian TamanNasional Gunung Rinjani. KementerianKehutanan, Dirjen PHKA, Balai TamanNasional Gunung Rinjani. 36 Halaman.Mansur, M., Y. Suehiro, T. Ochiai, J. Harigae,S. Okamoto, T. Kanda, N. Akira, T. Shibata &R. Higashiya. 1995. Survei Flora di TamanNasional Gunung Rinjani, Lombok. LaporanPerjalanan. Puslit Biologi-LIPI Kerjasamadengan UBE Tropical Plant, Yamaguchi,Japan.Mirmanto, E. 2014. Komposisi floristik danstruktur hutan di Pulau Natuna Besar,Kepulauan Natuna. Jurnal BiologiIndonesia 10(2): 201-211.Mueller-Dombois, D. & H. Ellenberg.1974.

Struktur dan Komposisi Jenis-Jenis Pohon di Taman Nasional Gunung RinjaniAims and methods of vegetation ecology.John Wiley & Sons, New York, London.Odum, EP. 1971. Fundamentals of ecology.W.B. Saunders Co., London.Richards, PW. 1996. The tropical rain forest.Cambridge University Press, Cambridge,575 pp.Sadili, A., D. Narko, S. Jakalalana & A.Kurniawan. 2015. Kajian strukturvegetasi di sekitar Kawinda To’i, TamanNasional Gunung Tambora, Nusa TenggaraBarat. Laporan perjalanan. Bidang Botani,Puslit Biologi-LIPI. 5 halaman.Steenis, CGGJ. 2006. Flora pegunungan Jawa.Terjemahan dari The Mountain Flora of Java.Puslit Biologi-LIPI, Bogor, Indonesia.Tobe, H., W. Shinohara, U. Nanda, H.Wiriadinata, D. Girmansyah, K. Oginuma, H.Azuma, T. Tokuoka, E. Kawaguchi, M. Kono& M. Ito. 2010. Plant diversity on LombokIsland, Indonesia: An Approach atidentification using DNA Barcodes. ActaPhyt. Geobot. 61(2): 93-108.Turner, IM. 2001. The Ecology of trees in thetropical rainforest. Cambridge UniversityPress.Wardani, W., A. Hidayat, EF. Tihura, A.Kartonegoro, LD. Sulistyaningsih, ES.Kuncari & EB. Walujo. 2012. Endemicplants of Mt. Rinjani: An outlook to theconservation strategy. Floribunda 4(5):107-112.Yusuf, R. 1995. Studi vegetasi hutan dikawasan Barat Daya Sumbawa, NTB.Laporan Teknik. Proyek Litbang danPendayagunaan Biota Darat tahun 1995/1996.Puslitbang Biologi-LIPI.95

Muhammad MansurLampiran 1. Data analisis vegetasi pohon pada plot 1 (Pal Belanda)Nama LatinBeilschmiedia lucidula (Miq.) Kosterm.Calophyllum soulattri Burm.F.Dendrocnide microstigma Chew.Glochidion philippicum C.B. Rob.Macaranga tanarius (L.) Muell. ArgMastixia trichotoma Bl.Palaquium obtusifolium Burck.Petunga microcarpa (Bl.) DC.Platea excelsa Bl.Polyosma integrifolia Bl.Pterospermum javanicum Jungh.Saurauia pendula Bl.Symplocos cochinchinensis (Lour.) MooreSyzygium cf. jamboloidesSyzygium formosum Wall.Syzygium glomeruliferum Amsh.Syzygium laxiflorum (Bl.) DC.Syzygium zippelianum Miq.Viburnum sambucinum Reinw ex. BlumeVillebrunea rubescens (Blume) .2890.0070.0320.0020.0082.395FR 815.567.411.8516.671.859.261.853.70100.00KR (%) DR (%)NP 3.2115.872.986.12300.00FR (%)KR (%)DR (%)NP 0.56300.00Lampiran 2. Data analisis vegetasi pohon pada plot 2 (Pengorot-1)Nama LatinAglaia spinosa (Blanco) Merr.Antidesma tetrandrum BlumeBeilschmiedia lucidula (Miq.) Kosterm.Calophyllum soulattri Burm.F.Dendrocnide microstigma Chew.Glochidion philippicum C.B. Rob.Gomphandra mappioides ValetonMastixia trichotoma Bl.Oreocnide cf. frutescens (Thunb.) Miq.Palaquium obtusifolium Burck.Petunga microcarpa (Bl.) DC.Polyosma integrifolia Bl.Pterospermum javanicum Jungh.Saurauia pendula Bl.Sloanea javanica (Miq.) SzyszSymplocos cochinchinensis (Lour.) MooreSyzygium cf. jamboloidesSyzygium formosum Wall.Syzygium glomeruliferum Amsh.Syzygium laxiflorum (Bl.) DC.Unidentified (Lempoak)Viburnum sambucinum Reinw ex. BlumeVillebrunea rubescens (Blume) 00.4010.1610.0470.1660.3070.0070.0210.0533.165

Struktur dan Komposisi Jenis-Jenis Pohon di Taman Nasional Gunung RinjaniLampiran 3. Data analisis vegetasi pohon pada plot 3 (Pengorot-2)Nama LatinAglaia spinosa (Blanco) Merr.Ardisia javanica A. DC.Beilschmiedia lucidula (Miq.) Kosterm.Dendrocnide microstigma Chew.Elaeocarpus floribundus Bl.Ficus septica Burm. F.Helicia serrata Bol.Mastixia trichotoma Bl.Palaquium obtusifolium Burck.Petunga microcarpa (Bl.) DC.Platea excelsa Bl.Pterospermum javanicum Jungh.Roufolvia sumatrana Jack.Saurauia pendula Bl.Symplocos cochinchinensis (Lour.) MooreSyzygium cf. jamboloidesSyzygium formosum Wall.Syzygium glomeruliferum Amsh.Syzygium laxiflorum (Bl.) DC.Syzygium laxiflorum (Bl.) DC.Unidentified (Lempoak)Villebrunea rubescens (Blume) BlumeJumlahLBD (m2/900m2)FR (%)KR (%)DR (%)NP 128.95300.00Lampiran 4. Data analisis vegetasi pohon pada plot 4 (Sebau)Nama LatinArdisia javanica A. DC.Dendrocnide microstigma Chew.Ficus ribes Reinw.Neonauclea excelsa (Bl.) Merr.Petunga microcarpa (Bl.) DC.Platea excelsa Bl.Pometia pinnata Forst.Roufolvia sumatrana Jack.Syzygium formosum Wall.Syzygium laxiflorum (Bl.) DC.Syzygium sp.Syzygium zippelianum 134.273.769.584.149.183.814.43300.00Keterangan: LBD Luas Bidang Dasar, FR Frekuensi Relatif, KR Kerapatan Relatif, DR Dominansi Relatif, NP Nilai Penting97

Muhammad MansurLampiran 5. Daftar jenis pohon (diameter batang 5 cm) pada luasan 0,36 ha di kawasan sebelah selatan Taman Nasional Gunung Rinjani, 5262728293031323334353698Nama anGegutuGumitriIloh - ilohJambu hutanJelatangJoetJukutKasolKatibangoKayu PlasKayu SimbasKlokos kLingsarNyet-nyetPepaoanPrinaRampang kulitRangkong MayongSaropanSenangSentul mulonSuaraTelur ujatUrem - uremNama LatinPetunga microcarpa (Bl.) DC.Villebrunea rubescens (Blume) BlumePterospermum javanicum Jungh.Calophyllum soulattri Burm. F.Platea excelsa Bl.Gomphandra mappioides ValetonAntidesma tetrandrum BlumeElaeocarpus floribundus Bl.Saurauia pendula Bl.Syzygium sp.Dendrocnide microstigma Chew.Syzygium zippelianum Miq.Syzygium glomeruliferum Amsh.Mastixia trichotoma Bl.Glochidion philippicum C.B. Rob.Sloanea javanica (Miq.) SzyszHelicia serrata Bol.Syzygium formosum Wall.Syzygium laxiflorum (Bl.) DC.Syzygium cf. jamboloidesBeilschmiedia lucidula (Miq.) Kosterm.Oreocnide cf. frutescens (Thunb.) Miq.Ficus septica Burm. F.UnidentifiedPometia pinnata Forst.Ficus ribes Reinw.Symplocos cochinchinensis (Lour.) MooreArdisia javanica A. DC.Syzygium laxiflorum (Bl.) DC.Viburnum sambucinum Reinw ex. BlumeMacaranga tanarius (L.) Muell. Arg.Neonauclea excelsa (Bl.) Merr.Palaquium obtusifolium Burck.Roufolvia sumatrana Jack.Aglaia spinosa (Blanco) Merr.Polyosma intergrifolia otaceaeApocynaceaeMeliaceaeSaxifragaceae